IN MEMORIAM BACHTIAR CHAMSYAH: Menjaga Api Perjuangan Badko HMI Sumut, Merawat Komitmen Kemahasiswaan, Keumatan dan Kebangsaan

0
1001563492

BERITAHMI.COM – Bismillahirrahmanirrahim. Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar berpulangnya Dr. H. Bachtiar Chamsyah, putra kelahiran Tiji, Sigli, Aceh, 31 Desember 1945, pada Kamis, 24 September 2026, pukul 19.20 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, meninggalkan duka yang dalam bagi keluarga, sahabat, keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam, dan dunia pengabdian kebangsaan. Ia berpulang pada usia 80 tahun. Kabar wafat tersebut telah dikonfirmasi sejumlah media dan pihak terkait.

Bagi publik, Bachtiar Chamsyah dikenal sebagai politisi nasional, anggota DPR RI, tokoh PPP, dan Menteri Sosial Republik Indonesia pada era Presiden Megawati Soekarnoputri serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, bagi keluarga besar HMI, terutama generasi HMI Cabang Medan dan Badko HMI Sumatera Utara, Bachtiar bukan semata-mata nama yang pernah menghuni panggung kekuasaan. Ia adalah bagian dari generasi yang di tempa oleh tradisi perkaderan, pergulatan intelektual, keberanian organisasi, serta pengabdian yang menjadikan kemahasiswaan, keumatan dan kebangsaan sebagai satu tarikan napas perjuangan.

Jejaknya di HMI bermula dari Medan. Bachtiar tercatat pernah Ketua Umum HMI Cabang Medan pada 1969. Dari Cabang Medan itulah perjalanan organisasinya bergerak ke tingkat regional hingga dipercaya memimpin Badko HMI Sumatera Utara/Sumatera Bagian Utara pada dekade 1970-an. Catatan sejarah yang tersedia mencantumkan periodisasi kepemimpinan Badko pada 1976–1978, sementara sumber sejarah lain mencatat 1976–1979. Perbedaan pencatatan ini justru mengingatkan kita bahwa sejarah organisasi harus terus dirawat melalui dokumentasi dan verifikasi yang tertib.

Saya mengenal Kakanda Bachtiar bukan hanya dari riwayat organisasi dan jabatan publiknya, tetapi dari pengalaman berinteraksi langsung ketika saya menjadi Sekretaris Umum Badko HMI Sumatera Utara. Ada pengalaman yang sampai hari ini melekat dalam ingatan: ketika Badko menghadapi kebutuhan pembiayaan program kerja, Kakanda Bachtiar adalah senior yang ringan tangan. Ia tidak banyak bertanya ketika mengetahui program kaderisasi dan aktivitas organisasi membutuhkan dukungan. Bahkan, ia dapat langsung menghubungi senior-senior Badko lainnya untuk bersama-sama membantu mengatasi kebutuhan tersebut. Bagi saya, sikap itu bukan sekadar soal materi, melainkan bentuk konkret tanggung jawab seorang senior terhadap keberlangsungan perjuangan generasi setelahnya.

Kakanda Bachtiar juga selalu mengingatkan satu hal yang sederhana tetapi fundamental: jangan pernah meninggalkan komitmen kemahasiswaan, keumatan dan kebangsaan. Kalimat itu penting karena HMI sejak awal memang tidak di desain hanya untuk melahirkan aktivis kampus, tetapi kader umat dan bangsa. Dalam perspektif Al-Qur’an, manusia tidak cukup hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual; ia di tuntut menghadirkan kemaslahatan sosial. Allah mengingatkan, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104). Bagi saya, pesan Kakanda Bachtiar memiliki ruh yang sejalan dengan amanat tersebut: ilmu, iman dan amal sebagai perjuangan harus menemukan bentuknya dalam pengabdian.

Ia adalah sosok yang lugas, tegas dan to the point. Dalam setiap perjumpaan, pembicaraan dengan beliau jarang berhenti pada nostalgia masa lalu. Selalu ada pesan tentang kaderisasi, organisasi dan tanggung jawab generasi. Ia seolah ingin mengatakan bahwa senioritas bukanlah sekadar usia atau sejarah jabatan, melainkan kemampuan membuka jalan bagi generasi berikutnya. Karena itu, seorang senior HMI tidak boleh hanya di kenang karena pernah menjadi ketua; ia harus diukur dari seberapa jauh ia mampu menjaga api perkaderan tetap menyala setelah dirinya meninggalkan panggung.

Kakanda Bachtiar memahami bahwa organisasi tanpa perkaderan akan kehilangan masa depan. HMI tanpa kader yang memiliki integritas intelektual dan moral akan kehilangan identitas. Dan kekuasaan tanpa orientasi pengabdian mudah berubah menjadi sekadar perebutan posisi. Dari HMI Cabang Medan, ia bergerak menuju Badko, kemudian memasuki dunia politik, parlemen dan pemerintahan. Perjalanan itu menunjukkan satu lintasan yang menarik: kaderisasi menjadi fondasi, politik menjadi ruang artikulasi, sementara pemerintahan menjadi arena untuk menerjemahkan gagasan ke dalam kebijakan publik.

Ketika akhirnya di percaya menjadi Menteri Sosial, Bachtiar membawa pengalaman panjang dari bawah. Ia pernah menjalani kehidupan sebagai pegawai honorer Pemerintah Kota Medan dan mengajar di sekolah sebelum memasuki politik secara lebih serius. Kemudian ia menjadi anggota DPRD Sumatera Utara, anggota DPR RI, memimpin sejumlah alat kelengkapan parlemen, hingga di percaya menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Gotong Royong dan selanjutnya Kabinet Indonesia Bersatu. Di sini terdapat pelajaran penting: perjalanan menuju panggung nasional tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan. Ia dapat tumbuh dari komisariat, cabang, ruang-ruang diskusi mahasiswa, dan kerja-kerja sosial yang dilakukan dengan tekun.

Tetapi seorang tokoh tidak seharusnya di kenang hanya melalui jabatan dan keberhasilannya. Rekam jejak manusia selalu memiliki kompleksitas. Bachtiar juga pernah menghadapi proses hukum setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Sosial. Fakta tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidupnya, tanpa menghapus seluruh pengabdian yang pernah dilakukannya dan tanpa pula menutup mata terhadap persoalan yang menjadi.

Bagi generasi HMI hari ini, wafatnya Bachtiar Chamsyah seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka dan seremoni tahlilan. Ada warisan yang jauh lebih penting untuk di rawat: keberanian berorganisasi, kesediaan membantu kader, kesetiaan kepada perkaderan, kepedulian terhadap persoalan keumatan, serta kesadaran bahwa pengabdian kepada bangsa harus melampaui kepentingan pribadi dan kelompok. Inilah api yang harus di jaga. Sebab apabila generasi penerus hanya mewarisi nama besar senior tanpa mewarisi etos perjuangannya, maka sejarah organisasi hanya akan menjadi album nostalgia. Padahal, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kedudukan duniawi, melainkan oleh ketakwaannya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Selamat jalan, Kakanda Dr. H. Bachtiar Chamsyah. Dari HMI Cabang Medan, Badko HMI Sumatera Utara, hingga panggung politik dan pemerintahan, jejak perjuangan Kakanda telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan seorang kader hijau hitam. Bagi saya pribadi, salah satu warisan yang paling berharga bukanlah jabatan yang pernah Kakanda duduki, melainkan pesan untuk terus menjaga komitmen kemahasiswaan, keumatan dan kebangsaan, serta tidak pernah meninggalkan perkaderan. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosa almarhum, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, serta menganugerahkan husnul khatimah. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran, ketabahan dan kekuatan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Semoga api perjuangan yang pernah dijaganya tidak padam, tetapi terus diteruskan oleh generasi HMI berikutnya. Al-Fatihah. Yakin Usaha Sampai.

Demikian.

Penulis Adalah : Adv. Muhammad Taufik Umar Dani Harahap, S.H. Praktisi Hukum, Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Medan Periode 1995-1996, Sekum Badko HMI Sumut Periode 1997-1999 Dan Ketua Bidang Hukum & HAM MW KAHMI Sumut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *