Pilihan Penuh Makna: Antara Rindu Berkumpul di Tiga Perhelatan Akbar dan Panggilan Jihad Kaderisasi HMI

0
1001571161

BALIKPAPAN, BERITAHMI.COM – Seharusnya hari-hari ini menjadi momen besejarah dan berharga bagi saya untuk hadir dan melepas rindu di tengah-tengah para kiai, guru, senior, serta sahabat seperjuangan. Betapa tidak, bersamaan waktunya, berlangsung tiga perhelatan penting yang sarat makna: pertama, Peringatan 1 Abad KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (17–20 September 2026), kedua, Peringatan Hari Jadi HUMANIKA (18 September 2026), serta ketiga, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) YAMALI Periode 2026–2029. Namun, dengan penuh kesadaran dan ketulusan, saya memilih melangkah ke Balikpapan, Fakfak, Menado untuk membersamai para tunas muda HMI, kader umat dan kader bangsa, dalam agenda Intermediate Training dan Senior Course.

Melalui tulisan ini, saya menyampaikan permohonan maaf yang tak terhingga sekaligus meneguhkan komitmen bahwa memilih jalan kaderisasi adalah ikhtiar merawat intergritas dan martabat bangsa.

Memori Abadi Seabad Gontor dan Mata Rantai Peradaban

Permohonan maaf yang tak terhingga saya sampaikan kepada para kiai, guru, senior, dan sahabat seangkatan di Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo yang saat ini sedang berkumpul memperingati 1 Abad Pondok Modern Gontor. Salam dan doa terkhusus saya panjatkan untuk yang mulia Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal, Ustadz KH. Akrim, dan Prof. Dr. KH. Hamid Fahmi Zarkasyi, beserta seluruh guru, senior, dan sahabat. Semoga senantiasa dalam lindungan rahmat Allah SWT sehingga dapat terus menunaikan aktivitas serta berkhidmah sesuai profesi di tempat masing-masing.

Tanpa terasa, Gontor telah mencapai usia 100 tahun atau satu abad. Saya teringat tepat 50 tahun yang lalu, ketika kita semua berada di Gontor untuk memperingati dan tasyakuran setengah abad Pondok Modern Gontor. Acara tersebut pada masa itu dihadiri oleh Presiden RI Jenderal HM Soeharto, Menteri Agama RI Prof. Dr. Ahmad Mukti Ali, Prof. Dr. Buya Hamka, Ketua MPR RI Prof. Dr. Idham Chalid, serta sejumlah tokoh nasional lainnya. Saat itu, Gontor masih dipimpin oleh Pak Zarkasyi selaku Pimpinan Pondok Gontor, Pak Ahmad Sahal selaku Pengasuh Gontor, dan Pak Badri selaku Direktur KMI.

Kepada kawan seangkatan, senior, maupun yunior, selama di Gontor kita diasuh secara teratur dan terurus penuh kasih, tanpa diskriminasi, bagai ibu kandung. Kita dirancang selama 24 jam, dari sholat subuh hingga sholat subuh lagi, dengan disiplin yang bernilai dan berwatak kemanusiaan, agar kita tumbuh menjadi manusia befitrah kamil. Manusia yang terbebas dari belenggu mitologi, desakralitas dan berbagai dimensi irasionalitas lainnya. Kita bergaul, saling memperkuat persaudaraan, mengintegrasi kohecivitas sosial, dan saling membesarkan cita cita, mewujudkan kemandirian yang merdeka tanpa penindasan dan diskriminasi antara satu dan lainnya, meski kita semua terlahir dari rahim dan suku bangsa yang berbeda-beda. Namun, dari Gontor kita tumbuh, saling berinteraksi, membaur secara kreatif, bercengkrama, tertawa senang, marah dan garang, hingga membangun imajinasi sosial masa depan. Semua itu merupakan proses bagi setiap kita untuk menemukan fitrah kesejatian masing-masing.

Berbagai memori tersimpan di sudut-sudut ruang: kamar shighor baru di gedung baru, masjid, ruang swindu di RITA, ruang swindu di Indonesia Dua, ruang muhadharah, lapangan pramuka, lapangan bola, meja tenis di samping BPM, aula BPM, dapur umum, dapur Bu Ajid, dapur Mesir, dapur Bu Sholeh, gubuk tongkrongan di barat percetakan Trimurti, Komas, gedung belajar Asia, Komsol, hingga Satelit. Semua itu menjadi tempat pergumulan kreatif, renungan kritis, untuk mengasah kelebutan batin, ketajaman pikiran, dan gerakan yang telah menjadikan kita anak-anak umat Indonesia. Alunan syair Abu Nawas yang berkumandang mengawali salat kita, serta lagu Himne Oh Pondokku telah mengasah batin dan meneguhkan spirit kita untuk kuat serta tabah menjadi santri Gontor.

HUMANIKA dan Rumah Besar Aktivis Indonesia

Ucapan dan apresiasi turut saya sampaikan kepada Bang Bursah dan keluarga besar aktivis HUMANIKA yang memperingati 36 tahun HUMANIKA. Sebagai rumah besar aktivis Indonesia, HUMANIKA turut berkhidmah mewarnai perjalanan demokrasi di tanah air. Pergumulan aktivis HUMANIKA ikut mewarnai perjuangan untuk tegaknya nilai kemanusiaan yang berkeadilan dan berkesetaraan. HUMANIKA merajut jahitan jaringan aktivis dari semua elemen pergerakan tanpa memandang perbedaan suku dan agama, demi bersama-sama berkomitmen mengawal perjalanan keindonesiaan kita menuju tercapainya cita-cita kemerdekaan.

YAMALI dan Ikhtiar Menjadikan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam

Kepada sahabat-sahabat pengurus YAMALI (Yayasan Amal Lamakera Se-Indonesia) Periode 2026 -2029, organisasi yang menghimpun kaum terdidik, terpelajar, dan diaspora Lamakera se-Indonesia- meskipun usianya masih sangat belia, di sinilah kita berhimpun untuk memperkuat soliditas, memperlebar jaringan, dan memperkuat network. Langkah ini kita ambil untuk bersama-sama melanjutkan gagasan besar serta ide-ide mulia para tokoh penggerak, guru, pemikir, dan ideolog guna menjadikan Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam (LEPI).

Karya mereka yang tulus tanpa pamrih di tengah keterbatasan modal dan kapasitas untuk bertarung di medan yang sarat dengan dilema, mitos, sakralitas, pandangan irasional, serta kondisi alam dan transportasi yang belum mendukung, membuktikan bahwa iman, ketulusan, dan kepasrahan adalah senjata integritas yang memandu jalan jihad membangun peradaban umat. Episode gerakan pendidikan dan dakwah untuk memperbesar nyala api Islam di seantero Pulau Flores, Alor, dan Timor ditempuh melalui jalan berliku dan terjal. Terpaan badai dan gelombang tidak menyurutkan iman serta logika, meski tanpa dukungan logistik yang kuat di medan jihad.

Panggilan Suci Perkaderan: Memilih Hadir Bersama Tunas Muda HMI di Balikpapan

Tiga perhelatan besar berlangsung hampir bersamaan: Tasyakuran 1 Abad KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (17–20 September 2026), Peringatan 36 Tahun HUMANIKA (18 September 2026), serta Rakernas YAMALI Periode 2026–2029 yang baru saja usai. Ketiganya dengan berat hati saya absen.

Secara pribadi saya menyampaikan permohonan maaf seraya mengiringinya dengan doa-doa terbaik. Sejak tanggal 17 September, saya telah berada di Balikpapan untuk membersamai agenda _Intermediate Training dan Senior Course_. Insya Allah, nanti sore saya akan segera bergeser ke Fakfak, Papua, dengan agenda perkaderan yang sama, transit di Makassar sesuai rute penerbangan.

Tentu, saya memilih dan memprioritaskan hadir di medan training HMI, serta tidak bersama kawan-kawan, sahabat senior, guru, dan kiai. Bagi saya, memperkuat training adalah jalan menyelamatkan martabat umat dan bangsa, serta mengeskalasi bobot peradaban umat, bangsa, dan negara. Di arena training, kita berperan strategis untuk menyemai benih menjadi bibit yang kelak tumbuh menjadi kader di garda terdepan, melebarkan sayap, dan menjadi perisai yang memartabatkan serta menjayakan kehidupan umat dan bangsa melalui tata nilai peradaban yang kuat.

Oleh karena itu, proses pelembagaan tujuh doktrin fundamental dalam NDP HMI harus terus dinarasikan agar terbentuk menjadi sistem berpikir atau paradigma pemikiran gerakan kader HMI. Dari sinilah kader HMI memiliki falsafah perjuangan untuk kelak ikut serta menjadi aktor dalam merebut perubahan melalui tata kelola bernegara. Kader HMI tanpa visi ideologis yang berbasis pada bangunan paradigmatik Islam dan keindonesiaan yang kuat akan membuat Indonesia sebagai negara bangsa yang berdiri di atas nilai ideologis Pancasila ini menjadi karam.

Refleksi Kebangsaan: Menjaga Otentisitas Indonesia di Tengah Badai Global

Percaya atau tidak, dewasa ini Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam, namun terkaram dalam lilitan atmosfer reformasi, diempas badai kapitalisme, marxisme, liberalisme, sosialisme, dan isme-isme lainnya. Pertanyaan pentingnya: di mana Pancasila? Di mana nilai luhur agama dan budaya yang menjadi ikatan penguat ruhani bangsa?

Di sinilah Indonesia memasuki babakan baru, yakni kehilangan bentuk otentiknya sebagai negara bangsa. Indonesia kini telah bergeser dari spektrum cita-cita politik ideologis para pendiri bangsa, terinjak oleh kaki-kaki oligarki akibat reduksi politik irasional yang absurd. Anehnya lagi, konon para penggiat Reformasi 1998 yang gagah, heroik, dan idealis yang dulu mengenakan baju pergerakan yang lusuh, celana kusam, dan sepatu karet yang lecet, kini telah berubah menjadi berjas rapi, berdasi, bercelana licin, dan bersepatu mengkilat. Namun, mereka tidak lebih dari sekadar mandor yang berburuh dolar di atas lahan batubaru, nikel, uranium, gas bumi, sawit, aspal, boksit, emas, dan logam milik rakyat. Keniscayaan itu telah berubah, di mana hak milik rakyat yang sah diambil alih secara paksa oleh pemilik modal dan kekuatan asing atas rekomendasi serta surat izin penyelenggara negara.

Itulah yang menjadi sumber keprihatinan dan kesadaran saya, sehingga saya lebih memilih hadir membersamai adik-adik tunas belia umat dan bangsa di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Merekalah sesungguhnya pemilik sah masa depan; merekalah penerus risalah perjuangan para pemikir ideologis pendiri bangsa; merekalah pelanjut nyala api penerang peradaban di masa depan.

Pada hakikatnya, wajah konstruktif peradaban bangsa dan negara di masa depan sejatinya terletak pada kualitas religiusitas, inteligensia, dan moralitas atau singkatnya, integritas kaum muda terdidik hari ini. Jika wajah kaum muda itu coreng-moreng, kusam, tidak berkualitas, lecet moralitas, minus visi dan cita-cita, sudah pasti bangsa yang besar ini, dengan sumber daya alam yang berlimpah serta khazanah pluralitas agama dan budaya serta kuantitas umat Muslim terbesar di dunia akan turut terdampak kusam dan redup tanpa orientasi.

Namun demikian, sebagai aktivis pergerakan dan instruktur sekolah kader, kita terus merawat kejernihan untuk menjadi pemandu jalannya arah perubahan ke depan dalam konteks pembangunan peradaban yang berkeadaban.

Meskipun ada kerinduan yang mendalam untuk bertemu teman, kawan seangkatan, senior, yunior, para guru, dan kiai di keluarga besar Pondok Modern Gontor, semuanya saya urungkan demi khidmat perkaderan HMI. Begitu pula halnya dengan Bang Bursah dan HUMANIKA, saya berhalangan hadir. Demikian juga dengan Rakernas YAMALI yang tadi malam tidak dapat saya ikuti secara intensif karena sedang menyampaikan materi.

Langkah ini bukanlah suatu pilihan yang bersifat diskrimanasi, melainkan refleksitas dari pandangan dan sikap hidup. Saya menghandar untuk hadir di event yang beesejarah, 1 abad KMI Pondok Modern Darussalam Gontor di Gontor dan HUMANIKA Jakarta, dan lebih memilih untuk menghadiri undangan sebagai pemateri di forum training HMI, selain waktu yang jatuh bersamaan, desakan rindu pada kawan kawan kecilku, tetapi saya datang ke HMI adalah perjumpaan dengan masa depan. Sebab wajah peradaban bangsa di masa depan tergantung construsi epistimik maupun ideologis kepemudaan, daya intelegencia dan moralitas atau integrity kaum muda hari ini, olehanya saya memiih hadir di forum untuk menalarkan daya fikir dan mengurai narasi dan rasiionalitas kaum muda berbasis pada tauhid.

Kepada Dr. Alwan Suban, Dr. M. Thaher Maloko, Dr. Malik Usman, Dr. Khaedir, dan semuanya, semoga selalu kompak. Insya Allah, sambil berjalan kita akan terus saling berbenah dengan pendekatan yang humanis, santun, dan elegan.

Insya Allah, nanti sore saya akan melanjutkan rute agenda perkaderan ke Fakfak. Mohon doa dari kawan dan sahabat semua.

Balikpapan,

19 September 2026

Penulis Adalah : MHR Shikka Songge

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *