Kadisdik Makassar Achi Soleman: Investasi Terbesar Hari Ini Adalah Pendidikan

0
Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, membuka Rembuk Pendidikan Jilid I Badko HMI Sulawesi Selatan di Ballroom Teater Phinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (7/10/2026). Foto Ist

Beritahmi.com | Makassar—Sekitar 400 kepala sekolah tingkat SD dan SMP se-Kota Makassar berkumpul dalam Rembuk Pendidikan Jilid I Badko HMI Sulawesi Selatan di Ballroom Teater Phinisi, lantai 3, Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (7/10).

Forum yang mengusung tema “Rekonstruksi Peradaban: Kualitas Insan Cita” itu mempertemukan kepala sekolah, pemerintah daerah, akademisi, praktisi pendidikan, organisasi kepemudaan, dan mahasiswa untuk membicarakan arah pendidikan Makassar.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, membuka langsung kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Achi menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Menurut Achi, pemerintah perlu menjadi penghubung berbagai elemen pendidikan agar persoalan di sekolah dapat dibaca dan diselesaikan secara bersama.

“Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Pemerintah menjadi titik simpul,” kata Achi.

Ia mengatakan pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi. Karena itu, pembangunan pendidikan tidak cukup diukur dari pembangunan gedung dan infrastruktur sekolah.

Kualitas pembelajaran, karakter peserta didik, pemerataan layanan, kualitas tenaga pendidik, serta kemampuan sekolah menghadapi perubahan juga menjadi bagian penting dalam pembangunan pendidikan.

“Tidak ada satu pun anak yang tertinggal,” ujar Achi.

Achi juga mengapresiasi inisiatif Badko HMI Sulsel yang mempertemukan berbagai unsur pendidikan dalam satu forum. Menurut dia, kolaborasi diperlukan agar pembahasan pendidikan tidak berjalan dalam ruang yang terpisah-pisah.

Ia mengatakan pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan sekolah swasta sebagai bagian dari upaya memperluas akses dan pemerataan pendidikan di Kota Makassar.

Pendidikan Dimulai dari Ruang Kelas

Persoalan pendidikan dalam Rembuk Pendidikan tidak hanya dibaca dari sisi kebijakan pemerintah, tetapi juga dari apa yang berlangsung setiap hari di ruang kelas.

Koordinator Steering Rembuk Pendidikan Badko HMI Sulsel, Fadel Sofyan, mengatakan perubahan pendidikan harus dimulai dari lingkungan sekolah.

Menurut Fadel, guru merupakan salah satu aktor utama yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Karena itu, penguatan pendidikan harus menyentuh kualitas, keteladanan, serta ruang kerja guru.

“Kalau kita ingin melihat perubahan pendidikan, lihat apa yang terjadi di ruang kelas. Di sanalah karakter, pengetahuan dan masa depan anak-anak kita dibentuk,” kata Fadel.

Fadel menilai persoalan pendidikan tidak semestinya diselesaikan melalui pertentangan antara mahasiswa, guru, kepala sekolah maupun pemerintah.

Kritik, kata dia, harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem pendidikan.

“Jangankan demo, kami tidak rela ada guru kami yang didemo,” ujarnya.

Menurut Fadel, Rembuk Pendidikan bukan forum milik HMI semata, melainkan ruang bersama untuk membongkar persoalan pendidikan dan mencari jalan keluar yang dapat dikawal secara berkelanjutan.

“Rembuk Pendidikan bukan acara saya dan bukan acara HMI. Ini tentang bagaimana kita membongkar persoalan yang ada, lalu memastikan ada gerakan setelahnya,” kata Fadel.

Ia juga menyinggung sejumlah keresahan di dunia pendidikan, termasuk penerimaan murid baru dan ketimpangan layanan pendidikan antarwilayah di Kota Makassar.

Pangadakkang dan Karakter Generasi

Selain kualitas pembelajaran, Rembuk Pendidikan mengangkat kembali persoalan karakter dan nilai budaya.

Achi menyoroti pentingnya menghadirkan kembali nilai pangadakkang dalam kehidupan peserta didik.

Pangadakkang dipahami sebagai seperangkat nilai yang berkaitan dengan adab, tata krama, penghormatan, dan cara menempatkan diri dalam kehidupan sosial.

Nilai tersebut dinilai relevan dengan tantangan pendidikan yang tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab sosial.

Bagi Achi, pendidikan harus membentuk generasi yang memiliki kemampuan berpikir sekaligus pijakan nilai.

“Investasi terbesar saat ini adalah investasi pendidikan,” kata dia.

HMI: Rembuk Tak Boleh Berhenti di Kertas

Ketua Panitia Rembuk Pendidikan Badko HMI Sulsel, Isran alias Icank, mengatakan forum tersebut merupakan ikhtiar intelektual untuk membaca persoalan pendidikan secara kritis, objektif, dan konstruktif.

Menurut Isran, Rembuk Pendidikan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif sekaligus merumuskan rekomendasi yang dapat memberikan kontribusi bagi pendidikan di Sulawesi Selatan.

“Forum ini kami hadirkan sebagai ruang bertukar gagasan, mempertemukan berbagai perspektif, serta merumuskan rekomendasi yang dapat menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan,” kata Isran.

Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual HMI dalam menjalankan peran sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

Namun, ia menegaskan hasil rembuk tidak boleh berhenti pada diskusi.

“Kami berharap Rembuk Pendidikan ini tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi melahirkan gagasan, rekomendasi dan langkah nyata yang dapat dikawal secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pelaksanaan Rembuk Pendidikan tersebut juga didukung kolaborasi antara Bidang Pendidikan dan Pengembangan Beasiswa Badko HMI Sulsel Abd Razak Usman dengan Sabaruddin, Ketua Bidang Pengembangan Anggota (PA) Badko HMI Sulsel.

LP3 Atlantara: Dari Rembuk Menuju Pengawalan

Upaya menjadikan Rembuk Pendidikan sebagai gerakan tidak berhenti pada rekomendasi.

Di hadapan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, forum tersebut memperkenalkan Lembaga Pemantau dan Pemerhati Pendidikan (LP3) Atlantara.

Lembaga tersebut digagas sebagai bagian dari upaya memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam memantau dan memperhatikan persoalan pendidikan di Kota Makassar.

Fadel mengatakan gagasan tersebut lahir dari keinginan agar hasil Rembuk Pendidikan tidak berakhir sebagai dokumen yang tersimpan di atas meja.

Menurut dia, pengawalan pendidikan membutuhkan kesinambungan, keterlibatan masyarakat, serta ruang partisipasi yang konstruktif.

Salah satu semangat yang dibawa adalah memastikan kepala sekolah dan guru dapat bekerja secara aman, profesional, dan berwibawa, sekaligus memastikan peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang layak.

Munafri: Pendidikan Tak Bisa Dikerjakan Sendiri

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan persoalan pendidikan merupakan pekerjaan besar yang tidak dapat diselesaikan pemerintah seorang diri.

Menurut Munafri, pemerintah memiliki posisi untuk mempertemukan berbagai elemen agar dapat bersama-sama memperbaiki kualitas pendidikan.

Ia mengatakan pembangunan pendidikan tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga kualitas dan arah pendidikan yang ingin dibangun.

Karena itu, pemerintah perlu mendengarkan berbagai pihak, termasuk kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

“Di dunia pendidikan tidak ada yang tidak prioritas. Kita duduk bersama,” ujarnya.

Munafri menilai pembangunan pendidikan merupakan tanggung jawab jangka panjang karena berkaitan langsung dengan masa depan generasi bangsa.

“Apa yang menjadi kualitas, seperti apa pendidikan harus kita bawa. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan bagi generasi bangsa kita,” kata dia.

Dari Rembuk Menjadi Gerakan

Rembuk Pendidikan Jilid I Badko HMI Sulsel akhirnya tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan antara mahasiswa dan pemerintah. Forum tersebut mempertemukan mereka yang berada di garis depan pendidikan dengan pihak yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan.

Persoalan guru, kepemimpinan sekolah, pemerataan pendidikan, penerimaan murid, karakter peserta didik, hingga nilai pangadakkang bermuara pada satu pertanyaan: bagaimana pendidikan membentuk manusia yang berkualitas sekaligus berkarakter?

Bagi Badko HMI Sulsel, jawabannya tidak cukup ditulis dalam rekomendasi.

Gagasan tersebut harus diterjemahkan menjadi gerakan, dikawal melalui kolaborasi, dan diuji dalam praktik.

Dengan hadirnya LP3 Atlantara, Rembuk Pendidikan diarahkan untuk memiliki ruang pengawalan yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, “Rekonstruksi Peradaban: Kualitas Insan Cita” bukan sekadar tema kegiatan. Ia menjadi gagasan yang ingin dibawa dari ruang rembuk menuju praktik pendidikan.

Muliakan pendidikan hari ini, demi hari esok, peradaban mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *