HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapsel Gelar Diskusi Dengan Tema Api, Asap dan Kekuasaan

0
1001525688

PADANGSIDIMPUAN, BERITAHMI.COM — Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan Periode 2026–2027 menggelar diskusi publik dengan tema “Api, Asap dan Kekuasaan: Membaca Politik Ekologi dan Ancaman Karhutla di Tapanuli Selatan”. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh komisariat se-kawasan HMI Cabang Padangsidimpuan – Tapanuli Selatan. dilaksanakan di Aula Bina Insani, Senin ( 14/09/2026).

Diskusi menghadirkan Dr. Khoiruddin Nasution, SE., M.SP. sebagai narasumber. Kehadiran narasumber diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif kepada kader HMI dalam memahami persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya dalam kaitannya dengan kebijakan publik, tata kelola lingkungan, kepentingan ekonomi, serta relasi kekuasaan.

Mengangkat tema “Api, Asap dan Kekuasaan”, ketua umum HMI cabang sidimpuan-Tapanuli Selatan Johan siregar menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya memandang Karhutla sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai persoalan multidimensional yang memiliki keterkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, politik, dan kebijakan pembangunan.

Hery Nasution selaku ketua bidang pembinaan anggota menyampaikan bahwa pada saat ini daerah kita sedang merasakan dampak daripada karhutla itu sendiri. Mengingat bahwa Tapanuli Selatan khusus nya itu memiliki jumlah luas hutan yang sangat luas serta banyak hal yang hidup di dalam hutan tersebut baik flora dan fauna bahkan manusia sendiri. Maka daripada itu tidak menutup kemungkinan bahwa kejadian serupa bisa saja terjadi di Tapanuli Selatan maka dengan agenda diskusi ini kader HMI cabang sidimpuan-Tapanuli Selatan lebih perduli terhadap lingkungan khususnya hutan.

Dalam pemaparannya, Dr. Khoiruddin Nasution, SE., M.SP. mengajak peserta untuk melihat persoalan lingkungan secara lebih kritis dan struktural. Karhutla tidak cukup dipahami hanya dari peristiwa munculnya api dan asap, tetapi perlu dibaca dengan melihat faktor penyebab, pola pengelolaan ruang dan lahan, kebijakan pemerintah, serta aktor-aktor yang memiliki kepentingan terhadap sumber daya alam.

Perspektif politik ekologi menjadi penting dalam membaca persoalan tersebut karena lingkungan pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat relasi antara masyarakat, negara, kepentingan ekonomi, dan kekuasaan yang turut menentukan bagaimana sumber daya alam dikelola dan dimanfaatkan.

Ancaman Karhutla di Tapanuli Selatan kemudian menjadi salah satu fokus pembahasan. Kondisi ekologis yang rentan, perubahan tata guna lahan, aktivitas manusia, serta efektivitas pengawasan dan kebijakan lingkungan menjadi sejumlah aspek yang perlu dikaji secara kritis dan berbasis data.

Dr. Khoiruddin Nasution, SE., M.SP. juga memberikan ruang kepada peserta untuk mengembangkan perspektif dan argumentasi terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di daerah. Diskusi berlangsung sebagai ruang pertukaran gagasan antara narasumber dan kader HMI dari berbagai komisariat.

Peserta yang berasal dari seluruh komisariat se-kawasan HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan turut menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta analisis mengenai persoalan lingkungan dan ancaman Karhutla. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu ekologis memiliki relevansi yang kuat dengan agenda intelektual dan gerakan mahasiswa di daerah.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan dalam memperkuat tradisi intelektual kader. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami persoalan lingkungan secara teoritis, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dan politik yang berada di balik berbagai persoalan ekologis.

Melalui diskusi tersebut, HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan Periode 2026–2027 mendorong lahirnya kesadaran ekologis di kalangan kader serta membangun keberanian intelektual untuk mengawal kebijakan publik yang berkaitan dengan lingkungan.

Persoalan Karhutla, sebagaimana menjadi pokok pembahasan dalam forum bersama Dr. Khoiruddin Nasution, SE., M.SP., perlu ditempatkan sebagai persoalan publik yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan kelompok masyarakat sipil memiliki tanggung jawab bersama dalam memastikan pengelolaan lingkungan berjalan secara berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Melalui kegiatan “Api, Asap dan Kekuasaan”, HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan Rahmad Fauzi Harahap selaku moderator dalam kegiatan diskusi tersebut menegaskan bahwa tradisi diskusi dan kajian harus menjadi bagian dari gerakan mahasiswa dalam membaca persoalan daerah. Dari ruang-ruang intelektual semacam inilah diharapkan lahir gagasan, kritik, serta rekomendasi yang dapat berkontribusi terhadap upaya pencegahan dan penanganan ancaman Karhutla di Tapanuli Selatan.

 

**HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan Periode 2026–2027**

*“Membaca Lingkungan, Mengkritisi Kekuasaan, dan Merawat Masa Depan.”*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *