September Hitam, Menolak Lupa, Merawat Ingatan, Keadilan HAM Masih Dipertanyakan
BERITAHMI.COM – September kembali hadir. Bagi sebagian orang, September mungkin hanya bulan biasa yang datang dan pergi. Namun, bagi sebagian lainnya, September menjadi waktu untuk kembali mengingat berbagai peristiwa kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Istilah “September Hitam” menjadi simbol untuk mengenang sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang meninggalkan luka bagi korban, keluarga, dan masyarakat.
Menolak lupa bukan berarti membuka kembali kebencian terhadap masa lalu. Menolak lupa merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang pernah menjadi korban. Sebab, di balik setiap peristiwa sejarah terdapat manusia yang kehilangan kehidupan, keluarga, kebebasan, maupun rasa keadilan.
Persoalan HAM masa lalu juga tidak cukup hanya dikenang setiap tahun. Masih adanya kasus yang belum sepenuhnya menemukan titik terang menunjukkan bahwa perjalanan menuju keadilan masih membutuhkan perhatian. Bagi korban dan keluarga korban, keadilan bukan hanya tentang hukuman, tetapi juga tentang kebenaran, kepastian, dan pengakuan atas apa yang telah mereka alami.
Di sinilah negara dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Negara memiliki tanggung jawab untuk memperkuat penegakan dan perlindungan HAM. Sementara masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki tanggung jawab untuk menjaga ingatan dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan kemanusiaan.
Generasi muda tidak harus mengalami langsung sebuah peristiwa untuk dapat mengambil pelajaran. Membaca, berdiskusi, dan memahami sejarah dengan pikiran terbuka menjadi salah satu cara untuk merawat ingatan. Dari sejarah, kita belajar bahwa hukum bukan hanya tentang aturan, tetapi juga tentang keadilan dan kemanusiaan.
September Hitam pada akhirnya bukan sekadar tentang mengenang masa lalu. Ia menjadi pengingat agar kesalahan yang sama tidak kembali terjadi. Merawat ingatan berarti menjaga kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak yang harus dihormati.
Karena itu, September dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan HAM. Menolak lupa bukan untuk memelihara luka, melainkan untuk memastikan bahwa sejarah menjadi pelajaran dalam membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi.
Penulis Adalah : Assril, Kader HMI Cabang Tanjungpinang-Bintan
