Meneladani Tujuh Misi Kenabian

0
1001458665

BERITAHMI.COM – Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya menjadi momentum untuk memperkuat tekad meneladani misi beliau sebagai pembawa risalah yang mencerahkan umat. Kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diekspresikan melalui peringatan, tetapi harus dibuktikan dengan menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munīr menjelaskan tujuh fungsi dan tujuan penugasan Nabi SAW, ketika menafsirkan QS al-Ahzab [33]: 45–48. Dalam tulisan ini disebut “tujuh misi kenabian” yang tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan umat hari ini.

Pertama, menjadi saksi (syāhidan). Rasulullah SAW menjadi saksi atas sikap umat terhadap risalah yang beliau bawa: apakah diterima, diikuti, atau justru ditolak. Kesaksian itu berlangsung di dunia dan kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Meneladani Nabi sebagai syāhidan berarti menjadikan kehidupan kita sebagai kesaksian atas kebenaran Islam. Di tengah maraknya kebohongan, manipulasi informasi, korupsi, dan kepalsuan di ruang digital, seorang Muslim mesti hadir dengan kejujuran, amanah, keadilan, dan integritas.

Islam seharusnya dapat “dibaca” melalui perilaku umatnya. Jangan sampai seseorang lantang berbicara idealisme di media sosial, tetapi buruk dalam amanah, mudah menyebarkan fitnah, dan berlaku tidak adil dalam kehidupan nyata.

Kedua, membawa kabar gembira (mubasysyiran). Nabi SAW bertugas menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan taat berupa rahmat, pahala, dan surga. Dakwah Nabi dengan demikian menghadirkan harapan, motivasi dan optimisme.

Menariknya, kabar gembira disebut lebih dahulu daripada peringatan. Dakwah dan tarbiyah mestinya lebih banyak menguatkan, menyemangati, dan membangkitkan harapan daripada membuat orang merasa takut, tertekan, atau kehilangan masa depan.

Di tengah banyaknya generasi muda yang menghadapi tekanan belajar, persaingan, kecemasan masa depan, dan derasnya pengaruh media sosial, agama harus hadir sebagai sumber kekuatan. Pendakwah, guru, dan orang tua hendaknya lebih banyak membuka jalan harapan, bukan mengumbar cercaan dan sering menyalahkan.

Ketiga, memberi peringatan (nadzīran). Nabi SAW juga bertugas memberi peringatan kepada mereka yang durhaka, membangkang, dan menolak kebenaran. Dengan demikian, dakwah Nabi seimbang antara kabar gembira dan peringatan.

Peringatan bukan berarti menebar ancaman atau memaksa orang dalam beragama. Manusia memiliki kecenderungan melampaui batas, sehingga membutuhkan rambu-rambu agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Seperti pengendara membutuhkan tanda peringatan di jalan yang berbahaya, manusia juga membutuhkan batas moral. Di era kebebasan digital, misalnya, tidak semua yang dapat dilakukan layak dilakukan; tidak semua yang viral benar, dan tidak semua yang menguntungkan secara materi dibenarkan agama.

Keempat, menyeru kepada Allah (dā‘iyan ilallāhi bi-idznih). Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengajak manusia beribadah, taat, dan mendekat kepada Allah. Semua itu dilakukan “dengan izin-Nya”, yakni atas perintah dan kehendak Allah.

Orientasi dakwah Nabi sangat jelas: mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Karena itu, dakwah tidak boleh berubah menjadi sarana membangun kultus pribadi, memperbesar pengikut, mengejar popularitas, atau mempertajam fanatisme kelompok.

Era media sosial menghadirkan godaan besar bagi para dai dan pendidik untuk mengejar jumlah pengikut, tanda suka, dan popularitas. Ukuran keberhasilan dakwah bukan seberapa terkenal pendakwahnya, tetapi seberapa dekat manusia kepada Allah setelah mendengar dakwahnya. Tentu, kita tetap berharap Allah pilih dan izinkan sebagian ulama yang dicintai banyak umat (popular) dan semoga Allah jaga hati mereka agar ikhlas berdakwah.

Kelima, menjadi pelita yang menerangi (sirājan munīrā). Nabi Muhammad SAW diibaratkan sebagai pelita yang menerangi kegelapan. Melalui pribadi, ajaran, dan keteladanannya, manusia memperoleh petunjuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Syekh Wahbah al-Zuhaili menarik perhatian pada penggunaan kata “pelita”, bukan matahari. Cahaya matahari dapat menyilaukan, sedangkan cahaya pelita menerangi dengan nyaman; kata munīr menegaskan bahwa pelita itu benar-benar memberikan cahaya yang menyelamatkan.

Jadilah pribadi yang mencerdaskan, menenangkan, dan memberikan solusi. Di tengah banjir informasi, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi, seorang Muslim seharusnya membantu menjernihkan keadaan, bukan menambah keruh suasana.

Jadilah cahaya melalui ilmu, akhlak, dan karya. Kehadiran kita semestinya membuat keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, dan ruang digital menjadi lebih baik karena manfaat yang kita berikan.

Keenam, menyampaikan karunia besar bagi orang beriman. Nabi diperintahkan menyampaikan kabar gembira bahwa orang-orang yang beriman dan menaati risalahnya memperoleh karunia besar dari Allah. Syekh Wahbah menjelaskan bahwa karunia itu berupa keutamaan dan pahala agung di akhirat.

Pesannya jelas: iman harus melahirkan harapan sekaligus amal. Seorang mukmin tidak cukup hanya merasa dirinya beriman, tetapi harus membuktikannya dengan kesungguhan bekerja, belajar, berkarya, menolong sesama, dan memperjuangkan kebaikan.

Umat Islam hari ini membutuhkan lebih banyak mukmin yang aktif-produktif dan memberi manfaat. Kesalehan pribadi harus berkembang menjadi kesalehan sosial: peduli terhadap pendidikan, kemiskinan, lingkungan, kemanusiaan, serta kemajuan masyarakat.

Ketujuh, teguh dalam dakwah dan bertawakal kepada Allah. Nabi SAW diperintahkan untuk tidak mengikuti kehendak orang-orang kafir dan munafik serta tidak larut dalam gangguan mereka. Beliau diperintahkan tetap menjalankan risalah dengan teguh, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Di era ini, intrik, godaan, dan tekanan datang dalam berbagai bentuk. Kepentingan material, ambisi kekuasaan, dan godaan popularitas dapat menyeret orang-orang yang semula idealis untuk larut dalam arus pragmatisme.

Karena itu, dibutuhkan keteguhan agar tidak ikut dalam barisan pemuja kuasa dan syahwat dunia. Prinsip tidak boleh digadaikan hanya demi jabatan, keuntungan, pengaruh, atau penerimaan kelompok tertentu.

Setiap perjuangan kebaikan juga pasti menghadapi kritik, penolakan, bahkan kebencian. Di era media sosial, satu gagasan baik pun dapat dengan mudah dipelintir, diserang, atau dihujani komentar negatif.

Namun, keteguhan bukan berarti menutup telinga terhadap semua kritik. Kritik yang konstruktif harus diterima sebagai bahan evaluasi, sedangkan fitnah, caci maki, dan kebencian jangan sampai menghentikan langkah dalam memperjuangkan kebaikan.

Di sinilah tawakal menemukan maknanya. Setelah berikhtiar dengan cara yang benar dan menjaga prinsip, seorang Muslim menyerahkan hasilnya kepada Allah, tanpa menjadikan pujian, popularitas, dan penerimaan manusia sebagai ukuran utama keberhasilan.

Karena itu, Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan ungkapan cinta. Maulid mesti menjadi momentum untuk memperbarui komitmen menghadirkan misi kenabian dalam kehidupan pribadi, keluarga, pendidikan, masyarakat, hingga ruang digital.

Meneladani Nabi berarti menghadirkan kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, memberi harapan tanpa mengabaikan peringatan, menyeru kepada Allah tanpa kepentingan pribadi, serta menjadi cahaya di tengah kegaduhan zaman. Dengan spirit itulah umat Islam dapat menjalankan perannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya, menghadirkan kemaslahatan, menjaga keseimbangan, dan membangun kehidupan yang lebih beradab. Wallahu a’lam.

Penulis Adalah : Dr. Muhammad Kosim, MA, Dosen UIN Imam Bonjol Padang dan Alumni Cabang Padang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *