Menggugat Watak Negara: Antara Daulat Iblis dan Peradaban Darussalam
BERITAHMI.COM – Ketika manusia mengabaikan perannya sebagai khalifah dan menghalalkan segala cara demi kekuasaan, karakteristik destruktif layaknya “iblis” mulai melembaga ke dalam watak negara. Sebagai solusinya, jalan kembali menuju ilmu, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur ideologi bangsa menjadi harga mati untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur._
Manusia Minimalis dan Mandat Kekhalifahan
Terlalu banyak manusia yang berotak kecil dan mempunyai daya minimalis tengah mengembara di hamparan bumi yang luas. Dan banyak juga manusia yang merasa dirinya menjadi hamba miskin sedang bergentayangan di kolom langit yang kaya hamparan energi sumber daya alam. Sempurnalah prototipe mereka; manusia minus kecakapan, miskin metodologi untuk mengubah takdir yang dihadapi.
Sesungguhnya mereka adalah hamba yang tak sanggup memahami, apalagi mengusung ide absolut dari Sang Maha Pencipta menjadi realitas kebumian. Kenapa otak mereka kecil, apakah selamanya otak mereka tetap kecil? Kenapa mereka merasa tertindas sebagai manusia dan apakah selamanya mereka tersandera dalam penindasan?
Tidak selamanya manusia terpasung dalam otak yang kecil dan tidak selamanya manusia disandera oleh kekumuhan dan kemiskinan. Bila manusia menyadari kedudukannya sebagai khalifah, bahwa manusia datang untuk merepresentasikan posisi Tuhan, menempati tempat (bumi) yang dimandatkan Tuhan kepada manusia, dan mengurus bumi atas izin Allah. Manusia dibekali dengan ilmu yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kemakmuran dan kemaslahatan bagi manusia.
Atas penugasan itulah manusia mulai bergerak memahami semua hukum-hukum kebumian yang penuh dengan rahasia, mitologi, keangkuhan, keajaiban, dan kemisterian. Semua itu akan diruntuhkan, dikendalikan, dan diurus oleh manusia secara benar, atas kuasa yang diberikan Allah kepada manusia. Alam yang misterius dan sarat dengan mitologi ditaklukkan, direlatifkan oleh pengetahuan ilahi yang dibawa manusia.
Alam pun tunduk pada pemikiran dan pengetahuan manusia, lalu memberikan manfaat ekonomis pada manusia. Inilah yang disebut “Dari Aqidah ke Revolusi” dalam pandangan pemikir Islam, Hassan Hanafi. Jadi, atmosfer kecerdasan dan geniusitas akan membesar ketika manusia menarik ide-ide transendental untuk mencahayai, mendeteksi, atau membaca hukum-hukum kebumian, maka otak manusia akan melebar dan meluas.
Jebakan Ikhtiar Tanpa Ilmu dan Spiritualitas
Manusia yang menutup diri dari kuasa dan kebenaran Allah (orang kafir), sepertinya mereka menolak realitas kemanusiaan yang minimalis itu. Mereka juga risau, pilu dengan krisis sosial atau ketiadaan, lalu mereka memaksa diri berakrobatik untuk membebaskan diri, keluar dari kubangan kebodohan dan kemiskinan. Seakan-akan mereka ingin melakukan pemberontakan diam-diam untuk mengubah takdir yang ada.
Mereka justru melakukan berbagai rekayasa gerakan di jalan yang tidak diajarkan Allah kepada para nabi-Nya. Mereka melakukan zigzag, menipu sana menipu sini, bahkan melakukan kolaborasi jahat. Tetapi Allah Yang Maha Mengetahui, bisa menghitung tentang takaran gagasan dan materi yang mereka pikirkan, serta rencana apa yang mereka rahasiakan di sudut hati yang terdalam (QS. Ali Imran: 184).
Oleh karenanya, manusia jangan pernah menggunakan cara-cara iblis untuk sesuatu tujuan, sebab kebaikan tidak akan berhasil bila menggunakan akal bulus iblis. Kebaikan hanya bisa dicapai dengan dasar niat yang baik, dilakukan dengan proses yang baik, maka akan terwujudlah sebuah kebaikan yang berkualitas.
Namun sayang, karena modal otak minimalis, tidak cukup kecerdasan, dan ruang hati yang sempit jauh dari kearifan, maka terpaksa mereka berikhtiar dengan cara iblis. Yaitu proses ikhtiar tanpa ilmu dan spiritualitas, sehingga yang muncul adalah kebatilan dan kedzaliman. Andaikan setiap ikhtiar itu menggunakan pendekatan knowledge (pengetahuan) dan spiritualisme, maka yang dihasilkan adalah jalan kebajikan dan kemaslahatan bagi publik. Memang setiap upaya perubahan yang berdimensi kebajikan dan kemaslahatan itu harus dengan pendekatan yang paralel antara ilmu dan spiritualitas. Jika tidak, manusia akan terjebak dengan cara kerja iblis.
Ketika Karakteristik Iblis Melembaga dalam Negara
Cara iblis memang menghalalkan semua instrumen, sepanjang bisa digunakan untuk menangkal krisis, meskipun paradoksal. Semua langkah dianggap benar, meskipun tidak memenuhi syarat etis dan knowledge untuk mencapai tujuan hidup jangka pendek. Inilah jalan kembali manusia yang paling hina.
Perjuangan manusia untuk meraih eksistensi kemanusiaan tanpa ilmu dan spiritualitas, justru semakin mendorong manusia tersesat dan tenggelam dalam jurang kehancuran. Sepertinya realitas ini merupakan gambaran bahwa kehidupan kita sudah di tepian ujung jurang kesesatan yang nyata. Mereka terus ingin berkuasa, meski tanpa legitimasi.
Mereka secara otoritatif merusak semua instrumen demokrasi, mereka meruntuhkan moralitas lembaga-lembaga negara untuk melanggengkan kekuasaan absolutnya. Penguasa, pemilik modal, partai politik, lembaga pertahanan dan keamanan saling berkoalisi untuk kepentingan kekuasaan mereka sendiri. Di atas singgasana kekuasaan, mereka saling memperkuat dan mengamankan posisi, mendistribusikan harta kekayaan negara untuk kemaslahatan segelintir oligarki, penyelenggara negara, pemilik modal, dan politisi.
Contoh yang paling nyata, dalam urusan pengelolaan tambang yang dikuasai atas nama negara, namun pemanfaatannya hanya oleh segelintir elite. Rakyat pemilik tanah tergusur dari tanahnya, bahkan kehilangan hak milik. Kaum intelektual, penyuara kritis, pejuang kebenaran dan keadilan dibungkam bahkan diseret ke meja pengadilan atas tuduhan provokasi, penghasutan, fitnah, pencemaran nama baik, dan lain-lain. Inilah karakteristik iblis yang telah menginstitusi menjadi watak dan karakteristik negara.
Jalan Kembali Menuju Darussalam
Sebagai negara besar, negara yang dirumuskan dan didirikan oleh komunitas kaum terdidik, terpelajar, dan cendekiawan yang memiliki visi ideologis, harus ada jalan kembali. Mengembalikan Indonesia kepada cita-cita ideal para pendirinya. Jalan ideologis yang diwariskan para pendiri bangsa ialah Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai muslim, kita meyakini bahwa jalan kembali seorang kader yaitu merujuk pada firman Allah dan jalan pikiran kenabian. Firman Allah:
_“Wallahu yad’uu ila darissalam, wayahdy man yasyaa’ ila shiroothol mustaqiem”_
Artinya: Allah mengundang setiap orang ke Darussalam (negeri kedamaian), dan Allah pula yang membimbing jalan setiap orang menuju jalan yang lurus (QS. Yunus: 25).
Darussalam adalah rumah yang dijanjikan Allah, namun untuk menapaki jalan menuju peradaban Darussalam itu, hanyalah mereka yang dibimbing oleh Allah di jalan yang lurus.
Dan, bagaimana mungkin kita bisa sampai ke sana, jika tanpa sadar banyak di antara kita, yang justru sedang menikmati fasilitas kenyamanan dari negara berwatak iblis ini?
Lamakera 10 Juli 2026
Penulis Adalah MHR Shikka Songge Instruktur NDP Tingkat Nasional