Skip to content
-
Kirim Opini dan Berita ke : beritahmi1946@gmail.com
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
Subscribe
Close

Search

Resensi Buku

Buku “Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam” – Ali Shari’ati

13 Juli 2026 7 Min Read
0

Sosiologi Pembebasan dalam Ideologi Kaum Intelektual Karya Ali Syari’ati

Kehadiran pemikiran Dr. Ali Syari’ati dalam diskursus Islam kontemporer senantiasa memicu dialektika yang tajam antara kesadaran iman dan aksi revolusioner. Melalui bukunya yang monumental, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam, Syari’ati membedah kepatuhan pasif masyarakat terjajah sekaligus menawarkan formula emansipatif bagi kaum terpelajar di Dunia Ketiga. Buku ini, dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Farid Gaban, disunting oleh Haidar Bagir, dan diberi kata pengantar yang provokatif oleh sosiolog Jalaluddin Rakhmat, diterbitkan oleh Mizan sebagai bagian dari upaya membumikan pemikiran sosiologi Islam yang kritis di tanah air.

Ulasan mendalam mengenai karya ini, seperti yang pernah dipaparkan oleh Eko Supriyadi—seorang alumnus Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar sosiologi Islam—menunjukkan bahwa analisis Syari’ati berhasil membongkar fatalisme peradaban yang melanda pemuda Muslim akibat penetrasi kapitalisme global. Di tengah gempuran modernisasi Barat yang sekuler dan ortodoksi agama yang mandek, buku ini menawarkan jalan ketiga (the third way) yang meredefinisi peran agama dari sekadar ritus eskatologis menjadi ideologi perjuangan sosial.

Konteks Historis dan Dialektika Karbala

Untuk memahami kedalaman pemikiran Ali Syari’ati dalam buku ini, pembaca harus melacak akar intelektual dan lanskap sosio-politik yang membentuk dirinya. Lahir di Mazinan, sebuah desa dekat Mashhad, Iran, Syari’ati tumbuh di bawah pengaruh kuat ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati, seorang ulama progresif yang mendirikan “Pusat Da’wah Islam”. Perjalanan akademisnya di Universitas Paris Sorbonne membawanya bersentuhan langsung dengan sosiologi Barat dan pemikiran tokoh-tokoh radikal seperti Frantz Fanon, Louis Massignon, Georges Gurvitch, serta filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre. Persinggungan teoretis ini memungkinkannya mengawinkan sosiologi kritis Barat dengan spiritualitas Syiah yang revolusioner.

Jangkar historis yang paling kuat dalam bangunan pemikiran Syari’ati adalah tragedi Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah (680 Masehi). Peristiwa ketika Imam Husain bersama 72 pengikutnya berdiri tegak menghadapi 30.000 tentara Yazid diinterpretasikan oleh Syari’ati bukan sebagai dogma ratapan historis yang pasif, melainkan sebagai simbol abadi perjuangan kelas tertindas melawan tirani. Karbala adalah proklamasi bahwa kesyahidan (shahadat) adalah instrumen aktif untuk membongkar kemunafikan penguasa, sebuah elan vital yang harus diadopsi oleh kaum intelektual modern dalam melawan penindasan kontemporer.

Identitas Bibliografis Karya

Informasi bibliografis buku Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam versi terjemahan Indonesia disajikan dalam tabel berikut guna memberikan gambaran menyeluruh mengenai struktur fisik dokumen keilmuan ini:

Parameter Bibliografis Keterangan Detail
Judul Buku Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam
Penulis Dr. Ali Syari’ati
Penerjemah Farid Gaban (Farid Gaban dkk)
Penyunting / Editor Haidar Bagir
Penulis Kata Pengantar Dr. Jalaluddin Rakhmat
Penerbit Edisi Indonesia Penerbit Mizan, Bandung (bekerja sama dengan Free Islamic Literatures)
Tebal Buku +185 halaman (Cetakan V, Mei 1993)
Konteks Edisi Asli Kompilasi transkrip ceramah dan esai sosiologis berbahasa Persia

Analisis Struktur dan Sistematika Isi Buku

Buku ini secara sistematis terbagi ke dalam lima bagian utama yang saling mengunci secara konseptual. Setiap bagian merefleksikan lompatan metodologis Syari’ati dari kritik budaya menuju aksi revolusioner yang terstruktur.

Bagian Buku Tema Sentral dan Fokus Pembahasan Manifestasi Teoretis
Bagian I Pengantar Jalaluddin Rakhmat Menguraikan definisi intelektual, panggilan jiwa untuk tidak puas pada sains murni, serta meletakkan dasar konsep Rausyan Fikr.
Bagian II Sosiologi, Kebudayaan, dan Peradaban Membedakan kebudayaan (identitas lokal) dan peradaban (perkakas universal); menganalisis determinisme sejarah yang dipelajari Syari’ati di Prancis.
Bagian III Ideologi dan Kaum Intelektual Mendefinisikan ideologi sebagai komitmen yang menuntut pengorbanan; melakukan kritik tajam terhadap Syiah Syafawi (Islam konservatif istana).
Bagian IV Kritik Terhadap Sains di Bawah Kapitalisme Menyoroti bagaimana sains modern telah dikooptasi oleh modal, dikurung di laboratorium, dan diasingkan dari nilai-nilai kemanusiaan transenden.
Bagian V Peran Rausyan Fikr sebagai Ahli Waris Nabi Menegaskan peran pemikir yang tercerahkan sebagai “nabi sosial” yang memikul tanggung jawab membawa masyarakat menuju kesadaran tauhid.

Dialektika Kebudayaan, Peradaban, dan Gharbzadegi

Sumbangan teoretis Syari’ati yang sangat krusial dalam Bagian II buku ini adalah distingsi sosiologis antara kebudayaan (culture) dan peradaban (civilization). Peradaban diidentifikasi sebagai aspek material-teknologis yang bersifat universal dan akumulatif. Mobil, mesin jahit, dan gawai adalah produk peradaban yang dapat berpindah tangan tanpa merusak struktur psikis suatu bangsa. Sebaliknya, kebudayaan bersifat partikular, lahir secara organik dari rahim sejarah suatu bangsa, dan menjadi penyedia nilai moral, spiritual, serta identitas lokal. Bagi Syari’ati, kebudayaan adalah modal paling berharga untuk melakukan perubahan sosial.

Tragedi masyarakat Dunia Ketiga terjadi ketika imperialisme Barat mengeksploitasi perbedaan ini. Melalui penetrasi kapitalisme, Barat mengekspor produk peradaban sekaligus memaksakan kebudayaannya yang konsumeristik dan hedonistik melalui media massa dan iklan. Hal ini menciptakan kondisi Gharbzadegi (keracunan Barat atau Westoxication). Kaum muda dan terpelajar kehilangan kepribadian aslinya, terasing dari tradisi bangsanya sendiri, dan berubah menjadi konsumen pasif yang memuja rasionalitas Barat secara membabi buta.

Sebagai antitesis dari stagnasi sosial akibat Gharbzadegi, Syari’ati mengajukan interpretasi sosiologis atas konsep Hijrah. Di dalam sunnah Rasul dan Al-Qur’an, hijrah tidak boleh dipahami secara sempit sebagai perpindahan fisik semata. Secara sosiologis, semua peradaban besar di dunia dibangun melalui mekanisme hijrah, yang mengandung filosofi dinamika, perpindahan dari kemandegan kultural menuju pembangunan tatanan sosial baru yang dinamis.

Anatomi Intelektual: Rausyan Fikr versus Saintis dan Ulama

Syari’ati melakukan kategorisasi yang sangat ketat terhadap kelas terpelajar dalam masyarakat. Ia menolak anggapan bahwa setiap sarjana atau akademisi otomatis merupakan intelektual sejati. Untuk itu, ia memperkenalkan istilah Rausyan Fikr (pemikir yang tercerahkan). Perbandingan antara ketiga faksi sosial ini dapat dipetakan secara ringkas melalui tabel di bawah ini:

Dimensi Analisis Rausyan Fikr (Intelektual Sejati) Ilmuwan / Saintis Ulama Konservatif / Ahli Agama
Epistemologi Menemukan kebenaran hakiki dan makna eksistensial hidup Menemukan fakta empiris dan kausalitas mekanis alam Mengulang doktrin fikih klasik secara tekstual tanpa konteks sosial
Metodologi Kerja Menggunakan penilaian nilai (judgment de valuer) untuk membongkar ketimpangan Bersikap netral secara positivistik (judgment de faite) Menjaga stabilitas ritual keagamaan tradisional
Bahasa Komunikasi Menggunakan bahasa rakyat jelata (bahasa kaumnya) demi penyadaran massa Menggunakan bahasa universal yang elitis dan sulit dipahami publik Menggunakan bahasa sakral metafisis yang menjauh dari realitas sosial
Afiliasi Politik Memihak kaum mustadh’afin (tertindas) untuk meruntuhkan tirani Rentan dikooptasi oleh korporasi kapitalis dan birokrasi kekuasaan Cenderung berkolaborasi dengan penguasa untuk melegitimasi status quo

 

Bagi Syari’ati, seorang Rausyan Fikr memikul tanggung jawab profetik. Mereka bertindak sebagai “nabi sosial” yang lahir dari rahim penderitaan rakyat, mengartikulasikan jeritan massa yang tidak mampu bersuara, dan memandu mereka menuju pembebasan. Mereka setara dengan konsep ulil albab dalam Al-Qur’an—yaitu orang-orang yang kritis mendengarkan pendapat, menyebarkan ajaran tauhid, dan berani menolak keburukan demi kebaikan kolektif.

Redefinisi Islam: Dari Ritus Pasif Menuju Ideologi Tauhid

Dalam Ideologi Kaum Intelektual, Syari’ati menegaskan bahwa Islam harus dikembalikan sebagai mazhab pemikiran dan aksi. Ia melakukan kritik pedas terhadap kaum ulama tradisional (ulamâ-i qisyri) yang memperlakukan Al-Qur’an sebagai lembaran kering tak bermakna dan membiarkan agama mati suri di tengah penindasan. Syari’ati membedakan secara tajam antara dua wajah Islam:

  1. Islam Abu Dzar: Islam yang berpihak pada rakyat jelata, aktif, progresif, kritis terhadap akumulasi kekayaan yang tidak adil, dan mengusung semangat jihad pembebasan.
  2. Islam Marwan: Islam penguasa, istana, dan kaum borjuis kecil yang hanya menekankan kesalehan individual, kedermawanan sukarela (philanthropism), dan kepatuhan pasif terhadap sistem tirani.

Transformasi Islam menjadi ideologi ini bersandar pada konsep Tauhid yang diinterpretasikan ulang secara sosiologis sebagai Tauhidul Wujud (Tauhid Wujud). Tauhid bukan sekadar klaim teologis bahwa “Tuhan itu Esa”, melainkan sebuah cara pandang ontologis bahwa seluruh alam semesta, manusia, dan tuhan berada dalam satu kesatuan organisme yang harmonis. Konsekuensi sosiologis dari tauhid adalah penghapusan segala bentuk kontradiksi kelas, feodalisme, rasisme, dan tirani kekuasaan. Segala bentuk penindasan manusia atas manusia lainnya adalah manifestasi dari syirik sosial, karena menyejajarkan kekuatan tiran dengan otoritas mutlak Tuhan.

Dimensi revolusioner ini juga tercermin dalam rekonstruksi filosofis atas ritual-ritual Islam, salah satunya ibadah haji. Syari’ati memandang ritual tawaf mengelilingi Ka’bah sebagai simulasi kosmis tentang gerak sejarah manusia. Ka’bah yang statis melambangkan ketidakberubahan esensi Allah, sedangkan putaran jamaah haji yang melingkar melambangkan gerak sejarah makhluk yang dinamis dan disiplin.

Anatomi Aliansi Penindas: Trinitas Firaun, Qarun, dan Bal’am

Guna membimbing Rausyan Fikr dalam melakukan pemetaan konflik sosial, Syari’ati mengidentifikasi empat tipe musuh perubahan yang saling berkolaborasi erat untuk mempertahankan status quo kekuasaan yang korup:

  • Firaun: Simbol dari tirani politik dan penguasa despotik yang menggunakan aparatur kekuasaan serta represi fisik untuk menekan suara kritis rakyat dan melanggengkan kekuasaan pribadinya.
  • Qarun: Simbol kapitalisme rakus dan monopoli ekonomi yang melakukan eksploitasi terhadap buruh serta mengeruk sumber daya alam demi menumpuk kekayaan pribadi tanpa memperdulikan keadilan distributif.
  • Bal’am: Simbol tokoh agama korup atau pemuka sekte keagamaan yang memanipulasi ayat-ayat suci untuk menjustifikasi kezaliman penguasa dan menidurkan kesadaran revolusioner rakyat dengan janji-janji pahala pasif di akhirat.
  • Haman: Simbol kaum teknokrat, ilmuwan bayaran, atau birokrat akademik yang menjual keahlian ilmiah mereka demi memfasilitasi dan merancang legitimasi teknis atas kebijakan-kebijakan penguasa yang menindas rakyat.

Aliansi penindas ini bekerja secara simultan, sehingga gerakan perlawanan kaum intelektual tidak boleh bersifat parsial. Rausyan Fikr harus mampu mengonsolidasikan gerakan massa untuk melawan dominasi politik Firaun, meruntuhkan hegemoni ekonomi Qarun, sekaligus membebaskan kesadaran spiritual rakyat dari belenggu manipulasi teologis Bal’am dan justifikasi ilmiah Haman.

Penerimaan Kritis dan Relevansi Kontemporer

Pemikiran Dr. Ali Syari’ati yang tajam dan revolusioner ini memicu gelombang kekaguman sekaligus kritik dari berbagai faksi intelektual global dan domestik. Filsuf eksistensialis Prancis Jean-Paul Sartre secara terbuka mengungkapkan kekagumannya dengan menyatakan bahwa meskipun ia tidak memiliki agama, jika ia harus memilih satu agama, ia akan memilih agamanya Syari’ati.

Namun, di dalam negeri Iran sendiri, gagasan Syari’ati menuai kritik tajam dari mayoritas ulama Syiah tradisional. Beberapa poin penafsiran Syari’ati dinilai menyimpang dari ortodoksi mazhab, di antaranya:

  • Masalah Kepemimpinan: Syari’ati berpendapat bahwa musyawarah (syura) merupakan mekanisme yang paling tepat untuk menentukan kepemimpinan umat, sementara doktrin Syiah tradisional meyakini bahwa kepemimpinan adalah wasiat suci yang mutlak diwariskan secara turun-temurun kepada para Imam.
  • Tafsir Simbolis: Syari’ati menyatakan bahwa buah terlarang di surga dalam kisah Adam adalah simbol dari “pengetahuan” (knowledge), sebuah pandangan yang ditentang oleh ulama tradisional karena dianggap mengadopsi teologi Kristen abad pertengahan.
  • Reduksionisme Sosiologis: Para kritikus menganggap Syari’ati terlalu memaksakan metodologi marxisme-sosialisme dalam membaca sejarah teologi Islam, sehingga mengabaikan dimensi spiritualitas murni demi pragmatisme politik revolusioner.

Dalam konteks kontemporer, khususnya di Indonesia yang tengah berupaya mewujudkan visi strategis nasional, pemikiran dalam Ideologi Kaum Intelektual menemukan aktualitasnya yang baru. Institusi pendidikan tinggi hari ini sering kali terjebak dalam belenggu pragmatisme dan birokratisasi akademis yang menjinakkan daya kritis mahasiswa. Kampus bertransformasi menjadi pabrik tenaga kerja yang patuh pada rumus dan aturan pasar modal tanpa keberanian untuk mempertanyakan ketimpangan sosial.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar atau sarjana bergelar tinggi, namun mengalami krisis Rausyan Fikr—yaitu para pemikir tercerahkan yang berani keluar dari menara gading akademis, menolak kooptasi kenyamanan material, dan terjun langsung mendampingi masyarakat sipil dalam melawan korupsi, kesenjangan ekonomi, serta pelemahan hukum. Membaca ulang karya Syari’ati ini adalah sebuah panggilan moral yang mendesak bagi kaum muda untuk merebut kembali peran intelektual sebagai hati nurani bangsa dan agen perubahan sosial yang autentik.

Author

Reporter HMI

Beritanya Anak HMI

Follow Me
Other Articles
Previous

Buku Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan – Nurcholish Madjid

Next

Perkuat Konsolidasi Jelang Pelantikan, MW KAHMI Sumut Gelar Jalan Santai

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — BERITA HMI. All rights reserved. Reporter HMI