Skip to content
-
Kirim Opini dan Berita ke : beritahmi1946@gmail.com
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
Subscribe
Close

Search

Opini

Batasi Pandanganmu, Agar Rasa Syukurmu Tetap Hidup

15 Juli 2026 5 Min Read
0

BERITAHMI.COM – Ada rahasia yang sering luput dari kesadaran manusia, bukan karena rezeki yang berkurang hati menjadi sempit, melainkan karena mata terlalu jauh mengembara. Kita hidup pada zaman ketika pandangan melampaui batas ruang. Dalam hitungan detik, kita menyaksikan kehidupan orang-orang yang bahkan tak pernah mengenal nama kita. Kita mengagumi rumah yang bukan milik kita, menghitung nikmat yang bukan bagian kita, lalu pulang dengan dada yang terasa lebih sesak daripada sebelumnya. Mungkin benar, yang letih bukan langkah kita, melainkan pandangan yang tak pernah belajar pulang.

Allah menciptakan mata agar manusia melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, bukan menjadikannya alat untuk menakar takdir orang lain. Sebab setiap takdir lahir dari kisah yang berbeda, dari doa yang berbeda, dari air mata yang tak pernah sama. Namun manusia sering lupa. Ia sibuk membaca lembar kehidupan orang kita, sementara kitab kehidupannya sendiri dibiarkan berdebu.

Pandangan Alquran dan Hadis “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. An-Nisā’ [4]: 32

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan nikmat, baik berupa harta, ilmu, jabatan, maupun kedudukan, merupakan sunnatullah. Setiap hamba memiliki bagian masing-masing sesuai dengan takdir dan usaha mereka. Oleh karena itu, Islam melarang umatnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahaya iri dalam sebuah Hadis: Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas Muslim lainnya.” (HR. Muslim No. 2564)

Namun, pada sisi lain Rasulullah ﷺ membolehkan bentuk “iri positif” yang disebut ghibṭah, yakni keinginan memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang darinya. Sebagaimana Dari Ibnu ‘Umar Ra., Nabi Saw. bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara, seseorang yang diberikan kepandaian Alquran oleh Allah, lalu ia membaca dan mengamalkannya pada malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 5025 dan Muslim, no. 815).

Selebihnya di Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” Janji itu bukan sekadar tentang bertambahnya harta, tetapi tentang bertambahnya ketenangan. Sebab nikmat terbesar bukanlah banyaknya yang dimiliki, melainkan damainya hati saat menerima apa yang telah Allah titipkan.____

Reflektif-Spiritual dalam membatasi pandangan terhadap nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada orang lain adalah bentuk penjagaan terhadap hati, dan upaya membatasi diri terjerumus dari dosa lain seperti penyakit ghibah, iri, dengki, serta masalah sosial lainnya, seperti melakukan tindakan korupsi maupun prilaku amoral lainnya. Alquran dan Hadis menegaskan larangan hasad, sekaligus mendorong umat untuk memiliki ambisi positif (ghibṭah) dalam kebaikan. Perspektif ulama klasik dan kontemporer menekankan bahwa solusi terbaik adalah dengan syukur, qana’ah, doa, dan usaha.

Dunia ini sangat luas dan begitu kompleks, media sosial, dunia kerja dan lingkungan sosial adalah bagian-bagian kecil yang terkadang sama sekali tidak merepresentasikan apa yang terjadi sebenarnya. Dalam konteks modern, kajian ini semakin relevan bagi kita untuk menghadapi tantangan media sosial, persaingan kerja, serta gaya hidup yang semakinkonsumtif.Dengan membatasi pandangan terhadap nikmat orang lain, seorang Muslim akan lebih tenang, fokus pada pengembangan diri, serta dekat dengan Allah. Inilah salah satu kunci kebahagiaan sejati dalam Islam.

Rasa syukur ibarat mata air. Ia mengalir jernih dari hati yang mengenal kata “cukup”. Namun mata air itu perlahan mengering ketika manusia mulai meminum air perbandingan. Semakin sering membandingkan, semakin asing ia dengan nikmatnya sendiri. Yang sederhana terasa hina, yang cukup terasa kurang, dan yang telah ada kehilangan cahaya.

Bukankah bunga tidak pernah bersedih karena tidak menjadi bulan? Bukankah laut tidak iri kepada gunung karena tak mampu menjulang ke langit? Alam telah mengajarkan bahwa setiap ciptaan memiliki tempat dan kemuliaannya masing-masing. Hanya manusia yang kerap gelisah karena ingin menjadi kehidupan orang lain.

Barangkali sebab itulah para arif mengajarkan adab memandang. Mata bukan sekadar anggota tubuh, tetapi jalan menuju hati. Apa yang terlalu sering dilihat akan perlahan menjadi keinginan. Apa yang terus diinginkan akan berubah menjadi kegelisahan. Dan kegelisahan yang dibiarkan tumbuh akan mengusir syukur dari ruang batin.

Ada cinta yang diam-diam gugur bukan karena kehilangan, melainkan karena perbandingan. Ada persahabatan yang retak karena iri yang tak pernah diucapkan. Ada keluarga yang kehilangan kehangatan karena masing-masing sibuk mengejar gambaran hidup yang dipamerkan orang lain. Semua berawal dari satu hal yang tampak sederhana, mata yang tak pernah dibatasi.

Maka, membatasi pandangan bukan berarti menolak dunia. Ia adalah latihan ruhani. Sebuah ikhtiar untuk menjaga hati agar tetap bening. Sebab hati yang bening lebih mudah mengenali kehadiran Allah dalam hal-hal kecil, pada aroma tanah setelah hujan, pada tawa seorang ibu, pada cinta yang sedang kasih sayang, pada sujud yang khusyuk di sepertiga malam, pada sepotong roti yang mengenyangkan, atau pada napas yang masih Allah izinkan berhembus tanpa kita pernah membayarnya.

Sesungguhnya, kebahagiaan tidak selalu datang dengan suara yang riuh. Ia sering hadir seperti embun, tenang, lembut, dan nyaris tak terlihat. Hanya hati yang dipenuhi syukur yang mampu merasakannya. Sedangkan hati yang terus sibuk memandang milik orang lain akan mengira embun itu tak pernah turun di halaman rumahnya sendiri.

Karena itu, ada saatnya kita memejamkan mata dari gemerlap dunia, agar mata hati kembali terbuka. Ada saatnya kita berhenti menghitung apa yang belum dimiliki, lalu mulai menyebut satu per satu nikmat yang telah Allah anugerahkan. Sebab manusia yang paling kaya bukanlah mereka yang mengumpulkan paling banyak, melainkan mereka yang paling sedikit merasa kurang.

Batasi pandanganmu. Sebab tidak semua yang berkilau adalah cahaya, dan tidak semua yang tampak indah membawa berkah. Jagalah matamu agar hatimu tetap hidup. Rawatlah syukurmu, karena di sanalah Allah menitipkan ketenangan yang tak mampu dibeli oleh dunia.

Pada akhirnya, kita akan pulang bukan membawa apa yang sempat kita pandangi, tetapi membawa hati yang berhasil kita jaga. Dan barangkali, di hadapan Allah kelak, hati yang penuh syukur akan lebih bernilai daripada mata yang tak pernah puas memandang dunia. Smoga bermanfaat untuk keluarga,kekasih dan temanku …amiiin

Penulis Adalah Habibi Cendekiawan Muda HMI 

Tags:

Berita HMI Hari IniHMIHMI Cabang MataramOpiniopini kader hmiPB HMI
Author

Reporter HMI

Beritanya Anak HMI

Follow Me
Other Articles
Previous

“Polisi–Jaksa–KPK Diduga Salah Prioritas Nasional? Seogianya Dugaan terhadap Jokowi Menjadi Ujian Besar Supremasi Hukum, Bukan Sekadar Polemik Politik”

Next

Dari Impunitas ke Akuntabilitas: Menjaga Harapan dalam RUU Perampasan Aset

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — BERITA HMI. All rights reserved. Reporter HMI