MENCARI JEJARING MUTU PADA PERGURUAN TINGGI BERMUTU KELAS DUNIA

BERITAHMI.COM – Ahad 19 Juli terbangun dari tidur sekitar jam 10 am dan langsung tanya dan bergegas untuk berangkat ke Cambridge, Massachusetts. Namun kata sahabat, jam segitu terlalu pagi. Sebaiknya berangkat jam 12.00 dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam untuk tiba di tujuan. Mobil yang disiapkan untuk mengantar kami adalah mobil milik ibu diaspora dengan disopiri oleh dua ibu-ibu bergantian. Sahabat saya tidak bisa ikut mengantar, karena harus nonton bola final piala dunia yang sudah ditunggu lama. Pada jam 13.00 pm kami berempat berangkat melaju ke Cambridge. Selain libur hari minggu, final bola di New York membuat jalanan dari Hartford ke Cambridge menjadi lengang.

Kami tiba di Harvard University sekitar jam 14.30 pm. Harvard dan MIT dua yang selalu bersaing di salah satu dari 5 universitas terbaik dunia. Tujuan utamanya adalah ke kantor Asian Center, Program of Southeast Asian Studies, School of Law, dan School of Divinity. Di Southeast Asian Studies rencanany Untuk ketemu, berdiskusi, dan membangun jejaring dengan dua guru besar yang akrab dengan Indonesia, yaitu Prof. Jorge Espada (associate director) dan Prof. Sakti Suryani (dosen WNI dan pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia) di Harvard. Namun sayang informasinya terlambat diterima. Ternyata saat ini Harvard sedang libur summer dan kedua Beliau sedang keluar negeri. Begitu pula kawan dosen WNI yang ada di MIT. Selain hari minggu dan final bola piala dunia membuat dua kampus itu sepi.

Selain itu, ada juga sampingan ingin berfoto selfi di area kampus dan dua professor tersebut, serta berfoto di pintu depan perpustakaan School of Law, Harvard. Seperti suatu ikon yang menarik bila Harvard mengutip pilihan ayat Qur’an. Menariknya yang dikutip di atas daun juga ada kutipan _”Universal Declaration of Human Rights”._ Sedang kutipan ayat Qur’an al-Maidah, 8 berbunyi: … “_jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi yang bertindak adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu bertindak untuk tidak adil. Bertindak adillah kamu, karena adil itu lebih dekat pada takwa_ …… Namun sayang kami gagal dan tidak cukup waktu bisa berfoto selfi di depan pintu perpustakaan School of Law. Namun sempat mampir ke perpustakaan Harry Elkin Widener yang cukup ramai dikunjungi. Berbeda dengan di Indonesia, ternyata perpustakaan dan Museum di Harvard dan MIT tetap buka dan banyak dikunjungi di hari Sabtu dan Minggu.

Kebanyakan akademisi Harvard memang dikenal vokal dan kristis terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Trump. Begitu pula sebaliknya Presiden Trump juga keras kecaman dan ancamannya kepada Harvard. Menarik perhatian dan saya menghimpun berita-berita saling kritik dan saling kecam antara keduanya. Di tengah kecaman dan ancaman, Harvard tetap konsisten dengan kemandiriannya. Sedang Trump konsisten dengan manuver tekanan dan permainan politiknya.

Setelah tidak bisa bertemu dengan dua professor Harvard. Kami hanya bisa berkunjung dan masuk ke area kampus tersebut. Tentu hanya bisa melihat-lihat dan membeli souvenir di The Harvard Shop. Usai keliling kampus, kami bergeser ke kampus MIT. Ternyata jarak antara Harvard dengan MIT kira-kira hanya 10 kilometer. Di kampus MIT kami ketemu gedung yang menjadi ikon khas MIT, berupa dome setengah bola. Berfotolah kami di dome dan beberapa gedung di sekitarnya. Usai berkunjung ke MIT, kami sore bertandang ke rumah Ibu Raisa dekat MIT. Kami berempat sholat magrib dan makan-makan di rumah ibu Raisa.

Walaupun tidak sempat bertemu dengan Prof. Jorge Espada dan Ibu Prof. Sakti Suryani. Namun tetap berminat untuk mengenal lebih mendalam tentang Harvard dan MIT. Tentu untuk mengenal itu perlu bergeser ke laptop, membuka internet, bertanya ke AI. Setelah terkumpul datanya, tentu perlu diolah, dikonfirmasi dan didiskusikan via Email dan WA dengan Ibu Sakti Suryani. Suatu hal yang paling penting dan menarik dari semuanya itu adalah tahu dan mengerti standar (SOP). Sebab tidak mungkin suatu manajemen itu dapat bekerja dan berjalan tanpa standar. Standar mutu diri itulah yang diwajibkan oleh penjaminan mutu dan diwajibkan pula oleh UU Dikti Nomer 12/2012. Sejatinya standar adalah “citra mutu diri” dan mutu diri itu ada pada standar mutu yang dimiliki. Jadi untuk mengenali Harvard dan MIT dapat dilakukan melalui browsing dan penelusuran mendalam di internet. Rencananya hasil penelusuran itu tentu akan dikonfirmasi dan didiskusikan lebih lanjut dengan Prof. Sakti Suryani.

Ternyata mutu pendidikan itu 90% dinamikanya beredar di seputar manajemen dan tatakelola dengan standar (SOP) sebagai basis acuannya. Sedang 10% beredar diseputar otonomi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, dan keadilan. Kata Sally Folkmore: “tidak ada otonomi mutlak di dunia, karena itu semua otonomi sejatinya terbatas”. Ada makalah menarik tentang proporsi dan distribusi manajemen dan tatakelola standar mutu (SOP) pada perguruan tinggi kelas dunia. Menurut makalah itu: _”outonomy of higher education is necessary, but not sufficient condition to quality excellent. Outonomy is necessary, but not sufficient condition to equality, participation, and justice”_.

Malam sekitar jam 21.00 pm usai dari rumah Ibu Raisa, kami pulang menuju ke Hartford, Connecticut. Sebab besok Senin 20 Juli, kami sudah terkonfirmasi dan terjadwal untuk ketemu dengan Prof. Indriyo Sukmono (dosen di Yale University) di New Haven, Connecticut.

Tulisan Seri Keempat

Hartford, 21 Juli 2026, HSG

Penulis Adalah : A. Hanief Saha Ghafur, Guru Besar pada Program Doktor Kajian Stratejik dan Global (S3-KSG), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Universitas Indonesia dan Alumni HMI Cabang Malang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *