Skip to content
-
Kirim Opini dan Berita ke : beritahmi1946@gmail.com
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
Subscribe
Close

Search

Opini

HMI dan Masa Depan Perkaderan: Antara Tunduk pada “Dajjal” dan Ikut Bersama Al-Mahdi

29 Juni 2026 3 Min Read
1

Di setiap zaman, organisasi kader dihadapkan pada pilihan sejarah: menjadi penggerak perubahan atau justru menjadi bagian dari sistem yang dilahirkannya untuk dikritisi. Pilihan itu kini berada di hadapan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang sejak kelahirannya memikul amanah keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan napas. Persoalannya, tantangan HMI hari ini bukan sekadar menurunnya kualitas intelektual kader atau lemahnya tradisi membaca.

Tantangan yang jauh lebih besar adalah menguatnya sebuah peradaban yang menjadikan kapitalisme bukan lagi sekadar sistem ekonomi, melainkan sebuah cara berpikir, cara hidup, bahkan ukuran utama keberhasilan manusia. Dalam sistem demikian, nilai seseorang diukur oleh kepemilikan modal, jabatan, akses kekuasaan, dan kemampuan mengendalikan pasar. Moral, integritas, ilmu, bahkan agama sering kali hanya dijadikan instrumen untuk melanggengkan kepentingan ekonomi dan politik. Kapitalisme modern telah menjelma menjadi kekuatan yang tidak hanya menguasai pasar, tetapi juga membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan.

Ia menghadirkan ilusi bahwa kebebasan identik dengan konsumsi, keberhasilan identik dengan akumulasi kekayaan, dan kemajuan identik dengan pertumbuhan ekonomi semata. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan orientasi etik dan spiritual. Yang lebih mengkhawatirkan, kekuatan modal tidak lagi berdiri di luar negara. Dalam banyak konteks, modal justru mampu memengaruhi arah kebijakan publik. Kekuasaan politik yang semestinya menjadi alat untuk menghadirkan keadilan sosial sering kali berada dalam posisi sulit untuk melepaskan diri dari tekanan kepentingan ekonomi.

Ketika hal itu terjadi, hukum berpotensi menjadi tumpul kepada yang kuat dan tajam kepada yang lemah, sementara demokrasi dapat bergeser dari kedaulatan rakyat menuju dominasi oligarki. Dalam perspektif Islam, kondisi seperti ini dapat dipahami sebagai ujian besar bagi manusia. Istilah Dajjal dalam tradisi Islam sering dimaknai bukan sekadar sebagai sosok yang akan muncul di akhir zaman, tetapi juga sebagai simbol fitnah besar: ketika kebatilan tampil meyakinkan, materialisme mengalahkan nilai-nilai moral, dan manusia lebih tunduk kepada kepentingan duniawi daripada kepada kebenaran.

Sebaliknya, figur Al-Mahdi melambangkan harapan akan tegaknya keadilan, kepemimpinan yang bermoral, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Terlepas dari ragam penafsiran teologis mengenai kemunculannya, simbol Al-Mahdi mengingatkan bahwa sejarah selalu membutuhkan manusia-manusia yang berpihak pada keadilan, bukan sekadar pada kemenangan.

Di sinilah masa depan perkaderan HMI dipertaruhkan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada rutinitas pelatihan, seremoni, atau perebutan posisi struktural. Perkaderan harus menjadi ruang pembentukan karakter yang melahirkan intelektual muslim yang merdeka dalam berpikir, berani dalam bersikap, dan bersih dalam mengelola amanah. Kader HMI harus memiliki keberanian untuk mengkritik kapitalisme yang melahirkan ketimpangan, menolak korupsi yang menggerogoti negara, serta menjaga jarak dari praktik politik transaksional yang menggadaikan idealisme demi kekuasaan sesaat. Sebab sejarah membuktikan, banyak gerakan besar runtuh bukan karena kekurangan kader cerdas, melainkan karena terlalu banyak kader yang berhasil secara pribadi tetapi gagal menjaga integritasnya.

Pertanyaan besarnya bukanlah apakah HMI akan tetap eksis puluhan tahun ke depan. Organisasi sebesar HMI hampir pasti akan tetap ada. Yang menjadi persoalan adalah: HMI akan dikenang sebagai penjaga nurani bangsa atau sekadar menjadi pemasok elite bagi sistem yang dahulu ia kritik? Pilihan itu akan ditentukan oleh kualitas perkaderannya. Apabila perkaderan hanya menghasilkan pemburu jabatan, maka HMI sedang mempercepat kemenangan peradaban materialistik.

Namun apabila perkaderan melahirkan manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, dan berani membela keadilan meski harus kehilangan kenyamanan, maka HMI tetap menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun peradaban yang lebih adil. Pada akhirnya, setiap kader akan berhadapan dengan pilihan yang bersifat moral: mengikuti arus zaman yang memuja kekuasaan dan materi, atau tetap berdiri teguh pada nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Di situlah makna judul tulisan ini: antara tunduk pada “Dajjal” sebagai simbol fitnah materialisme dan kekuasaan yang menyesatkan, atau memilih jalan “Al-Mahdi” sebagai simbol keadilan, integritas, dan keberpihakan kepada kebenaran.

Sejarah tidak akan mengingat berapa banyak jabatan yang pernah kita duduki. Sejarah akan mengingat apakah kita ikut menguatkan sistem yang menindas atau menjadi bagian dari mereka yang berjuang menghadirkan keadilan. Itulah ujian sesungguhnya bagi HMI, dan bagi setiap kader yang mengaku mewarisi cita-cita perjuangan organisasi ini.

Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos (Pengurus KAHMI Medan 2021–2026)

  • Gravatar
Author

Reporter HMI

Beritanya Anak HMI

Follow Me
Other Articles
Previous

“Bukan Gagal, Tapi Dipelihara: Reforma Agraria Tak Jalan, Kemerdekaan Ekonomi Rakyat Terkunci”

Next

Dialektika Pemikiran Islam dan Kebangsaan dalam Tataran Intelektual Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

One Comment
  1. Riko A.H berkata:
    1 Juli 2026 pukul 7:04 pm

    —

    *Dajjal Bernama Omnibus Law & MBG: Catatan Kritis untuk Bang Mas’ud*
    _Oleh: Riko A.H – Alumni HMI Cabang Denpasar, FKHP UNUD Periode 2004–2006_

    Saya membaca tulisan Bang Mas’ud, “Antara Dajjal dan Al-Mahdi”, dengan penuh hormat. Marwahnya jelas: HMI harus menolak materialisme, menolak jadi pemasok elite. Saya sepakat sepenuhnya.

    Namun sebagai alumni, izinkan saya menyampaikan catatan kritis: *gagasan yang tidak berani menunjuk musuh yang nyata, hanya akan melahirkan kader yang piawai beretorika, tapi absen di medan perjuangan.*

    *1. Dajjal Hari Ini Punya Nama dan Nomor UU*
    Bang Mas’ud tepat menyebut kapitalisme sebagai “peradaban” yang mengalahkan moral dan agama. Tapi di Indonesia 2020–2026, kapitalisme tidak bergerak di ruang hampa. Ia dilegalkan, dipayungi, dan dikuatkan oleh *UU Omnibus Law Ciptaker* dan *UU P2SK*.

    Omnibus Law melemahkan buruh dan mempermudah akumulasi modal. UUP2SK mengonsolidasikan kekuasaan keuangan. Inilah wujud Dajjal yang sistemik. Jika HMI hanya mengutuk “kapitalisme” secara abstrak tanpa menyebut dua UU ini, maka kita sedang berdebat dengan bayangan, bukan dengan musuh yang sebenarnya.

    2. Ketika Negara Sendiri Meracuni Anak Bangsa
    Bang Mas’ud menulis: “modal mampu memengaruhi arah kebijakan publik”. Bukti paling telanjangnya ada di *Program MBG – Makan Bergizi Gratis* di bawah BGN.

    Alih-alih menyehatkan, di banyak daerah program ini berubah menjadi proyek anggaran jumbo yang berujung “keracunan massal” pada anak sekolah. Di sini bertemulah negara, modal katering besar, dan kekuasaan. Perut rakyat kecil jadi taruhannya.

    Maka pertanyaannya jujur saja, Bang: Di mana HMI? Jika perkaderan kita hanya melatih kader untuk ceramah tentang Dajjal, tapi bungkam saat rakyat diracuni oleh kebijakan negara sendiri, maka kita sedang mengkhianati amanah “penjaga nurani bangsa”.

    3. Perkaderan Harus Melahirkan Taktik, Bukan Sekadar Seremoni
    Saya setuju: kita butuh kader yang berilmu, berakhlak, dan berani. Tapi berani untuk apa? Melawan siapa?

    Kapitalisme hari ini bertarung dengan UU, APBN, proyek, dan konsultan. Maka taktik HMI juga harus setingkat itu: membedah pasal Omnibus Law, mengaudit MBG, menggugat BGN saat lalai, mengawal korban. Tanpa itu, seruan “menjaga jarak dari politik transaksional” hanya akan jadi jargon di atas kertas.

    Penutup: Sejarah Menilai Keberpihakan, Bukan Jabatan
    Sejarah tidak akan mencatat berapa kali kita menyebut kata “Al-Mahdi” di mimbar. Sejarah akan mencatat: apakah HMI berdiri di barisan rakyat saat Omnibus Law disahkan? Apakah HMI membela anak-anak korban MBG, atau sibuk berebut kursi struktural?

    Jika jawabannya diam, maka benar apa yang Bang Mas’ud takutkan: HMI sedang mencetak kader yang “berhasil secara pribadi, tapi gagal menjaga integritas”. Dan itulah kemenangan Dajjal yang paling kita sesali.

    _Wallahu a’lam bish-shawab._

    Riko A.H
    Alumni HMI Cabang Denpasar
    FKHP UNUD Periode 2004–2006

    —

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — BERITA HMI. All rights reserved. Reporter HMI