Ketika Kekuasaan Pergi, Kader Itu Tetap Berdiri “Milad Akbar Tandjung 81 Tahun”

0
1001430289

BERITAHMI.COM – Ulang tahun biasanya mengundang kita menghitung umur dan jabatan. Untuk Akbar Tandjung, cara itu justru terasa kurang menarik. Pada 14 Agustus 2026, beliau genap berusia 81 tahun. Bang Akbar pernah menjadi menteri, Ketua Umum Partai Golkar, dan Ketua DPR RI. Semua itu penting. Namun, jejak terbesarnya justru terlihat ketika kekuasaan yang lama menopang Golkar tiba-tiba pergi. Di situlah mutu seorang kader benar-benar diuji.

Bang Akbar lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, pada 14 Agustus 1945. Jalan panjang beliau tidak dimulai dari ruang berpendingin udara, melainkan dari gelanggang mahasiswa. Beliau aktif di KAMI dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim, memimpin Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia, menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jakarta pada 1969–1970, lalu Ketua Umum PB HMI pada 1972–1974. Sesudah itu, Bang Akbar memimpin KNPI periode 1978–1981.

Rangkaian tersebut bukan sekadar deretan jabatan organisasi. HMI mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Tapi tumbuh dari diskusi yang panjang, perbedaan pendapat, kongres yang melelahkan, serta kesediaan mengurus perkara kecil sebelum dipercaya menangani urusan besar. Barangkali dari sanalah terbentuk gaya beliau: tenang, tidak mudah meledak, tetapi tekun membaca arah angin dan merawat komunikasi.

Perhatian Bang Akbar terhadap perkaderan tidak berhenti setelah beliau meninggalkan kursi Ketua Umum PB HMI. Di mana pun adik-adiknya di HMI mengundang, beliau berusaha melangkah—dari cabang di kota besar hingga cabang yang jauh dan terpencil. Bagi Bang Akbar, tidak ada forum HMI yang terlalu kecil untuk didatangi. Kader di daerah pun berhak memperoleh perhatian dan motivasi langsung dari seniornya.

Beliau juga memahami bahwa perkaderan tidak selesai di ruang latihan. Kader yang telah matang perlu diberi kesempatan dan didorong menempati posisi-posisi strategis. Bang Akbar meyakini lembaga politik dan institusi negara harus diisi orang-orang yang memiliki kemampuan, integritas, serta wawasan kebangsaan. Bukan sekadar menempatkan orang, melainkan menyiapkan generasi yang sanggup memikul tanggung jawab.

Karier kenegaraan beliau kemudian bergerak cepat. Bang Akbar menjadi anggota DPR sejak 1977, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada 1988–1993, Menteri Negara Perumahan Rakyat pada 1993–1998, lalu Menteri Sekretaris Negara pada awal Reformasi. Akan tetapi, puncak kepemimpinannya bukan ketika menerima jabatan itu. Puncaknya justru datang pada 1998, saat beliau bersedia memimpin Golkar yang sedang dihujat dari segala arah.

Ketika itu, Golkar dipandang sebagai penyangga utama Orde Baru. Tuntutan pembubaran terdengar keras. Dukungan birokrasi dan militer yang dahulu menjadi keistimewaannya harus ditanggalkan. Banyak orang mungkin akan mencari sekoci penyelamat. Tapi Bang Akbar memilih tetap berada di kapal dan memperbaikinya.

Di bawah kepemimpinan beliau, Golkar memperkenalkan “Paradigma Baru”: menjadi partai yang mandiri, demokratis, terbuka, moderat, mengakar, dan responsif. Ini bukan pekerjaan kosmetik. Golkar harus belajar bertanding tanpa fasilitas kekuasaan dan menerima rakyat sebagai hakim yang sesungguhnya. Hasilnya terukur. Pada Pemilu 1999, Golkar masih meraih 23,74 juta suara dan 120 kursi DPR, menempati urutan kedua. Lima tahun kemudian, partai itu memperoleh 24,48 juta suara dan 128 kursi terbanyak dalam Pemilu 2004. Partai yang semula diperkirakan tinggal sejarah justru kembali menjadi pemenang.

Kemampuan membangun jembatan juga mengantarkan Bang Akbar menjadi Ketua DPR RI periode 1999–2004, walaupun Golkar bukan pemenang Pemilu 1999. Beliau memimpin parlemen pada masa yang sangat menentukan, ketika amendemen UUD 1945 dan penataan ulang hubungan antar lembaga negara berlangsung. Politisi ulung ternyata bukan hanya orang yang pandai memenangkan perdebatan, melainkan orang yang membuat pihak-pihak berbeda tetap bersedia duduk pada meja yang sama.

Bang Akbar meyakini bahwa napas keislaman dan keindonesiaan—dua hal yang dipertautkan dalam doktrin HMI—merupakan perekat bangsa. Karena itu, beliau dapat bergaul dan diterima dalam spektrum ideologi yang luas, dari kelompok paling kiri hingga paling kanan. Beliau tetap di tengah, bukan sebagai orang tanpa pendirian, melainkan sebagai jembatan. Jembatan memang diinjak dari dua arah, tetapi tanpanya orang-orang berbeda tidak akan bertemu.

Ada yang menyebut Bang Akbar sebagai bentuk operasionalisasi politik atas gagasan dan nilai-nilai yang diajarkan Nurcholish Madjid. Cak Nur mengartikulasikan keislaman yang inklusif, modern, dan menyatu dengan keindonesiaan. Bang Akbar menerjemahkannya ke dalam kerja politik berupa konsensus, koalisi, dan penguatan institusi. Ungkapan itu mungkin menyederhanakan keduanya, tetapi cukup menggambarkan peran mereka. Cak Nur membangun jalan pikiran, sedangkan beliau mengupayakan jalan politiknya.

Ada pelajaran lain yang sering luput. Bang Akbar tidak selalu menang. Beliau kalah dari Wiranto dalam Konvensi Calon Presiden Golkar 2004 dan kemudian kehilangan kursi ketua umum kepada Jusuf Kalla. Namun, Bang Akbar tidak membakar rumah karena gagal menjadi kepala keluarga. Beliau tetap berada dalam Golkar. Bahkan kemudian mendirikan Akbar Tandjung Institute pada 2005 sebagai ruang pendidikan politik, riset, dan kaderisasi. Dengan pengalaman menyelamatkan Golkar beliau olah menjadi disertasi doktor ilmu politik di UGM dan lulus dengan predikat cum laude pada 2007.

Bagi seorang kader HMI, inilah warisan Bang Akbar yang paling berharga: jabatan boleh berakhir, tetapi tugas perkaderan tidak pernah selesai. Kekuasaan bagi beliau bukan terminal terakhir, melainkan salah satu ruang pengabdian.

Bang Akbar menunjukkan bahwa sikap moderat tidak identik dengan lemah, kompromi tidak selalu berarti kehilangan prinsip, dan kekalahan tidak harus berujung perpecahan.

Selamat ulang tahun ke-81, Bang Akbar. Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan kesehatan dan keberkahan.

Sejarah akan mengingat bukan hanya bahwa Bang Akbar pernah berada di salah satu puncak kekuasaan, tetapi juga bahwa ketika rumah politiknya dihujat dan hampir ditinggalkan, seorang kader memilih tetap berdiri memperbaiki atapnya, membuka jendelanya, dan menyerahkan kuncinya kepada generasi berikutnya.

Penulis Adalah : Salihudin, Alumni  HMI Cabang Palu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *