Antara Azal dan Abad: Jalan Pulang Sang Pencari

0
Jalan Pulang

Dari Allah manusia berasal, dalam hidup menjalankan amanah, dan kepada Allah pada akhirnya kembali, Kendari (16/08/2026). Foto Ist

BERITAHMI.COM | Kendari—Teks Ayat Arab: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ*

Huwal-awwalu wal-ākhiru waẓ-ẓāhiru wal-bāṭin, wa huwa bikulli syai’in ‘alīm_.

Terjemah:

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini merupakan salah satu ayat Al-Qur’an yang paling padat secara *teologis* dan *filosofis*. Hanya dalam satu ayat, Al-Qur’an berbicara tentang keabadian Allah, transendensi-Nya, kedekatan-Nya, dan kemahatahuan-Nya.

Empat nama atau sifat— *al-Awwal*,*al-Ākhir, aẓ-Ẓāhir, dan al-Bāṭin*—membentuk semacam peta metafisis tentang hubungan Allah dengan seluruh realitas.

Munāsabah dengan Ayat Sebelum dan Sesudahnya

QS. Al-Ḥadīd ayat 1–6 berbicara mengenai kebesaran dan kekuasaan Allah.

Ayat 1 menegaskan:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi.”

Kemudian ayat 2 menjelaskan:

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Bagi-Nyalah kerajaan langit dan bumi.”

Ayat 3 kemudian mencapai puncak deklarasi tauhid:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

Allah bukan hanya pemilik alam, tetapi *awal dari segala yang ada, akhir dari segala perjalanan, yang melampaui segala sesuatu, sekaligus yang tidak pernah jauh dari segala sesuatu*.

Sedangkan ayat 4 menegaskan kedekatan-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada.”

Dengan demikian, rangkaian ayat ini membawa manusia dari *kosmos menuju Tuhan, dari keberadaan menuju sumber keberadaan, dan dari dunia lahir menuju kesadaran batin*.

Analisis Bahasa dan Makna Filosofis

الْأَوَّلُ — Al-Awwal

Al-Awwal* berarti Yang Awal.

Namun “awal” bagi Allah tidak berarti Allah memiliki titik awal sebagaimana makhluk.

Allah adalah *Yang Ada sebelum segala sesuatu ada*.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

“Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu.”

(HR. Muslim)

Karena itu, Allah bukan bagian dari rantai sebab-akibat alam.

Allah adalah *sumber pertama keberadaan*.

Dalam bahasa filosofis, manusia bertanya:

Dari mana segala sesuatu berasal?

Al-Qur’an menjawab:

Al-Awwal.

Sebelum waktu ada, Allah telah ada.

الْآخِرُ — Al-Ākhir

Allah adalah *Yang Akhir*.

Tidak ada sesuatu pun yang akan bertahan selamanya selain Allah.

Allah berfirman:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dia.”

(QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 88)

Manusia datang dan pergi.

Kerajaan muncul dan runtuh.

Peradaban lahir dan mengalami kehancuran.

Teknologi berubah.

Perusahaan tumbuh dan bangkrut.

Popularitas muncul dan menghilang.

Bahkan jejak digital yang kita anggap abadi pada akhirnya tidak memiliki keabadian hakiki.

Allah tetap *Al-Ākhir*.

Karena itu, ayat ini sebenarnya mengajarkan *filsafat kefanaan*.

Apa pun yang kita miliki di dunia memiliki batas.

Tetapi perjalanan manusia tidak berhenti pada dunia.

الظَّاهِرُ — Aẓ-Ẓāhir

Allah adalah *Aẓ-Ẓāhir*, Yang Zahir atau Yang Maha Nyata.

Allah begitu nyata melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam seluruh ciptaan.

Al-Qur’an mengatakan:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri.”

(QS. Fuṣṣilat [41]: 53)

Alam semesta adalah *ayat kauniyah*.

Langit, bumi, manusia, kehidupan, kematian, keteraturan kosmos—semuanya menjadi tanda yang menunjuk kepada Sang Pencipta.

الْبَاطِنُ — Al-Bāṭin

Allah juga *Al-Bāṭin*, Yang Batin atau Yang Tersembunyi dari jangkauan indra manusia.

Allah tidak dapat direduksi menjadi objek material.

Karena itu, manusia tidak boleh mencoba membayangkan zat Allah sebagaimana membayangkan benda.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

(QS. Asy-Syūrā [42]: 11)

Di sinilah terdapat keseimbangan penting:

Allah Zahir melalui tanda-tanda-Nya, tetapi Batin dari jangkauan hakikat zat-Nya.

Empat Dimensi Tauhid

Keempat sifat ini dapat dibaca sebagai empat dimensi kesadaran:

*Al-Awwal*, Yang Awal, Ingat asal-usul

*Al-Ākhir*, Yang Akhir, Ingat tujuan akhir

*Aẓ-Ẓāhir*, Yang Nyata, Baca tanda-tanda Allah

*Al-Bāṭin*, Yang Batin, Dalami dimensi ruhani

Manusia yang hanya memahami *Aẓ-Ẓāhir* dapat terjebak dalam materialisme.

Sebaliknya, manusia yang hanya mengejar *Al-Bāṭin* tanpa memperhatikan realitas lahir dapat terjebak dalam spiritualisme yang tercerabut dari kehidupan.

Islam mengajarkan keseimbangan:

*lahir dan batin, dunia dan akhirat, ilmu dan iman, akal dan wahyu*.

Tafsir Ulama Klasik

*Al-Ṭabari*

Al-Ṭabari memahami *Al-Awwal* sebagai Allah yang tidak didahului oleh sesuatu, sedangkan *Al-Ākhir* adalah Allah yang tidak akan berakhir.

Adapun *Aẓ-Ẓāhir* berkaitan dengan ketinggian dan keunggulan Allah atas makhluk-Nya, sementara *Al-Bāṭin* menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang dapat tersembunyi dari-Nya.

Dengan demikian, ayat ini menegaskan *kesempurnaan wujud dan pengetahuan Allah*.

Ibn Kathir

Ibn Kathir mengaitkan ayat ini dengan hadis Nabi ﷺ:

*أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ*

“Engkaulah Yang Awal, tidak ada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Engkaulah Yang Zahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkaulah Yang Batin, tidak ada sesuatu yang lebih dekat daripada-Mu.”

(HR. Muslim)

Hadis ini memberikan penjelasan sangat penting tentang empat sifat tersebut.

Al-Ghazali: Allah dan Kesadaran Batin

Dalam perspektif spiritual Abu Hamid al-Ghazali, mengenal Allah bukan sekadar mengetahui konsep tentang Tuhan, tetapi mengalami perubahan orientasi batin.

Pengetahuan tentang Allah harus melahirkan:

kerendahan hati;

zuhud terhadap dunia;

cinta kepada kebaikan;

kesadaran akan akhirat;

pengendalian hawa nafsu.

Dengan demikian, mengenal *Al-Awwal* membuat manusia sadar dari mana ia berasal.

Mengenal *Al-Ākhir* membuat manusia sadar ke mana ia akan kembali.

Mengenal *Aẓ-Ẓāhir* membuat manusia mampu membaca tanda-tanda Allah.

Sedangkan mengenal *Al-Bāṭin* mengajarkan manusia untuk melakukan perjalanan ke dalam dirinya sendiri.

Di sinilah tauhid berubah menjadi *tazkiyat al-nafs*.

Ibn Taymiyyah

Ibn Taymiyyah menekankan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang benar sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

Karena itu, *Al-Awwal, Al-Ākhir, Aẓ-Ẓāhir, dan Al-Bāṭin* harus dipahami dengan tetap menjaga prinsip:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu yang menyerupai Allah.

Dalam perspektif ini, kedekatan Allah kepada manusia tidak berarti Allah identik dengan alam atau menyatu dengan makhluk.

Allah tetap *Khāliq*, sedangkan manusia dan alam adalah *makhlūq*.

Ini penting agar spiritualitas tidak jatuh ke dalam pemahaman pantheistik yang menyamakan Tuhan dengan alam.

Ibn Qayyim: Empat Nama dan Perjalanan Hati

Ibn Qayyim banyak berbicara tentang perjalanan hati menuju Allah.

Secara spiritual, ayat ini dapat menjadi peta perjalanan manusia:

*Al-Awwal → asal*

*Al-Ākhir → tujuan*

*Aẓ-Ẓāhir → tanda*

*Al-Bāṭin → kedalaman*

Manusia sering sibuk mencari Tuhan di luar dirinya, tetapi lupa membersihkan ruang batinnya.

Padahal perjalanan kepada Allah juga merupakan perjalanan *tazkiyah*—penyucian jiwa.

*Wahbah al-Zuhayli*

Wahbah al-Zuhayli dalam _Tafsir al-Munir_ menekankan kemutlakan sifat-sifat Allah tersebut.

Allah adalah:

Yang tidak memiliki permulaan;

Yang tidak memiliki akhir;

Yang tinggi dan nyata melalui bukti-bukti kekuasaan-Nya;

Yang tidak terjangkau hakikat zat-Nya oleh makhluk.

Ayat ini sekaligus mendidik manusia agar tidak tertipu oleh kekuatan dunia.

*Buya Hamka*

Dalam perspektif Buya Hamka, kesadaran terhadap kebesaran Allah harus membuat manusia tidak sombong terhadap dunia.

Manusia melihat gedung tinggi, teknologi canggih, kekayaan, jabatan dan kekuasaan seakan-akan semuanya kekal.

Padahal:

manusia hanya sebentar singgah di panggung kehidupan

Allah adalah *Al-Awwal* dan *Al-Ākhir*.

Karena itu, manusia harus hidup dengan kesadaran bahwa dunia adalah perjalanan, bukan tempat tinggal abadi.

*M. Quraish Shihab*

M. Quraish Shihab menekankan bahwa keempat sifat ini menunjukkan *kesempurnaan dan keluasan eksistensi Allah*.

Allah adalah Yang Awal karena tidak didahului oleh sesuatu.

Allah adalah Yang Akhir karena tidak akan berakhir.

Allah adalah Yang Zahir karena bukti-bukti wujud dan kekuasaan-Nya sangat jelas.

Namun Dia juga Al-Bāṭin karena hakikat zat-Nya tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh manusia.

Dari sini manusia belajar sebuah etika intelektual:

*Ilmu manusia memiliki batas*.

Semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin dalam kesadaran bahwa masih terdapat wilayah yang berada di luar jangkauan manusia.

*Nurcholish Madjid*

Dalam horizon pemikiran Nurcholish Madjid, tauhid merupakan prinsip pembebasan manusia.

Jika Allah adalah satu-satunya Yang Mutlak, maka tidak ada sesuatu di dunia yang boleh diperlakukan sebagai mutlak.

Ini memiliki konsekuensi sosial yang besar.

Manusia tidak boleh mempertuhankan:

jabatan;

negara;

partai;

ideologi;

uang;

popularitas;

tokoh;

teknologi;

bahkan ilmu pengetahuan.

Tauhid membebaskan manusia dari *penghambaan kepada selain Allah*.

Karena itu, ayat ini memiliki dimensi sosial-politik:

*hanya Allah yang absolut; segala sesuatu selain Allah bersifat relatif dan fana*.

*Nasaruddin Umar*

Dalam perspektif spiritual yang sering ditekankan Nasaruddin Umar, pengenalan kepada Allah harus membawa manusia kepada kesadaran batin dan akhlak.

Allah yang Al-Bāṭin mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi yang tidak selalu terlihat.

Seseorang mungkin terlihat baik di depan manusia, tetapi Allah mengetahui isi hatinya.

Karena itu, ukuran kesalehan tidak boleh berhenti pada penampilan.

Kesalehan harus masuk ke wilayah:

*niat, kesadaran, kejujuran dan kebersihan jiwa*.

*Muhammad Sabri AR.: Dari Kosmos Menuju Kesadaran*

Dalam perspektif filosofis yang dapat dikembangkan dari pemikiran Muhammad Sabri AR., QS. Al-Ḥadīd ayat 3 dapat dibaca sebagai undangan untuk mempertemukan *nalar kosmologis* dan *kesadaran spiritual*.

Manusia modern memiliki kemampuan luar biasa untuk memahami alam.

Kita mampu:

memotret galaksi;

membaca DNA;

mengembangkan AI;

menjelajah ruang angkasa;

memetakan otak;

membangun dunia virtual.

Namun semakin jauh manusia menjelajahi dunia luar, semakin penting pertanyaan:

*Siapa manusia yang sedang melakukan semua itu?*

Inilah titik temu antara *ilmu* dan *hikmah*.

Pengetahuan tentang alam tanpa pengetahuan tentang tujuan hidup dapat menghasilkan kecanggihan tanpa arah.

Maka *Al-Awwal* mengingatkan manusia tentang sumber keberadaan.

*Al-Ākhir* mengingatkan tentang tujuan.

*Aẓ-Ẓāhir* mengajak membaca tanda-tanda realitas.

*Al-Bāṭin* mengajak menyelami kedalaman kesadaran.

Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada _knowing_, tetapi bergerak menuju _meaning_ dan akhirnya _wisdom_.

*QS. Al-Ḥadīd: 3 dan Era Digital*

Ayat ini menjadi sangat relevan ketika manusia memasuki era *AI, algoritma, metaverse, big data, dan media sosial*.

*A. Algoritma bukan Tuhan*

Algoritma dapat memprediksi perilaku manusia.

Ia dapat mengetahui:

apa yang kita sukai;

apa yang kita cari;

apa yang kita tonton;

apa yang mungkin kita beli.

Namun algoritma tidak mengetahui manusia secara mutlak.

Allah adalah:

*وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ*

_“Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”_

AI hanya berdasarkan data.

Allah mengetahui *lahir dan batin*.

 

*B. Dunia digital menciptakan ilusi keabadian*

Manusia sering berpikir bahwa foto, video, tulisan, dan unggahan digital akan membuat dirinya abadi.

QS. Al-Ḥadīd: 3 mengingatkan:

*Al-Ākhir*.

Yang benar-benar abadi bukan manusia dan bukan teknologi.

Yang abadi adalah Allah.

C. Jejak digital dan kesadaran moral

Jika seseorang merasa tidak ada manusia yang melihat aktivitasnya di internet, ia harus mengingat:

*Al-Bāṭin*.

Allah mengetahui yang tersembunyi.

Karena itu, anonimitas digital tidak boleh menjadi alasan untuk:

melakukan fitnah;

menyebarkan hoaks;

melakukan cyberbullying;

mencuri data;

melakukan plagiarisme;

memanipulasi informasi.

D. AI dan batas pengetahuan manusia

AI dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.

Tetapi kecepatan bukan berarti kebenaran.

AI dapat salah.

Manusia dapat salah.

Data dapat bias.

Algoritma dapat bias.

Karena itu, QS. Al-Ḥadīd: 3 mengingatkan bahwa *kemahatahuan hanya milik Allah*.

Manusia harus tetap rendah hati secara epistemologis.

*Dimensi Sufistik: Dari “Aku” Menuju “Dia”*

Secara sufistik, ayat ini dapat menjadi kritik terhadap ego manusia.

Manusia sering berkata:

“Aku punya.”

“Aku tahu.”

“Aku berkuasa.”

“Aku terkenal.”

“Aku hebat.”

Tetapi QS. Al-Ḥadīd ayat 3 seakan menjawab:

*Allah adalah Al-Awwal dan Al-Ākhir*.

Sebelum “aku” ada, Dia telah ada.

Setelah “aku” tiada, Dia tetap ada.

Maka perjalanan spiritual manusia adalah perjalanan dari:

*ego → tauhid*

*kesombongan → kerendahan hati*

*kepemilikan → amanah*

*pengetahuan → hikmah*

*popularitas → keikhlasan*

*dunia → akhirat*

*Hadis Jibril tentang Ihsan*

Ayat ini juga dapat dihubungkan dengan konsep ihsan:

*أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ*

_“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”_

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Inilah puncak spiritualitas:

*manusia mungkin tidak melihat Allah, tetapi hidup dalam kesadaran bahwa Allah melihatnya*.

*Relevansi bagi Pendidikan*

QS. Al-Ḥadīd: 3 menawarkan paradigma pendidikan yang sangat penting.

Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang:

pintar;

terampil;

produktif;

kompetitif.

Pendidikan juga harus menghasilkan manusia yang:

rendah hati;

memiliki kesadaran transenden;

mampu membedakan yang benar dan salah;

memiliki tanggung jawab moral;

sadar akan keterbatasan pengetahuan.

Dengan kata lain:

*Pendidikan harus mengubah informasi menjadi ilmu, ilmu menjadi hikmah, dan hikmah menjadi akhlak*.

*Relevansi bagi Kepemimpinan*

Seorang pemimpin harus mengingat:*Al-Awwal*: kekuasaan bukan miliknya secara mutlak.

*Al-Ākhir*: jabatan akan berakhir.

*Aẓ-Ẓāhir*: seluruh tindakan memiliki konsekuensi sosial.

*Al-Bāṭin*: Allah mengetahui niat yang tersembunyi.

Maka pemimpin yang sadar kepada Allah tidak akan mudah terjebak dalam:

kultus kekuasaan;

korupsi;

nepotisme;

manipulasi;

pencitraan;

penyalahgunaan jabatan.

Relevansi bagi Kehidupan Pribadi

Ayat ini mengajarkan tiga pertanyaan eksistensial:

*Dari mana aku?*

*Al-Awwal*.

*Untuk apa aku hidup?*

*Menuju Al-Ākhir*.

*Bagaimana aku menjalani hidup?*

Dengan membaca tanda-tanda *Aẓ-Ẓāhir* dan membersihkan kesadaran *Al-Bāṭin*.

Maka kehidupan bukan sekadar:

_lahir → sekolah → bekerja → kaya → terkenal → mati_.

Tetapi:

*berasal dari Allah → menjalani amanah → kembali kepada Allah*.

*Inti Pesan QS. Al-Ḥadīd Ayat 3*

Ada setidaknya 10 pesan utama:

1. Allah adalah sumber segala keberadaan.

2. Allah tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir.

3. Semua makhluk bersifat fana.

4. Allah menunjukkan tanda-tanda-Nya melalui alam.

5. Hakikat zat Allah melampaui jangkauan manusia.

6. Allah mengetahui segala sesuatu.

7. Ilmu manusia memiliki keterbatasan.

8. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada dunia.

9. Teknologi harus tetap tunduk pada etika.

10. Kehidupan manusia harus diarahkan dari dunia menuju Allah.

*Penutup* : Ketika Semua Bermula dan Berakhir pada-Nya

QS. Al-Ḥadīd ayat 3 pada akhirnya bukan sekadar ayat tentang nama-nama Allah. Ia adalah *peta perjalanan eksistensial manusia*.

Kita hidup di tengah dunia yang terus berubah.

Teknologi datang dan pergi.

Algoritma berubah.

Popularitas berganti.

Kekuasaan berpindah.

Kekayaan berpindah tangan.

Generasi berganti.

Tetapi Allah tetap:

*الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ*

*Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin*.

Karena itu, semakin manusia maju secara teknologi, semakin ia membutuhkan kedalaman spiritual. Semakin luas pengetahuannya tentang alam, semakin ia harus menyadari keterbatasan dirinya. Semakin besar kekuasaannya terhadap dunia, semakin dalam kesadarannya bahwa ia bukan pemilik mutlak kehidupan.

Di sinilah pesan sufistik ayat ini menemukan relevansinya:

*Kita datang dari Yang Awal, berjalan di antara tanda-tanda Yang Zahir, hidup dalam pengetahuan Yang Batin, dan pada akhirnya kembali kepada Yang Akhir*.

Maka seluruh perjalanan hidup sesungguhnya adalah perjalanan *dari Allah, bersama amanah Allah, menuju Allah*.

Penulis Adalah: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.—Dosen FUAD UIN Kendari

Dr. Sodiman, M.Ag.—Dosen FEBI UIN Kendari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *