Andi Sukriadi Dorong Kader HMI Bertransformasi dari Konsumen Menjadi Produsen Nilai

0
Masyarakat Konsumtif

Andi Sukriadi, S.KM., M.KM., saat menyampaikan materi “Transformasi Masyarakat Konsumtif Menuju Masyarakat Produktif di Era Pemerintahan Prabowo-Gibran” dalam Training Raya LK II HMI Cabang Bulukumba di SKB Bulukumba, Selasa (1/9/2026). Foto Ist

Beritahmi.com | Bulukumba—Sebanyak 39 peserta Training Raya Latihan Kader II (LK II) HMI Cabang Bulukumba mengikuti sesi materi “Transformasi Masyarakat Konsumtif Menuju Masyarakat Produktif di Era Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang dibawakan Andi Sukriadi, S.KM., M.KM., Selasa, (1/9), di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran kader untuk membaca perubahan sosial-ekonomi sekaligus merumuskan orientasi produktif bagi generasi muda.

Peserta tidak hanya berasal dari HMI Cabang Bulukumba. Forum tersebut turut diikuti kader dari sejumlah cabang luar, yakni HMI Cabang Kukar, HMI Cabang Persiapan Buton, HMI Cabang Bau-Bau, Luwu Utara, Parepare, Barru, Makassar, Makassar Timur, Majene, Jeneponto, serta Bulukumba.

Kehadiran peserta lintas cabang memperkaya perspektif diskusi karena isu konsumtivisme dan produktivitas dibaca dari pengalaman sosial serta konteks daerah yang berbeda.

Dalam pemaparannya, Andi Sukriadi menekankan bahwa transformasi ekonomi tidak cukup dimulai dari persoalan modal, tetapi membutuhkan perubahan paradigma.

Menurutnya, masyarakat harus bergerak dari posisi sebagai konsumen barang menuju pencipta nilai melalui keterampilan, usaha, pengetahuan, inovasi, dan kerja-kerja sosial.

“Perubahan ekonomi tidak dimulai dari uang, tetapi dari perubahan cara berpikir: dari menikmati nilai menuju menciptakan nilai,” menjadi salah satu gagasan utama yang ditekankan dalam materi tersebut.

Ia menjelaskan, konsumsi pada dasarnya tetap dibutuhkan dalam aktivitas ekonomi.

Namun, persoalan muncul ketika masyarakat hanya menjadi pasar tanpa memiliki kapasitas yang memadai untuk menghasilkan nilai.

Masyarakat produktif, kata Andi, bukan sekadar masyarakat yang bekerja, melainkan masyarakat yang mampu menciptakan barang, jasa, pengetahuan, lapangan kerja, hingga institusi yang memberikan manfaat sosial.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang forum berlangsung. Diskusi berjalan secara interaktif dengan peserta aktif merespons materi, mengajukan pertanyaan, serta mendiskusikan tantangan yang dihadapi generasi muda dalam membangun budaya produktif.

Interaksi tersebut membuat materi tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi berkembang menjadi ruang refleksi kader mengenai pola konsumsi, pengembangan keterampilan, pemanfaatan teknologi, dan peluang membangun aktivitas produktif di daerah.

Dalam konteks perkaderan HMI, Andi menghubungkan produktivitas dengan konsepsi Insan Cita.

Ia menegaskan bahwa kader tidak boleh berhenti sebagai konsumen gagasan, tetapi harus mampu menerjemahkan ilmu menjadi karya dan solusi.

“Masyarakat produktif adalah konsekuensi dari insan cita: ilmu tidak berhenti di forum, tetapi turun menjadi karya, usaha, advokasi, dan pelayanan publik,” demikian gagasan yang disampaikan dalam materi.

Menutup sesi, Andi mendorong peserta LK II agar menjadikan forum perkaderan sebagai titik awal aksi konkret.

Melalui model transformasi 4P—paradigma, perilaku, produksi, dan pergerakan—kader diarahkan untuk mengubah cara pandang, membangun kebiasaan produktif, menghasilkan karya atau layanan, hingga mengorganisasi gerakan yang menciptakan manfaat bagi masyarakat.

“Tidak cukup menjadi generasi yang pandai mengkritik, tetapi juga harus mampu membuat solusi yang dapat diuji,” menjadi pesan penutup yang relevan dengan agenda perkaderan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *