HmI Reborn, Gagasan Hasidar Modernisasi Gerakan dan Kemandirian Kader

0
InShot_20260901_151323815

BERITAHMI.COM – Gagasan pembaruan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengemuka menjelang regenerasi kepemimpinan Pengurus Besar HMI (PB HMI) periode 2026-2028.

Bakal calon Ketua Umum PB HMI 2026-2028, La Ode Hasidar Hasiri, S.Pd., M.Pd., menawarkan konsep HMI Reborn sebagai gagasan pembaruan organisasi.

Konsep tersebut diarahkan untuk memodernisasi gerakan, memperkuat kemandirian kader, sekaligus meningkatkan kontribusi HMI dalam pembangunan nasional.

Hasidar menilai perubahan zaman membuat HMI perlu memperbarui metode perjuangan tanpa meninggalkan nilai dasar organisasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, keterbukaan informasi, hingga persaingan global menghadirkan tantangan baru bagi kader HMI.

“HMI Reborn bukan berarti HMI harus dilahirkan kembali atau meninggalkan sejarahnya,” kata Hasidar dalam gagasannya.

Ia menyebut modernisasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi untuk administrasi, pengelolaan data kader, kajian, pendidikan, hingga riset.

Termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu dalam pengembangan pengetahuan dan peningkatan kapasitas kader.

Namun, teknologi menurutnya tetap sebatas alat. Kader HMI harus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, membaca data, berkomunikasi, dan memahami persoalan masyarakat.

Hasidar juga mengaitkan gagasan HMI Reborn dengan agenda pembangunan nasional melalui Asta Cita dan target Indonesia Emas 2045.

Ia mendorong HMI mengambil posisi sebagai organisasi yang mampu membaca, mengkritisi, sekaligus memberikan gagasan terhadap kebijakan pemerintah.

“HMI harus mampu membedakan antara oposisi dan kontrol sosial,” ujarnya.

Menurutnya, kritik terhadap kebijakan publik tidak seharusnya berhenti pada penolakan, tetapi harus disertai kajian dan alternatif penyelesaian.

HMI juga dinilai perlu kembali memperkuat identitasnya sebagai gerakan intelektual melalui produksi pengetahuan dan kajian berbasis data.

Di sisi lain, Hasidar menyoroti pentingnya kemandirian kader di tengah persaingan ekonomi yang semakin kompetitif.

Kemandirian tersebut tidak hanya diwujudkan melalui usaha, tetapi juga penguasaan ilmu, keterampilan, jaringan, penciptaan lapangan kerja, dan profesionalitas.

Ia mendorong terbentuknya ekosistem kader yang menghubungkan akademisi, pengusaha, profesional, hingga kader dengan keahlian teknologi.

Dengan jejaring tersebut, hubungan antarkader diharapkan tidak hanya aktif ketika konferensi atau pergantian kepemimpinan.

“Indonesia Emas bukan hanya agenda pemerintah. Ia adalah agenda generasi,” tegasnya.

Hasidar menilai kader HMI hari ini akan menjadi bagian dari berbagai sektor kehidupan bangsa pada masa mendatang.

Karena itu, HMI dinilai perlu menyiapkan kader yang mampu bekerja, berinovasi, menguasai teknologi, sekaligus memiliki tanggung jawab moral.

“HMI Reborn bukan mengganti HMI, tetapi memperbarui cara HMI bergerak dan menjadikan sejarah sebagai pijakan,” pungkasnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *