PEREMPUAN DAN MASA DEPAN KOHATI: APA YANG HARUS DIPERJUANGKAN HARI INI?

0
Perempuan Masa Depan

Annisa Rahim, peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba, Jumat (4/9/2026). Foto Ist

Dari Sekadar Representasi Menuju Produksi Pengetahuan, Etika, dan Kepemimpinan Peradaban

Beritahmi.com | Bulukumba—Kohati hari ini berada di tengah perubahan zaman yang tidak sederhana. Perempuan tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan akses terhadap pendidikan atau ruang kepemimpinan, tetapi juga menghadapi krisis pengetahuan, krisis etika, ketimpangan digital, politik identitas, kekerasan berbasis gender, hingga persoalan ekologis.

Karena itu, pertanyaan tentang masa depan Kohati tidak cukup dijawab dengan “berapa banyak perempuan yang menjadi pemimpin?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: perempuan seperti apa yang sedang kita bentuk, pengetahuan apa yang sedang kita produksi, dan peradaban seperti apa yang hendak kita bangun?

Kohati tidak boleh berhenti sebagai ruang afirmasi bagi perempuan. Tetapi harus menjadi laboratorium intelektual dan etik bagi lahirnya perempuan yang mampu membaca zaman sekaligus mengoreksinya.

Dalam kerangka Insan Cita, kader bukan sekadar manusia yang memiliki kecakapan organisasi, tetapi manusia yang kesadaran dan tindakannya diarahkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan peradaban.

Dengan demikian, perjuangan Kohati bukan sekadar perjuangan mendapatkan tempat di dalam struktur, melainkan perjuangan mengubah struktur agar lebih manusiawi.

Di sinilah gagasan etika tanggung jawab menjadi penting. Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility mengingatkan bahwa manusia modern memiliki kemampuan teknologi yang sedemikian besar sehingga tanggung jawab moralnya tidak boleh hanya diarahkan kepada manusia yang hidup hari ini.

Kita juga bertanggung jawab terhadap generasi yang belum lahir. Bagi Kohati, prinsip ini dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan etik: apakah keputusan yang kita ambil hari ini memperbesar kemungkinan generasi perempuan masa depan hidup lebih merdeka, adil, aman, dan bermartabat?

Kepemimpinan tidak boleh hanya mengejar keberhasilan personal, tetapi harus mempertimbangkan akibat sosial dari setiap tindakan.

Perjuangan pertama yang harus diperkuat adalah kedaulatan intelektual perempuan. Perempuan tidak boleh terus-menerus diposisikan sebagai konsumen pengetahuan yang diproduksi orang lain.

Kohati harus mendorong kadernya membaca, menulis, meneliti, mendokumentasikan pengalaman perempuan, dan menghasilkan gagasan.

Sebab siapa yang menguasai produksi pengetahuan memiliki kemampuan besar untuk menentukan bagaimana realitas didefinisikan.

Di sinilah gagasan Paulo Freire tentang conscientization relevan: pendidikan bukan sekadar memindahkan informasi, melainkan membangunkan kesadaran kritis agar manusia mampu membaca dunia dan kemudian mengubahnya.

Kohati juga perlu membangun politik pengetahuan yang berangkat dari pengalaman perempuan.

Carol Gilligan, melalui kritiknya terhadap teori perkembangan moral yang terlalu berpusat pada paradigma tertentu tentang rasionalitas, memperlihatkan pentingnya suara, relasi, kepedulian, dan konteks dalam memahami moralitas.

Ini tidak berarti perempuan secara biologis pasti lebih peduli daripada laki-laki. Sebaliknya, yang harus dibangun adalah etika kepemimpinan yang tidak memisahkan rasionalitas dari kepedulian.

Seorang pemimpin boleh tegas, tetapi ketegasan tanpa empati dapat berubah menjadi kekuasaan yang dingin; sebaliknya, kepedulian tanpa keberanian mengambil keputusan dapat berubah menjadi kelemahan politik.

Karena itu, masa depan Kohati membutuhkan doktrin etik kepemimpinan. Setidaknya ada lima prinsip yang harus menjadi kompas: amanah, kejujuran intelektual, keberanian moral, keadilan, dan tanggung jawab terhadap akibat keputusan.

Amanah berarti kekuasaan tidak boleh menjadi alat memperbesar ego. Kejujuran intelektual berarti kader tidak boleh memanipulasi data demi membenarkan kepentingannya.

Keberanian moral berarti berani mengatakan benar ketika mayoritas memilih diam. Keadilan berarti memperlakukan manusia sebagai subjek bermartabat.

Sedangkan tanggung jawab berarti berani mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusan yang dibuat.

Dalam konteks Islam, prinsip tersebut memperoleh fondasi teologis dari gagasan manusia sebagai khalifah dan pemegang amanah. QS. Al-Ahzab [33]: 72 menggambarkan amanah sebagai sesuatu yang memiliki dimensi moral yang berat.

Sementara QS. An-Nahl [16]: 90 memerintahkan keadilan dan kebajikan. Maka perjuangan perempuan dalam Islam tidak semestinya direduksi menjadi persoalan siapa yang lebih dominan antara laki-laki dan perempuan.

Pertanyaan yang lebih substansial adalah bagaimana manusia, baik laki-laki maupun perempuan, menjalankan amanah kekhalifahan secara adil.

Perjuangan berikutnya adalah melawan normalisasi kekerasan dan ketidakadilan yang tersembunyi dalam kebudayaan.

Tidak semua sesuatu yang telah lama berlangsung otomatis menjadi benar. Pierre Bourdieu melalui konsep symbolic violence menjelaskan bagaimana dominasi dapat bekerja secara halus melalui bahasa, kebiasaan, pendidikan, dan norma sosial hingga ketimpangan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Kohati harus memiliki kemampuan membedakan mana nilai agama, mana tradisi, dan mana konstruksi sosial yang sebenarnya dapat dikritisi.

Sikap kritis ini bukan berarti memusuhi budaya atau agama, melainkan menjaga agar keduanya tidak digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan.

Kohati juga harus merebut ruang digital sebagai ruang perjuangan intelektual. Hari ini perang gagasan tidak hanya berlangsung di ruang seminar dan forum organisasi. Tetapi berlangsung di media sosial, mesin pencari, platform video, dan ruang percakapan digital.

Perempuan yang tidak memiliki literasi digital akan mudah menjadi objek algoritma, komoditas perhatian, bahkan sasaran disinformasi.

Karena itu, kader Kohati harus mampu menjadi produsen konten yang mendidik, jurnalis warga, peneliti digital, pengelola media, dan pembuat narasi yang mampu melawan informasi palsu tanpa kehilangan etika.

Namun, perjuangan intelektual tidak boleh menjadikan Kohati terasing dari masyarakat.

Antonio Gramsci menyebut pentingnya intelektual organik, yakni intelektual yang tidak hidup di menara gading tetapi berakar pada persoalan masyarakat.

Kohati harus hadir di tengah perempuan desa, pekerja, mahasiswa, perempuan pesisir, pelaku UMKM, korban kekerasan, komunitas adat, dan kelompok masyarakat yang suaranya sering tidak terdengar.

Pengetahuan kader harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk advokasi, pendidikan, pemberdayaan, dan perubahan kebijakan.

Di titik ini, gagasan Nurcholish Madjid tentang pembaruan pemikiran Islam juga menjadi relevan. Tradisi Islam harus memiliki keberanian untuk berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi etik dan tauhidnya.

Kohati membutuhkan keberanian yang sama: tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak kehilangan akar keislamannya ketika berhadapan dengan modernitas.

Perempuan Muslim harus mampu menjadi subjek yang melakukan ijtihad intelektual terhadap persoalan zamannya—dengan ilmu, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab moral.

Pada akhirnya, masa depan Kohati tidak ditentukan oleh seberapa banyak kader perempuan yang menduduki kursi kepemimpinan, tetapi oleh kualitas manusia yang lahir dari rahim kaderisasinya.

Kohati harus melahirkan perempuan yang mampu berpikir sebelum berbicara, mampu berbicara berdasarkan pengetahuan, mampu memimpin tanpa menindas, mampu berbeda tanpa membenci, mampu berjuang tanpa kehilangan etika, dan mampu menggunakan kekuasaan sebagai jalan pengabdian.

Sebab perjuangan perempuan hari ini bukan hanya meminta dunia memberikan ruang. Kohati harus mempersiapkan perempuan yang ketika ruang itu terbuka, ia membawa pengetahuan, keberanian, moralitas, dan visi peradaban ke dalamnya.

Inilah titik temu antara perempuan, Kohati, dan Insan Cita: membentuk manusia yang tidak sekadar ingin memiliki masa depan, tetapi bersedia bertanggung jawab atas masa depan yang ia ciptakan.

“Kohati tidak boleh hanya bertanya: di mana tempat perempuan dalam masa depan? Kohati harus bertanya lebih jauh: masa depan seperti apa yang harus diperjuangkan perempuan hari ini?”

Bumi Butta Panrita Lopi—04 September 2026

Penulis: Annisa Rahim Asal Cabang Bulukumba—Peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *