KOHATI SEBAGAI KONTRIBUTOR PEMBAHARUAN: ANTARA ROMANTISME SEJARAH DAN TUNTUTAN ZAMAN
Nursila Ningsi R. Singke Asal Cabang Luwu Utara Peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba, Jumat (4/9/2026). Foto Ist
Merawat Warisan Perjuangan, Membongkar Kebekuan, dan Menulis Masa Depan Perempuan
Beritahmi.com | Bulukumba—Sejarah sering kali menjadi tempat paling nyaman untuk bersembunyi. Kita mengulang nama-nama besar, mengenang keberanian para pendahulu, mengagungkan masa lalu, lalu merasa bahwa dengan mengingat sejarah kita telah meneruskan perjuangan.
Padahal sejarah bukan museum untuk dikagumi, melainkan warisan yang menuntut untuk diterjemahkan kembali.
Di sinilah Kohati menghadapi pertanyaan yang tidak ringan: apakah kita sedang benar-benar melanjutkan perjuangan perempuan, atau hanya sedang memelihara romantisme tentang perjuangan masa lalu?
Kohati lahir dari kesadaran bahwa perempuan dalam tubuh umat dan bangsa membutuhkan ruang kaderisasi yang mampu mempertemukan keislaman, keilmuan, keperempuanan, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, keberadaan Kohati tidak seharusnya dipahami sebagai tambahan administratif dalam struktur HMI.
Kohati merupakan ruang historis untuk membentuk perempuan yang mampu menjadi subjek perubahan.
Persoalannya, zaman telah berubah. Problem perempuan hari ini tidak seluruhnya sama dengan problem generasi sebelumnya.
Maka, kesetiaan kepada sejarah justru menuntut keberanian untuk melakukan pembaharuan.
Gagasan Muhammad Iqbal tentang ijtihad memberikan pijakan penting. Bagi Iqbal, pemikiran Islam tidak boleh berhenti pada pengulangan masa lalu; kehidupan yang terus berubah menuntut kemampuan berpikir secara dinamis.
Dalam konteks Kohati, pembaharuan berarti keberanian membaca kembali persoalan perempuan dengan perangkat pengetahuan yang sesuai dengan zamannya.
Kader tidak boleh menjadi fosil dari masa lalu hanya karena takut dianggap tidak setia kepada tradisi.
Tradisi yang hidup adalah tradisi yang mampu melahirkan jawaban baru terhadap persoalan baru.
Namun pembaharuan bukan berarti membuang masa lalu. Justru di sinilah pentingnya membedakan warisan dan romantisme.
Warisan adalah nilai yang diwariskan untuk dikembangkan; romantisme adalah kecenderungan mengagungkan masa lalu tanpa menguji relevansinya.
Kita boleh bangga terhadap sejarah Kohati, tetapi kebanggaan itu harus menghasilkan pertanyaan: apa yang belum selesai? Apa yang gagal kita jawab?
Persoalan perempuan apa yang hari ini belum mampu kita pecahkan?
Jika sejarah hanya menghasilkan kebanggaan, ia menjadi nostalgia. Tetapi jika sejarah melahirkan keberanian untuk mengoreksi keadaan, ia menjadi energi pembaharuan.
Dalam kerangka NDP HMI, pembaharuan harus berangkat dari kesadaran tauhid.
Tauhid bukan sekadar pengakuan teologis bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa, tetapi juga pembebasan manusia dari penghambaan kepada kekuatan-kekuatan selain-Nya.
Karena itu, kader Kohati harus memiliki keberanian untuk mengkritik segala bentuk dominasi yang merendahkan martabat manusia—termasuk ketika dominasi tersebut bersembunyi di balik kebiasaan, budaya, struktur organisasi, bahkan tafsir sosial yang dianggap tidak boleh dipertanyakan.
Di sinilah doktrin etik pembaharuan menjadi penting: tidak semua yang diwariskan harus dipertahankan, dan tidak semua yang baru harus diterima. Ukuran utamanya adalah nilai. Apakah ia adil?
Apakah ia memuliakan manusia? Apakah ia menghadirkan kemaslahatan?
Apakah ia mendekatkan manusia kepada tanggung jawab ketuhanannya?
Dengan prinsip tersebut, Kohati tidak terjebak pada konservatisme yang membekukan masa lalu maupun modernisme yang menelan segala sesuatu tanpa kritik.
Filsuf Hannah Arendt mengajarkan bahwa manusia menghadirkan kebaruannya melalui tindakan (action) dalam ruang bersama.
Gagasan ini relevan untuk membaca posisi Kohati hari ini.
Pembaharuan tidak akan lahir hanya dari seminar, diskusi, atau dokumen rekomendasi. Pembaharuan membutuhkan tindakan.
Kader perempuan harus masuk ke ruang pendidikan, politik, ekonomi, media, teknologi, kebudayaan, lingkungan, dan kebijakan publik.
Jika perempuan hanya menjadi pembicara tentang perubahan tetapi tidak menjadi pelaku perubahan, maka kaderisasi kehilangan dimensi praksisnya.
Persoalan lainnya adalah krisis produksi pengetahuan. Kohati tidak boleh hanya menjadi objek kajian tentang perempuan.
Kader Kohati harus menjadi peneliti atas realitasnya sendiri. Perempuan harus menulis tentang kemiskinan perempuan, pendidikan, kesehatan, politik, lingkungan, teknologi, ekonomi, budaya, kekerasan, hingga masa depan demokrasi.
Sebab siapa yang tidak memproduksi pengetahuan akan selalu berada dalam posisi menerima definisi yang dibuat orang lain.
Maka salah satu agenda terbesar Kohati ke depan adalah membangun kedaulatan epistemik perempuan.
Gagasan Boaventura de Sousa Santos tentang epistemologies of the South memberi pelajaran bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari institusi akademik formal.
Pengalaman masyarakat, pengetahuan lokal, pengalaman perempuan, dan pengetahuan kelompok yang selama ini dimarginalkan juga memiliki nilai epistemik.
Kohati harus mampu membawa pengalaman perempuan dari ruang domestik dan komunitas ke ruang intelektual.
Pengalaman bukan sekadar cerita; ketika dibaca secara kritis, pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan dan dasar perubahan sosial.
Tetapi pembaharuan juga membutuhkan keberanian untuk membongkar politik simbolik. Jangan sampai perempuan diberi ruang hanya untuk memenuhi statistik representasi, sementara keputusan substantif tetap dibuat oleh segelintir orang.
Jangan sampai Kohati bangga karena kadernya hadir dalam banyak struktur, tetapi tidak pernah bertanya apakah kehadiran itu menghasilkan perubahan.
Representasi tanpa daya pengaruh adalah dekorasi politik. Kader perempuan harus memiliki kompetensi agar keberadaannya dalam struktur menghasilkan keputusan yang lebih adil, transparan, dan manusiawi.
Karena itu, Kohati membutuhkan kader yang memiliki empat keberanian: keberanian berpikir, keberanian berbicara, keberanian berbeda, dan keberanian bertanggung jawab.
Berpikir berarti tidak menerima sesuatu hanya karena sudah lama dilakukan. Berbicara berarti mampu mengartikulasikan kebenaran secara argumentatif.
Berbeda berarti tidak takut keluar dari arus ketika arus tersebut membawa ketidakadilan.
Sedangkan bertanggung jawab berarti tidak menjadikan kritik sebagai alasan untuk menghindari konsekuensi dari pilihan politik dan intelektualnya.
Pada akhirnya, pembaharuan tidak boleh berubah menjadi perlombaan untuk menjadi “modern”. Modernitas tanpa etika dapat menghasilkan bentuk baru dari ketidakadilan.
Karena itu, Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh tetap relevan ketika berbicara tentang pembentukan karakter.
Kecerdasan tanpa akhlak dapat menghasilkan manusia yang sangat terampil tetapi berbahaya.
Kohati harus melahirkan perempuan yang bukan hanya smart, tetapi juga memiliki integrity; bukan hanya mampu memimpin, tetapi mampu menahan diri ketika kekuasaan menggodanya; bukan hanya mampu mengkritik, tetapi juga mampu memberikan alternatif.
Maka doktrin etik Kohati ke depan harus sederhana tetapi keras: ilmu tidak boleh menjadi kesombongan, kekuasaan tidak boleh menjadi kepemilikan, identitas tidak boleh menjadi alat eksklusi, dan perjuangan tidak boleh menjadi pembenaran untuk menghalalkan segala cara.
Kader perempuan harus tetap kritis tanpa kehilangan adab, progresif tanpa kehilangan akar, dan berani melakukan pembaharuan tanpa kehilangan orientasi ketuhanan.
Kohati pada akhirnya harus memilih: menjadi penjaga nostalgia atau menjadi pembawa masa depan. Menjadi penjaga nostalgia berarti terus mengulang kebesaran sejarah.
Menjadi pembawa masa depan berarti berani bertanya mengapa kebesaran itu belum sepenuhnya menjelma menjadi perubahan.
Kita tidak membutuhkan generasi perempuan yang hanya hafal siapa yang pernah berjuang.
Kita membutuhkan generasi yang mampu menjawab mengapa perjuangan itu harus diteruskan dan dalam bentuk apa perjuangan itu harus diperbarui.
“Sejarah bukan alasan untuk tinggal di masa lalu. Sejarah adalah hutang moral yang harus dibayar dengan keberanian menciptakan masa depan.”
Karena itu, Kohati sebagai kontributor pembaharuan harus menjadikan kaderisasi sebagai proses melahirkan perempuan yang mampu membaca zaman, menguji tradisi, memproduksi pengetahuan, memengaruhi kebijakan, menjaga etika, dan menghadirkan solusi.
Masa depan Kohati tidak akan ditentukan oleh seberapa sering kita mengutip sejarahnya, tetapi oleh seberapa berani kita menulis halaman sejarah berikutnya.
Doktrin Etik Pembaharuan Kohati
Hormati sejarah, tetapi jangan diperbudak masa lalu.
Kritik tradisi, tetapi jangan kehilangan akar.
Terima perubahan, tetapi jangan kehilangan nilai.
Kejar kekuasaan, hanya jika ia dapat diubah menjadi pengabdian.
Produksi pengetahuan, tetapi jangan kehilangan kerendahan hati.
Dan ketika menjadi pembaharu, pastikan manusia dan kemanusiaan tidak pernah menjadi korban.
