Skip to content
-
Kirim Opini dan Berita ke : beritahmi1946@gmail.com
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
Subscribe
Close

Search

Opini

Final Piala Dunia: Dilema Memilih Sejarah yang Berdarah atau Politik yang Membisu?

17 Juli 2026 2 Min Read
0

BERITAHMI.COM – Di final Piala Dunia, saya mendadak mengalami transformasi intelektual yang tidak diminta: dari penonton biasa menjadi komentator sejarah, filsafat politik, dan etika internasional dalam satu malam.

Di satu sisi berdiri Spanyol, negeri yang dalam imajinasi sepak bola identik dengan estetika tiki-taka, tetapi dalam arsip sejarahnya menyimpan bab yang jauh kurang elegan: Andalusia pasca-Reconquista, pengusiran, konversi paksa, dan Inkuisisi—sebuah pengingat bahwa peradaban sering kali maju dengan langkah yang sangat tidak beradab.

Di sisi lain ada Argentina, tanah kelahiran Maradona dan Messi, dua ikon yang membuat dunia percaya bahwa sepak bola bisa mendekati seni. Namun dalam panggung politik kontemporer, pemerintah negara itu kerap dipersepsikan mengambil posisi yang tidak sejalan dengan aspirasi banyak pihak yang mendukung kemerdekaan Palestina.

Maka saya sampai pada kesimpulan yang agak menyebalkan tetapi jujur: mendukung sebuah tim sepak bola ternyata bukan sekadar urusan estetika jersey atau nostalgia terhadap gol-gol ikonik. Ada sejarah yang menyeret kita ke belakang, ada politik yang menarik kita ke samping, sementara bola tetap bergerak dengan tenang di tengah lapangan seolah tidak pernah tahu bahwa ia sedang dipaksa memikul beban peradaban.

Namun, mungkin dilema terbesar bukanlah memilih Spanyol atau Argentina. Dilema sesungguhnya adalah mengapa kita begitu mudah menghukum generasi hari ini atas dosa para leluhurnya, tetapi pada saat yang sama begitu mudah memaafkan kebijakan yang sedang berlangsung di depan mata.

Sejarah memang tidak boleh dilupakan, tetapi sejarah juga tidak boleh dijadikan penjara yang mengurung setiap generasi. Sebaliknya, politik kontemporer patut dinilai secara kritis tanpa menganggap seluruh warga negara memikul tanggung jawab yang sama atas setiap keputusan pemerintahnya.

Ironisnya, kita sering kali lebih bersemangat berdebat tentang siapa yang layak didukung di final Piala Dunia daripada memperjuangkan nilai-nilai yang kita yakini di luar stadion. Kita sibuk menentukan pilihan berdasarkan sejarah dan politik, tetapi lupa bahwa sepak bola tidak pernah menyelesaikan konflik, apalagi mengubah arah diplomasi dunia.

Mungkin karena itu, peluit akhir pertandingan hanyalah penutup sebuah laga, bukan penutup sejarah. Trofi akan berpindah tangan, rekor akan dipecahkan, dan generasi baru akan lahir dengan idola yang berbeda. Namun, luka Andalusia tetap menjadi pelajaran tentang bahaya intoleransi, sebagaimana penderitaan rakyat sipil di berbagai belahan dunia hari ini tetap menjadi ujian bagi nurani kemanusiaan.

Pada akhirnya, saya tidak ingin memilih berdasarkan dendam sejarah, tetapi juga tidak ingin kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia yang masih berlangsung. Jika sepak bola mengajarkan arti sportivitas, maka sejarah mengajarkan arti keadilan, dan kemanusiaan mengajarkan bahwa tidak ada kemenangan yang benar-benar layak dirayakan jika hati telah kehilangan empati.

Jadi, siapa yang harus saya dukung?

Mungkin bukan Spanyol. Mungkin bukan Argentina.

Yang layak didukung adalah kemenangan nurani atas fanatisme, kemenangan kemanusiaan atas kebencian, dan kemenangan akal sehat atas ingatan sejarah yang dipakai tanpa konteks.

Sebab pada akhirnya, piala hanya akan disimpan di museum. Tetapi cara kita membaca sejarah dan memihak pada kemanusiaan akan menjadi warisan yang jauh lebih panjang daripada sembilan puluh menit sebuah pertandingan.

Penulis Adalah : Dr. Buhari Fakkah Dosen UMS Rappang, Alumni HMI Cabang Makassar dan Instruktur NDPers Nasional.

Tags:

Berita HMI Hari IniBerita KAHMI Hari iniHMIHMI Cabang MakassarMakassarOpini Alumni HMIPB HMI
Author

Reporter HMI

Beritanya Anak HMI

Follow Me
Other Articles
Previous

KAHMI Jawa Barat di Persimpangan Jalan

Next

Buku “Masih Ada Jalan Lain (The Other Path)”- Hernando de Soto.

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — BERITA HMI. All rights reserved. Reporter HMI