Buku “Masih Ada Jalan Lain (The Other Path)”- Hernando de Soto.
Rekonstruksi Ekonomi Politik Sektor Informal dan Reformasi Institusional Dunia Ketiga
Buku klasik karya ekonom terkemuka asal Peru, Hernando de Soto, yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa Spanyol dengan judul El Otro Sendero: La Revolución Informal pada tahun 1986, merupakan salah satu karya paling monumental dalam studi ekonomi pembangunan akhir abad ke-20. Karya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Masri Maris dengan judul Masih Ada Jalan Lain: Revolusi Tersembunyi di Negara Dunia Ketiga dan diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Obor Indonesia pada rentang tahun 1991 hingga 1992. Buku setebal xxxviii + 344 halaman ini dilengkapi dengan kata pengantar dari pakar tata kota Indonesia, Prof. Hasan Poerbo, yang memberikan jembatan kontekstual antara realitas birokrasi di Peru dengan dinamika perkotaan di Indonesia. Melalui pendekatan empiris yang mendalam, buku ini membongkar mitos-mitos di sekitar sektor ekonomi informal dan mengidentifikasi kegagalan hukum sebagai akar penyebab kemiskinan di dunia ketiga.
| Parameter Bibliografis | Edisi Spanyol (Asli) | Edisi Inggris | Edisi Indonesia |
| Judul Utama | El Otro Sendero: La Revolución Informal | The Other Path: The Invisible Revolution in the Third World | Masih Ada Jalan Lain: Revolusi Tersembunyi di Negara Dunia Ketiga |
| Tahun Terbit | 1986 | 1989 / 1990 | 1991 / 1992 |
| Penerbit | Instituto Libertad y Democracia (ILD) | Harper & Row / Perseus Books | Yayasan Obor Indonesia |
| Penerjemah | Tidak ada | Tidak ada | Masri Maris |
| Kontributor Khusus | Tidak ada | Tidak ada | Prof. Hasan Poerbo (Kata Pengantar) |
Latar Belakang Sosio-Politik dan Genesis El Otro Sendero
Penulisan buku ini tidak terlepas dari situasi geopolitik dan domestik Peru yang sangat bergegolak pada dekade 1980-an. Negara tersebut sedang menghadapi ancaman disintegrasi sosial akibat terorisme bersenjata yang dilancarkan oleh kelompok gerilya Maois, Sendero Luminoso (Shining Path). Kelompok ini mengeksploitasi kemiskinan ekstrem dan marginalisasi para migran perdesaan yang membanjiri Lima setelah Perang Dunia II. Dalam situasi kritis ini, de Soto mendirikan Instituto Libertad y Democracia (ILD) pada tahun 1980 setelah menyaksikan maraknya penambang emas liar di wilayah Huaypetue, Peru Timur, yang membuktikan adanya aktivitas ekonomi raksasa yang berjalan sepenuhnya di luar radar hukum negara. Judul El Otro Sendero secara sengaja dipilih sebagai antitesis langsung terhadap ideologi kekerasan Shining Path, menawarkan jalan damai melalui kapitalisme inklusif dan pengakuan hak milik bagi kaum miskin.
Perspektif politik de Soto yang pragmatis namun kontroversial tercermin dari rekam jejaknya sebagai penasihat berbagai presiden dengan spektrum ideologi berbeda, mulai dari Alan García yang berhaluan kiri-tengah, Alberto Fujimori yang beraliran neoliberal, hingga Presiden Meksiko Vicente Fox. Posisi multi-partisan ini adakalanya dinilai mengaburkan konsistensi argumennya, terutama ketika ia terlibat dalam krisis nasionalisasi bank pada Juli 1987 di Peru. Ketika Presiden Alan García berupaya menasionalisasi bank swasta dengan dalih membantu kaum miskin, ILD bersama sastrawan Mario Vargas Llosa mengorganisasi protes massa berskala nasional. Dengan merujuk pada temuan The Other Path, mereka mendebat kebijakan tersebut dengan menunjukkan bahwa negara yang telah menguasai 80% sektor perbankan terbukti gagal menyalurkan kredit kepada rakyat kecil akibat belenggu birokrasi yang akut.
Anatomi Empiris Hambatan Birokrasi dan Biaya Transaksi
Pilar empiris buku ini ditopang oleh investigasi lapangan yang sangat detail terhadap tiga sektor informal utama di Lima, yaitu perumahan, perdagangan, dan transportasi. Di bawah tekanan migrasi masif, para migran mengembangkan sistem “hukum ekstralegal” yang otonom untuk merebut ruang hidup mereka karena sistem formal mendirikan tembok pembatas yang mustahil ditembus. Salah satu pembuktian paling terkenal dalam sejarah ekonomi pembangunan adalah eksperimen mendirikan pabrik garmen kecil dengan dua mesin jahit di pinggiran Lima yang dilakukan oleh para peneliti ILD pada tahun 1983. Eksperimen tersebut membongkar bahwa untuk mendapatkan izin usaha yang sepenuhnya legal dibutuhkan waktu selama 289 hari kerja dengan biaya yang setara dengan 31 hingga 32 kali upah minimum bulanan.
Ketidakmampuan sistem hukum formal juga ditunjukkan melalui simulasi pengurusan izin usaha lainnya. Untuk membuka sebuah toko roti sederhana secara legal, waktu yang dihabiskan mencapai 549 hari kerja penuh. Sementara itu, proses pelegalisasan kapal penangkap ikan membutuhkan waktu lebih dari tujuh bulan, dan proses akuisisi lahan perumahan bagi masyarakat miskin memakan waktu hingga hampir tujuh tahun. Hambatan ini diperparah oleh patologi birokrasi di mana 99% regulasi ekonomi di Peru dikeluarkan melalui dekrit atau instruksi menteri yang didorong oleh kelompok kepentingan tertentu tanpa melalui perdebatan parlemen, menyisakan hanya 1% hukum yang benar-benar didebatkan secara demokratis. Analisis terhadap 50 perusahaan manufaktur kecil membuktikan bahwa biaya untuk tetap berada di jalur formal mencapai 348% dari laba bersih setelah pajak, dengan rincian beban terbesar bukan pada pajak (22%) melainkan pada regulasi birokrasi dan ketenagakerjaan yang tidak realistis (73%).
| Jenis Aktivitas Usaha / Aset | Durasi Birokrasi (Hari/Tahun) | Estimasi Biaya Transaksi Resmi / Non-Resmi | Implikasi Terhadap Pelaku Sektor Informal |
| Pabrik Garmen Kecil | 289 hari kerja | 31-32 kali upah minimum bulanan; 10 permintaan suap (2 dibayar) | Memaksa wirausahawan mikro beroperasi tanpa izin legal |
| Toko Roti Sederhana | 549 hari kerja | Kepatuhan terhadap tata ruang formal dan persyaratan peralatan | Hambatan tinggi bagi industri makanan skala rumah tangga |
| Pelegalitasan Kapal Ikan | Lebih dari 7 bulan | Pengurusan izin berlayar dan registrasi armada perikanan | Nelayan tradisional tetap terisolasi dari pasar ekspor formal |
| Akuisisi Lahan Perumahan | Hampir 7 tahun (6 tahun 11 bulan) | Biaya administrasi tinggi untuk alokasi tanah negara | Mendorong pendudukan lahan ilegal (invasions) |
| Perusahaan Manufaktur Kecil (Bertahan) | Berkelanjutan | Biaya kepatuhan setara dengan 348% dari laba bersih setelah pajak | Mendorong perusahaan formal untuk kembali menjadi informal |
Formulasi Teoretis: Dikotomi Biaya Formalitas dan Ekonomi Ekstralegal
Melalui eksplorasi kasus di Peru, de Soto memformulasikan argumen bahwa pilihan untuk menjadi informal adalah keputusan ekonomi yang sangat rasional. Pelaku usaha secara konstan menimbang biaya formalitas terhadap manfaat yang didapatkan. Hambatan masuk yang tinggi membuat biaya formalitas jauh melampaui kapasitas ekonomi pelaku usaha mikro. Di sisi lain, beroperasi di sektor informal juga tidak bebas dari biaya. Biaya informalitas mencakup kerentanan terhadap penyitaan aset, ketiadaan perlindungan hukum atas kontrak dagang, ketidakmampuan menggunakan instrumen hukum liabilitas terbatas, serta ketidakmampuan menjaminkan aset rumah atau tanah karena ketiadaan sertifikat resmi. Aset-aset fisik yang tidak terdaftar ini didefinisikan sebagai “modal mati” (dead capital)—sebuah potensi ekonomi raksasa senilai triliunan dolar di seluruh dunia yang tidak dapat dilikuidasi menjadi kapital produktif.
| Aspek Analisis Ekonomi | Biaya Formalitas (Costs of Formality) | Biaya Informalitas (Costs of Informality) |
| Hambatan Masuk (Entry Barriers) | Biaya tinggi pengurusan dokumen, lisensi, dan sertifikasi awal. | Biaya suap oportunistik kepada aparat penegak hukum untuk menghindari razia. |
| Beban Pajak dan Regulasi | Pembayaran pajak penghasilan resmi dan pemenuhan regulasi ketenagakerjaan. | Ketiadaan perlindungan hak milik membuat aset menjadi modal mati (dead capital). |
| Skala Usaha dan Pembiayaan | Akses mudah ke pasar ekspor dan pembiayaan perbankan formal. | Pembatasan sengaja terhadap skala usaha agar tidak terdeteksi otoritas pajak. |
| Perlindungan Kontrak | Jaminan hukum liabilitas terbatas dan penyelesaian sengketa di pengadilan. | Sengketa diselesaikan secara kekerasan atau melalui mekanisme internal informal. |
Sebagai solusi atas kemacetan merkantilisme ini, de Soto mengajukan proposal debirokratisasi yang radikal. Ia merekomendasikan penggantian model regulasi preventif (ex-ante) yang padat dokumen administratif di awal proses dengan model pemantauan pasca-fakta (ex-post de facto monitoring). Reformasi ini menekankan pada pencapaian hasil akhir alih-alih pemenuhan prosedur formalitas kertas kerja. Dengan demikian, beban regulasi pada awal pendirian usaha dapat dipangkas secara signifikan tanpa mengorbankan fungsi pengawasan negara.
Relevansi Global dan Jejak Konseptual di Indonesia
Tesis de Soto dalam Masih Ada Jalan Lain memiliki pengaruh global yang sangat luas, menjadi cetak biru bagi lahirnya laporan tahunan Doing Business oleh Bank Dunia yang digagas oleh Joseph Stiglitz, Simeon Djankov, dan Andrei Shleifer. Di Peru sendiri, efektivitas rekomendasi ILD terbukti mampu memangkas waktu pengurusan izin pendirian pabrik garmen dari yang semula 289 hari menjadi hanya dalam waktu satu hari pada tahun 2002.
Di Indonesia, buku ini memicu diskusi mendalam di kalangan akademisi dan pengambil kebijakan karena kesamaan struktural birokrasi pasca-kolonial. Salah satu anekdot terkenal dalam buku berikutnya, The Mystery of Capital, menceritakan kunjungan de Soto ke Bali di mana ia mengamati bahwa batas-batas kepemilikan tanah pertanian yang tidak terdaftar secara formal diakui secara lokal melalui arah gonggongan anjing penjaga. Metafora “gonggongan anjing” ini digunakannya saat mempresentasikan gagasan kepada kabinet pemerintahan Indonesia di Jakarta untuk menjelaskan bahwa aturan ekstralegal yang hidup di tengah masyarakat harus diintegrasikan ke dalam hukum formal negara.
Implementasi praktis dari pemikiran ini terlihat jelas dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang gencar dijalankan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Program sertifikasi tanah massal ini secara eksplisit mengadopsi logika de Soto untuk mengonversi modal mati masyarakat kelas bawah menjadi modal hidup yang bankabel. Bahkan, kemiripan konseptual ini melahirkan perbandingan politis di mana capaian sertifikasi tanah era Presiden Joko Widodo yang melampaui 40 juta bidang tanah disejajarkan dengan keberhasilan de Soto melegalisasi 1,58 juta bidang tanah di Peru.
| Konsep Hernando de Soto | Manifestasi Kebijakan di Indonesia | Hasil dan Implikasi Praktis |
| Formalisasi Hak Milik | Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) | Sertifikasi tanah massal (mencapai lebih dari 40 juta bidang) untuk mengaktifkan modal mati. |
| Legitimasi Aturan Ekstralegal | Pengakuan hak ulayat dan batas tanah adat di daerah perdesaan | Integrasi pemetaan partisipatif masyarakat ke dalam peta pendaftaran tanah nasional. |
| Integrasi Sektor Informal | Penataan pedagang kaki lima dan koperasi pemulung Bandung | Model Pemanfaatan Bahan Terpadu (PBT) Hasan Poerbo untuk merangkul pemulung sampah secara produktif. |
Hasan Poerbo, dalam kata pengantarnya untuk edisi Indonesia, mengontekstualisasikan analisis sektor informal dengan realitas tata kota tanah air. Ia sebelumnya telah melakukan penelitian mendalam mengenai kelompok pemulung (tukang pungut sampah) di Bandung pada tahun 1985. Poerbo menunjukkan bahwa sektor informal seperti pemulung dapat diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan kebersihan kota melalui model Pemanfaatan Bahan Terpadu (PBT) yang berbasis koperasi, sebuah langkah nyata untuk memformalkan aktivitas ekonomi marjinal tanpa merusak tatanan sosial komunitas informal.
Dekonstruksi Kritis: Perdebatan Teoretis dan Batasan Metodologis
Meskipun memiliki pengaruh praktis yang luar biasa, buku ini memicu perdebatan akademis yang sengit. Kritik utama dialamatkan pada metodologi de Soto yang dianggap terlalu subjektif dan hanya mengandalkan referensi sumber yang terbatas untuk mendukung kesimpulan sejarah ekonominya yang menyamakan dunia ketiga dengan Eropa era merkantilisme. Para ekonom pembangunan dari mazhab strukturalis menolak pandangan romantis de Soto yang menyamakan semua pelaku sektor informal dengan wirausahawan pasar bebas yang potensial.
| Paradigma Pemikiran | Tokoh / Lembaga Utama | Cara Pandang Terhadap Sektor Informal | Solusi Kebijakan yang Ditawarkan |
| Mazhab Romantis (Institusionalis) | Hernando de Soto / ILD | Reservoir energi kewirausahaan yang terhambat regulasi negara. | Penyederhanaan birokrasi, formalisasi hak milik, dan jaminan kredit. |
| Mazhab Parasitis | McKinsey Global Institute | Unit usaha tidak produktif yang menghindari pajak dan merusak pasar formal. | Penertiban regulasi, penegakan hukum ketat, dan penghapusan sektor informal. |
| Mazhab Dualis (Strukturalis) | W. Arthur Lewis / Harris-Todaro | Produk sampingan dari kemiskinan dan keterbatasan lapangan kerja formal. | Pembangunan ekonomi makro untuk menyerap tenaga kerja ke sektor modern. |
Dari perspektif kritis, formalisasi hak milik tidak secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Kelemahan mendasar dari tesis de Soto adalah asumsi bahwa konversi “modal mati” menjadi sertifikat tanah legal akan secara otomatis memicu pertumbuhan ekonomi. Para kritikus berargumen bahwa tanpa peningkatan kualitas modal manusia (human capital)—seperti pendidikan, kesehatan, dan keterampilan teknis—sertifikat tanah sering kali tidak memadai untuk mengubah nasib ekonomi pemiliknya. Selain itu, sektor informal sering kali terjebak dalam produktivitas yang sangat rendah sehingga mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan formal yang jauh lebih efisien, terlepas dari kemudahan regulasi yang diberikan oleh pemerintah.
Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan
Buku Masih Ada Jalan Lain karya Hernando de Soto menawarkan kontribusi teoretis yang tak ternilai bagi pemahaman kita mengenai ekonomi politik pembangunan di negara dunia ketiga. Meskipun menghadapi berbagai kritik dari sisi metodologi dan penyederhanaan realitas produktivitas informal, buku ini tetap menjadi manifesto penting bagi reformasi institusional. Pelajaran berharga dari Peru menunjukkan bahwa reformasi hukum tidak boleh sekadar menyalin model negara maju secara kaku, melainkan harus mendengarkan dan melegitimasi norma-norma ekstralegal yang telah dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat kecil demi kelangsungan hidup mereka. Bagi Indonesia, karya ini terus menjadi pengingat bahwa jalan keluar dari kemiskinan struktural membutuhkan keberanian politik untuk meruntuhkan tembok birokrasi merkantilistik dan mewujudkan keadilan hukum bagi seluruh lapisan masyarakat.