AI Menggeser Peta Ekonomi, HMI Bulukumba Dorong Kader Siapkan Kemandirian Indonesia

0
AI

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa Makassar, Dr. Abdul Karim, S.E., M.M., menyampaikan materi “Ekonomi di Era AI: Tantangan dan Masa Depan Kemandirian Ekonomi Indonesia” dalam forum perkaderan HMI Cabang Bulukumba di SKB Bulukumba, Senin (31/8/2026), Senin (31/8/2026). Foto Ist

Beritahmi.com | Bulukumba—Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara dunia bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Perubahan tersebut dinilai tidak lagi sebatas persoalan teknologi, tetapi ikut menentukan produktivitas, masa depan tenaga kerja, hingga posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi global.

Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam forum perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulukumba, Senin (31/8).

Materi bertajuk “Ekonomi di Era AI: Tantangan dan Masa Depan Kemandirian Ekonomi Indonesia” disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa Makassar, Dr. Abdul Karim, S.E., M.M., di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba.

Dalam pemaparannya, Abdul Karim mengatakan perkembangan AI berpotensi mengubah struktur ekonomi secara signifikan.

Menurut dia, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar sekaligus pengguna teknologi, tetapi perlu membangun kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas nasional.

“AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan ekonomi, sumber daya manusia, produktivitas, dan kemandirian bangsa. Karena itu, generasi muda harus mampu memahami perubahan ini sekaligus menyiapkan kapasitas untuk menghadapinya,” kata Abdul Karim.

Menurut Abdul Karim, perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

Otomatisasi dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor, tetapi perkembangan tersebut juga berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja dan jenis pekerjaan tertentu.

Karena itu, kata dia, peningkatan keterampilan dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan ekonomi berbasis teknologi.

Pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian ekonomi.

Kemandirian ekonomi, menurut Abdul Karim, tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam.

Indonesia juga perlu memiliki kemampuan menghasilkan pengetahuan, mengembangkan inovasi, serta menguasai teknologi yang menjadi penggerak ekonomi masa depan.

“Generasi muda harus mampu memahami perubahan ini sekaligus menyiapkan kapasitas untuk menghadapinya,” ujarnya.

Forum perkaderan HMI Cabang Bulukumba kemudian diarahkan untuk melihat perkembangan AI dari perspektif yang lebih luas.

Bukan hanya bagaimana mahasiswa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat produktivitas dan kepentingan ekonomi masyarakat.

Dalam konteks itu, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis. Kader HMI tidak hanya dituntut mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu memahami dampaknya terhadap masyarakat, dunia kerja, pendidikan, dan kebijakan ekonomi.

Pembahasan tersebut sekaligus menempatkan AI sebagai bagian dari tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Penguasaan teknologi menjadi penting, tetapi tidak dapat dilepaskan dari kualitas manusia yang menggunakannya.

Bagi HMI, isu tersebut menjadi relevan dengan proses perkaderan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan kemampuan analitis dan tanggung jawab sosial.

Kader didorong untuk membaca perubahan zaman sekaligus merumuskan gagasan yang dapat menjawab persoalan masyarakat.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia di era AI bukan sekadar seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologi.

Persoalan yang lebih mendasar adalah siapa yang menguasai teknologi, untuk kepentingan siapa teknologi dikembangkan, dan sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Forum di SKB Bulukumba itu menjadi ruang bagi kader HMI untuk mendiskusikan pertanyaan tersebut sekaligus melihat kembali makna kemandirian ekonomi di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *