Dari Sultra untuk Indonesia, Muhammad Malik Al-Salam Tawarkan Gagasan Baru untuk HmI di Kongres XXXIII

0
IMG-20260818-WA0014

BERITAHMI.COM – Dinamika menuju Kongres XXXIII Himpunan mahasiswa Islam (HmI) di Lampung tahun 2026 mulai menghangat. Sejumlah kader dari berbagai penjuru Indonesia mulai menyatakan kesiapan untuk mengambil bagian dalam kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar (PB) Himpunan mahasiswa Islam (HmI).

Salah satu kader yang menyatakan kesiapannya adalah Muhammad Malik Al-Salam, kader HmI Cabang Kendari, Sulawesi Tenggara. Berangkat dari pengalaman kaderisasi, advokasi, dan instruktur, Malik menyatakan kesiapan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PB HmI periode mendatang.

Pemuda kelahiran Desa Maligano, Kabupaten Muna, 19 Februari 2001, tersebut membawa semangat kepemimpinan daerah dengan menawarkan gagasan untuk menjadikan HmI sebagai organisasi kader yang semakin relevan menghadapi perubahan zaman, inklusif dalam merangkul seluruh kader, kuat dalam tradisi intelektual, serta nyata dalam memberikan dampak bagi umat dan bangsa.

Bagi Malik, pencalonan ini bukan semata-mata tentang posisi kepemimpinan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghadirkan gagasan baru bagi perjalanan HmI. Ia ingin membawa pengalaman dan suara kader dari daerah ke ruang kepemimpinan nasional, sekaligus memastikan seluruh kader HmI di berbagai penjuru Indonesia memiliki ruang yang sama untuk tumbuh, berkontribusi, dan mengambil peran dalam menentukan arah organisasi.

Perjalanan akademik dan organisasi Muhammad Malik Al-Salam dibangun melalui proses yang panjang. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 6 Maligano pada 2013, kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Maligano dan lulus pada 2016. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMAN 1 Maligano hingga 2019. Setelah itu, Malik melanjutkan pendidikan tinggi di STIE Enam Enam Kendari pada 2020 dan berhasil menyelesaikan studi Strata 1 (S1) pada 2025.

Di HmI, perjalanan Malik ditempa melalui proses kaderisasi yang berjenjang. Ia mengikuti Basic Training (LK I) di HmI Komisariat FIB UHO pada 2021, kemudian melanjutkan Intermediate Training (LK II) di HmI Cabang Samarinda pada 2023. Proses kaderisasi formal tersebut kemudian disempurnakan melalui Advance Training (LK III) di Badko HmI Bali-Nusra pada 2025.

Tidak berhenti pada jenjang kaderisasi formal, Malik juga memperkuat kapasitas kepemimpinannya melalui berbagai proses pengembangan diri. Pada 2022, ia mengikuti Training Instruktur Dasar (TID) BPL HmI Cabang Kendari. Setahun kemudian, pada 2023, ia mengikuti Training Sekolah Advokasi (SETARA) yang diselenggarakan oleh Kohati Badko HmI Sultra.

Rangkaian proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk perspektif dan karakter kepemimpinannya. Pengalaman mengikuti proses kaderisasi di berbagai wilayah, mulai dari Sulawesi, Kalimantan, hingga Bali dan Nusa Tenggara, mempertemukannya dengan beragam karakter kader, tradisi intelektual, persoalan daerah, serta dinamika organisasi HmI di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi Malik, pengalaman tersebut bukan sekadar catatan perjalanan organisasi, melainkan modal untuk memahami bahwa HmI memiliki wajah yang sangat beragam. Kader HmI di pusat, kota-kota besar, maupun daerah memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, PB HMI ke depan harus mampu menjadi rumah besar yang mendengar, mengakomodasi, dan mengonsolidasikan seluruh potensi kader dari berbagai penjuru Indonesia.

Sebagai kader HmI Cabang Kendari, Malik tumbuh dalam lingkungan organisasi yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan sosial, pendidikan, kepemudaan, dan pembangunan daerah. Latar belakang tersebut membentuk keyakinannya bahwa daerah bukan sekadar tempat kader bertumbuh, tetapi juga sumber gagasan penting bagi masa depan HMI dan Indonesia.

Lahir dan besar di wilayah pesisir Kabupaten Muna membuat Malik memiliki kedekatan dengan realitas kehidupan masyarakat daerah. Ia melihat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi generasi muda di daerah, mulai dari keterbatasan akses pendidikan dan pengembangan kapasitas hingga minimnya ruang aktualisasi dan keterhubungan antara potensi pemuda daerah dengan agenda pembangunan nasional.

Pengalaman tersebut membuatnya meyakini bahwa HmI harus hadir lebih dekat dengan realitas sosial. HmI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang aktif dalam forum-forum internal, tetapi harus mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan ke dalam kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“HmI bukan sekadar organisasi tempat berkumpul, melainkan laboratorium pencetak pemimpin bangsa. Saya berangkat dari HmI Cabang Kendari dan membawa pengalaman daerah untuk menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun PB HmI yang lebih inklusif, responsif, intelektual, dan memberikan dampak nyata bagi umat dan bangsa,” ujar Malik.

Berangkat dari gagasan tersebut, Muhammad Malik Al-Salam menawarkan semangat perjuangan “Merawat Nilai, Menjawab Zaman.” Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh membuat HmI kehilangan identitas dan khitah perjuangannya. Sebaliknya, nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, independensi, dan tradisi kaderisasi harus menjadi fondasi untuk menjawab berbagai tantangan baru.

HmI harus mampu merawat nilai sekaligus memperbarui cara kerja. Kader tidak cukup hanya memahami sejarah dan tradisi organisasi, tetapi juga harus mampu membaca perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, dinamika geopolitik, krisis lingkungan, perkembangan demokrasi, serta berbagai persoalan sosial yang dihadapi generasi muda.

Karena itu, “Merawat Nilai, Menjawab Zaman” bukan sekadar slogan, tetapi menjadi semangat untuk membangun HmI yang tetap berakar pada nilai perjuangan sekaligus memiliki keberanian untuk beradaptasi dan berinovasi.

Malik memandang HmI harus memasuki fase baru sebagai organisasi kader yang mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan khitah perjuangannya. Di tengah perkembangan teknologi, transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan lanskap ekonomi, krisis lingkungan, serta dinamika sosial-politik yang semakin kompleks, HmI tidak boleh hanya menjadi penonton. HmI harus hadir sebagai kekuatan intelektual muda yang mampu membaca perubahan sekaligus menawarkan solusi.

Karena itu, HmI ke depan perlu membangun ekosistem kaderisasi yang lebih kuat dan relevan. Kader tidak cukup hanya dibekali pemahaman keislaman dan keorganisasian, tetapi juga perlu memiliki kemampuan riset, literasi digital, kepemimpinan, advokasi, kewirausahaan, komunikasi publik, serta kemampuan membaca persoalan strategis nasional dan global.

PB HmI juga harus mampu menghubungkan potensi kader dari berbagai daerah. Kader yang berada di wilayah terpencil maupun daerah yang jauh dari pusat kekuasaan tidak boleh merasa menjadi penonton dalam dinamika organisasi. Sebaliknya, daerah harus menjadi salah satu sumber utama gagasan dan energi baru bagi HmI.

Dalam pandangan Malik, PB HmI harus menjadi pusat orkestrasi gagasan dan gerakan kader. Artinya, PB HmI tidak hanya hadir dalam momentum-momentum organisasi, tetapi mampu membangun program yang berkelanjutan untuk mempertemukan potensi kader, cabang, badko, perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai elemen bangsa.

HmI juga perlu kembali memperkuat tradisi intelektual. Setiap kader harus didorong untuk membaca, menulis, berdiskusi, melakukan riset, dan menghasilkan gagasan. Dari tradisi intelektual itulah HMI dapat melahirkan rekomendasi kebijakan dan solusi konkret terhadap berbagai persoalan bangsa.

Pada saat yang sama, independensi HMI harus tetap menjadi prinsip utama. HmI harus mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok dan kekuatan bangsa tanpa kehilangan daya kritis serta keberpihakannya kepada kepentingan umat dan bangsa.

Bagi Malik, masa depan HmI harus dibangun melalui tiga kekuatan utama: kaderisasi yang kuat, tradisi intelektual yang hidup, dan gerakan yang berdampak. Kaderisasi menjadi fondasi untuk melahirkan manusia yang memiliki integritas dan karakter kepemimpinan. Tradisi intelektual menjadi energi untuk melahirkan gagasan dan solusi. Sementara gerakan sosial menjadi ruang pembuktian bahwa ilmu dan nilai perjuangan HmI benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Dari gagasan tersebut, Malik juga membawa semangat “HmI Relevan, Kader Berdampak.” HmI yang relevan adalah HmI yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Sementara kader yang berdampak adalah kader yang mampu menerjemahkan ilmu, nilai, dan pengalaman organisasinya menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Muhammad Malik Al-Salam meyakini bahwa kepemimpinan HMI ke depan harus mampu menyatukan kekuatan kader dari seluruh penjuru Indonesia. Perbedaan latar belakang, karakter cabang, kondisi daerah, maupun tradisi intelektual harus dipandang sebagai kekayaan organisasi, bukan sebagai sekat yang memisahkan.

“Dari Kendari, saya belajar bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari pusat. Banyak gagasan besar justru tumbuh dari daerah. Karena itu, saya ingin membawa semangat daerah menjadi bagian dari gerakan nasional HMI. Bukan untuk memisahkan daerah dan pusat, tetapi untuk menyatukannya dalam satu rumah besar HmI,” kata Malik.

Menurutnya, PB HmI harus mampu menciptakan ruang yang lebih luas bagi kader untuk tumbuh dan berkontribusi. Setiap kader harus merasa memiliki organisasi, sementara setiap cabang dan badko harus menjadi bagian penting dalam menentukan arah perjuangan HMI.

Kongres XXXIII HmI di Lampung diharapkan menjadi momentum konsolidasi sekaligus ruang pertarungan gagasan untuk menentukan masa depan organisasi.

Muhammad Malik Al-Salam menyatakan kesiapannya untuk mengambil bagian dalam momentum tersebut dengan membawa pengalaman dari HmI Cabang Kendari, semangat Sulawesi Tenggara, serta perspektif yang diperoleh dari perjalanan kaderisasinya di berbagai wilayah Indonesia.

Pencalonan tersebut, bagi Malik, bukan sekadar tentang siapa yang memimpin HmI, tetapi tentang ke mana HMI akan diarahkan dan seberapa besar kontribusinya bagi umat dan bangsa.

Dengan semangat “Merawat Nilai, Menjawab Zaman”, Malik ingin membawa HmI menjadi organisasi kader yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga mampu hadir sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang memberikan solusi bagi Indonesia.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *