Darurat Akhlak: Ketika SD Sudah Hisap Rokok dan Jadi Budak HP

BERITAHMI.COM – Hari ini, Kamis 23 Juli 2026, kita memperingati hari Anak Nasional. Hari anak kita yang masih bayi, usia dini, masuk TK, SD, SMP atau yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi.

Indonesia emas 2045 ada di tangan generasi anak-anak kita. Patut kita sambut penuh gegap gempita, menyiapkan generasi emas yang akan membawa bangsa ini lebih maju, berbudaya, dan bermartabat.

Di satu sisi, kita melihat prestasi gemilang anak bangsa. Namun, di sisi lain, kita tidak dapat menutup mata, krisis akhlak yang menimpa bocah-bocah ingusan. Mereka, di ruang-ruang publik, mempertontonkan dirinya mengisap rokok dengan penuh rasa bangga dan memesona.

Di sebuah SD, guru menemukan puntung rokok di laci kelas 5. Di sebuah SMP, wali kelas menyita HP. Ketika diperiksa, isinya begitu mengejutkan. Judi online, pornografi, dan prank durhaka ke orang tua. Di rumah, seorang ibu menangis karena anaknya jawab: “Urus saja hidupmu sendiri” ketika disuruh salat.

Berapa lama lagi kita mau pura-pura baik-baik saja? Ini bukan kenakalan, tapi pembusukan dan darurat akhlak.

Empat Luka yang Menganga

Pertama, generasi perokok sejak SD. Dulu rokok itu barang “orang dewasa”. Sekarang anak 10 tahun sudah minta ke warung. Dua ribu dapat satu atau dua batang. Murah, legal, dan membunuh. Kita sibuk melarang narkoba, tapi membiarkan pintu gerbangnya: nikotin.

Kedua, generasi budak algoritma. HP bukan lagi alat. Dia sudah jadi Tuhan baru. Anak-anak usia satu tahun, kalau mau tidak rewel, orangtuanya memanjakan dengan HP. Anak-anak begitu bangun tidur langsung pegang HP. Makan pegang HP. Salat ditunda karena “satu game lagi”. Otak anak dirusak dopamin gratis. Akibatnya: tidak fokus, emosional, malas berpikir, malas ibadah, malas membantu ibunya di rumah. Kalau disuruh, jawabannya, ” Tunggu”. Kita sedang mencetak manusia yang konsentrasi delapan detik.

Ketiga, generasi durhaka. Adab sudah mati. “Assalamualaikum” diganti “woy”. “Maafkan Ibu” dijawab “cerewet”. Guru yang dulu kita cium tangannya, sekarang direkam dan dibully. Karena di rumah tidak ada lagi teladan. Di sekolah tidak ada lagi keteladanan.

Keempat, generasi korban tren. Apa yang viral, itulah kebenaran. Tantangan minum alkohol diikuti. Joget vulgar diikuti. Kata-kata kasar diikuti. Tidak ada filter: “Ini halal atau haram? Apakah bermanfaat atau tidak?” Yang ada cuma: “For You Page (FYP) atau tidak?”

Jangan Salahkan Anak Saja. Salahkan Kita.

Orang tua sibuk bekerja, lalu menyerahkan pendidikan ke YouTube Kids. Kita marah anak main HP, padahal kita sendiri lima jam scroll TikTok di depannya.

Di sekolah, orangtua sibuk memaksa anak mengejar nilai harian, nilai ulangan, nilai ujian, tapi lupa mendidik adab. Satu guru BK untuk 500 siswa. Kurikulum karakter hanya jadi pajangan.

Sampai di sini, kita bertanya, bagaimana negara hadir? Di mana Kominfo? Di mana BPOM? Rokok eceran masih dijual ke anak. Game judi online masih bisa diakses. Konten rusak masih FYP. Regulasi ada, tapi tidak ada gigi.

Sementara produsen rokok, game, dan platform media sosial sedang pesta. Mereka dapat untung. Kita yang dapat bangkai generasi.

Dengan demikian, kita perlu mencari solusi alternatif meskipun itu menyakitkan dan tidak bernuansa romantis.

Negara harus menjadi polisi yang hidup, bukan polisi tidur. Tutup konten negatif. Larang jual rokok eceran ke anak. Hukum platform yang membiarkan konten merusak anak.

Tempat pendidikan formal maupun informal, sejatinya menjadi barak. Kumpulkan HP saat masuk kelas. Ada jam khusus pembinaan akhlak, bukan hanya matematika. Guru berhak mendidik dan mendisiplinkan. Bagi institusi pendidikan yang tidak memperkenankan siswa membawa HP ke sekolah, sungguh satu hal yang sangat membantu anak-anak agar bisa lebih fokus menimba adab dan ilmu. Orangtua juga tentu merasa lebih aman dan nyaman. Sebab, anak-anak kekinian, amat sulit diatur jadwal main HPnya.

Di rumah, orang tua harus menjadi singa dan macan. Ambil alih HP anak. Atur jam main. Ganti dengan ngobrol, ngaji, dan olahraga. Berani miskin waktu demi anak.

Karena perlu kita sadari bahwa anak yang tidak kita atur hari ini, akan mengatur bangsa 15 atau 20 tahun kemudian. Kalau hari ini SD sudah berani merokok, 10 tahun lagi dia akan berani korupsi.

Kalau hari ini SMP sudah berani membentak ibu, 10 tahun lagi dia akan berani membentak negara.

Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita sedang krisis orang berakhlak. Maka jangan pula bermimpi jika krisis akhlak bisa diselesaikan dengan seminar. Ia hanya bisa diselesaikan dengan air mata, keringat, dan ketegasan. Dengan begitu, jangan menunggu anak-anak kita hancur baru mau kita bergerak. Tanamkan integritas dan idealisme anak sejak dini, agar kelak, mereka menjadi manusia yang tidak pragmatis.

Selamat Hari Anak Nasional. Di pundak mereka, masa depan negeri ini. Didikan adab, akhlak, dan agama, menjadi pondasi awal dalam pembentukan karakter dan akhlak mereka.

Catatan Hari Anak Nasional

Penulis Adalah : Muliaty Mastura Yusuf Wakil Sekretaris KAHMI Sulsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *