HMI: “Yatim Piatu” yang Tak Bisa Dipungut NU dan Muhammadiyah

0
1001485763

BERITAHMI.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki posisi yang unik dalam sejarah gerakan Islam Indonesia. Ia lahir bukan sebagai organisasi yang berada di bawah struktur organisasi keagamaan tertentu, melainkan sebagai organisasi kemahasiswaan yang memiliki identitas, tradisi intelektual, dan independensi sendiri.

Dalam konteks ini, HMI dapat disebut sebagai “yatim piatu” secara organisatoris. Bukan karena kehilangan induk, tetapi karena sejak awal HMI tidak dirancang untuk menjadi bagian struktural dari organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah.

NU dan Muhammadiyah memiliki tradisi, basis sosial, serta orientasi kelembagaan masing-masing. Sementara HMI tumbuh di ruang kemahasiswaan dengan misi yang lebih luas: membentuk insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Karena itu, hubungan HMI dengan NU maupun Muhammadiyah lebih tepat dipahami sebagai relasi kultural dan intelektual, bukan hubungan subordinatif. Kader HMI dapat berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan tradisi keislaman. Keragaman tersebut justru menjadi salah satu kekuatan HMI dalam membangun tradisi dialog, intelektualisme, dan kebangsaan.

Maka, “HMI tidak bisa dipungut oleh NU dan Muhammadiyah” bukanlah ungkapan tentang keterasingan, melainkan penegasan tentang independensi. HMI memiliki rumah ideologis dan organisatorisnya sendiri.

Justru karena tidak menjadi milik salah satu kelompok, HMI mempunyai ruang untuk berdialog dengan banyak kekuatan sosial-keagamaan tanpa kehilangan identitasnya. Di situlah relevansi HMI: berakar pada Islam, tumbuh dalam tradisi intelektual, dan berdiri untuk kepentingan kebangsaan.

HMI bukan anak organisasi NU. Bukan pula anak organisasi Muhammadiyah. HMI adalah bagian dari sejarah panjang umat Islam dan bangsa Indonesia yang memilih jalan independen untuk mendidik generasi muda menjadi intelektual sekaligus kader umat dan bangsa.

Penulis Adalah : Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos. Alumni HMI Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *