BERITAHMI.COM – Di sebuah stadion yang bergemuruh, jutaan pasang mata bersorak menyebut nama Lamine Yamal. Di setiap golnya, dunia bertepuk tangan. Di setiap dribelnya, sejarah seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan lahirnya seorang bintang. Namun, hanya sedikit yang mendengar suara lain—suara yang datang dari dinding-dinding tua Alhambra, dari lengkungan Masjid Cordoba, dari batu-batu Granada yang telah lama kehilangan gema azan.
Barangkali batu-batu itu sedang menangis.
Mereka pernah menyaksikan umat yang membangun peradaban dengan tinta sebelum pedang, dengan ilmu sebelum kekuasaan, dengan akhlak sebelum kejayaan. Dari tanah itu lahir para ilmuwan yang mengajari dunia membaca langit, mengobati penyakit, menyusun filsafat, mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, dan menerangi Eropa ketika sebagian besar dunia masih bergulat dengan kegelapan intelektual. Andalusia bukan sekadar wilayah. Ia adalah bukti bahwa ketika tauhid bersanding dengan ilmu, sejarah dapat ditulis dengan cahaya.
Kini cahaya itu tinggal pantulan.
Ironi terbesar bukanlah karena seorang anak berseragam Spanyol menjadi kebanggaan dunia. Seorang atlet berhak mengukir prestasinya di mana pun ia berada. Ironi yang sesungguhnya adalah ketika umat Islam lebih bersemangat merayakan kemenangan di stadion daripada bertanya mengapa kejayaan ilmu, kepemimpinan, dan peradaban yang dahulu mereka warisi kini nyaris tak terdengar.
Kita hafal skor pertandingan, tetapi lupa tanggal jatuhnya Granada. Kita mengenal susunan pemain final, tetapi tidak mengenal nama-nama Ibnu Rusyd, Az-Zahrawi, Ibnu Hazm, Abbas bin Firnas, dan para ulama yang menjadikan Cordoba sebagai mercusuar ilmu dunia. Kita menangis karena kekalahan tim favorit, tetapi hampir tak pernah menangis karena runtuhnya tradisi ilmu yang dahulu mengangkat martabat umat.
Betapa anehnya zaman.
Dulu, Eropa belajar kepada Andalusia. Hari ini, banyak umat Islam belajar mencintai sejarahnya sendiri melalui siaran olahraga. Dulu, masjid-masjid melahirkan ilmuwan, pemikir, dan negarawan. Kini, sebagian dari kita lebih sibuk memperdebatkan perkara-perkara kecil yang memecah belah daripada membangun sekolah, laboratorium, perpustakaan, pusat riset, dan peradaban ilmu yang melahirkan generasi pembaru.
Andalusia tidak mati ketika benteng Granada jatuh pada tahun 1492. Andalusia mati jauh sebelumnya, ketika persatuan berubah menjadi perebutan kekuasaan, ketika ilmu mulai ditinggalkan, ketika kemewahan mengalahkan perjuangan, dan ketika umat kehilangan orientasi peradabannya. Musuh memang datang dari luar, tetapi keruntuhan selalu dimulai dari dalam.
Bukankah itu cermin yang sedang berdiri di hadapan kita hari ini?
Kita memiliki lebih dari satu miliar umat. Masjid berdiri megah di mana-mana. Azan berkumandang lima kali sehari. Namun, mengapa nama-nama universitas Islam jarang memimpin riset dunia? Mengapa negeri-negeri Muslim lebih banyak menjadi pasar teknologi daripada pencipta teknologi? Mengapa kita lebih sering menjadi konsumen peradaban daripada produsen peradaban?
Lamine Yamal hanyalah cermin.
Cermin tidak pernah bersalah atas wajah yang dipantulkannya. Yang seharusnya membuat kita gelisah adalah bayangan kita sendiri. Mengapa umat yang dahulu menjadi guru peradaban kini lebih sering menjadi penonton? Mengapa kita begitu bangga mengenang Ibnu Rusyd, tetapi enggan melahirkan penerusnya? Mengapa kita terus memuliakan sejarah, tetapi malas menciptakan sejarah?
Barangkali Alhambra tidak sedang runtuh. Yang runtuh adalah kesadaran kita. Barangkali Masjid Cordoba tidak benar-benar sunyi.
Yang sunyi adalah nurani umat yang lebih mudah bersorak ketika bola menembus gawang daripada ketika ilmu menembus kebodohan. Kita menghabiskan malam untuk menyaksikan pertandingan selama sembilan puluh menit, tetapi merasa berat meluangkan waktu untuk membaca beberapa halaman buku. Kita rela membeli atribut klub kebanggaan, tetapi enggan berinvestasi pada perpustakaan, beasiswa, atau penelitian yang akan mengangkat martabat umat.
Sejarah tidak meminta kita menangisi Andalusia. Sejarah meminta kita belajar darinya. Sebab, sebuah peradaban tidak hancur ketika musuh datang dari luar. Ia hancur ketika penghuni rumah berhenti menjaga api yang meneranginya.
Di tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap gol, sejarah tetap berbicara dengan bahasa yang berbeda. Ia tidak bertanya siapa yang menjadi juara. Ia bertanya, mengapa umat yang dahulu mengajarkan dunia membaca kini lebih sibuk menjadi penonton sejarah daripada penulis sejarah.
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
«”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).»
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan hukum sejarah. Tidak ada peradaban yang bangkit hanya dengan air mata. Tidak ada kejayaan yang kembali hanya dengan nostalgia. Tidak ada kemenangan yang diwariskan kepada umat yang puas hidup dari cerita masa lalu, tetapi enggan bekerja untuk masa depan.
Andalusia tidak meminta kita menangisinya. Cordoba tidak meminta kita memusuhi siapa pun. Granada tidak meminta kita membenci generasi hari ini. Mereka hanya mengajukan satu pertanyaan yang terus menggema melintasi abad:
“Apakah kalian masih layak menjadi pewaris peradaban yang pernah membimbing dunia?”
Jika jawabannya ya, maka buktinya bukan dengan sorak-sorai di tribun stadion. Buktinya adalah membangun universitas yang melahirkan ilmuwan, masjid yang melahirkan ulama yang berilmu dan berakhlak, keluarga yang melahirkan generasi pencinta Al-Qur’an, masyarakat yang menjadikan kejujuran sebagai budaya, serta pemimpin yang menjadikan keadilan sebagai jalan hidup.
Sebab, kejayaan Islam tidak pernah dibangun oleh mereka yang hanya mengagumi masa lalu. Kejayaan dibangun oleh mereka yang menjadikan masa lalu sebagai amanah untuk melahirkan masa depan.
Maka, ketika dunia bersorak menyaksikan Lamine Yamal mengangkat trofi bersama Spanyol, biarlah umat Islam tidak sekadar ikut bersorak. Jadikan momen itu sebagai cermin untuk bertanya kepada diri sendiri: kapan kita akan kembali mengangkat panji ilmu, akhlak, dan peradaban sebagaimana dahulu Andalusia mengangkatnya?
Karena sesungguhnya, yang benar-benar terkoyak bukanlah Andalusia. Yang terkoyak adalah kesadaran umat untuk menjadi khairu ummah—umat terbaik yang memimpin dunia dengan iman, ilmu, amal, dan akhlak.
Dan apabila kesadaran itu kembali, maka Andalusia tidak akan sekadar hidup sebagai nama dalam buku sejarah. Ia akan lahir kembali dalam bentuk yang lebih agung: bukan sebagai sebuah wilayah, melainkan sebagai peradaban yang hidup di dada setiap Muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, ilmu sebagai jalan, dan kemuliaan akhlak sebagai tujuan.
Penulis Adalah : Dr. Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang Dan Instruktur NDPers Nasional.