MEMBANGUN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN UNTUK KEADILAN EKOLOGIS

0
Kohati

Nurul Fakhira, peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba, Kamis (3/9/2026). Foto Ist

KETIKA PEREMPUAN, TUHAN, DAN BUMI DIPERINTAHKAN UNTUK SALING MENJAGA

Beritahmi.com | Bulukumba—Krisis iklim hari ini bukan sekadar soal cuaca yang tidak menentu. Ia adalah krisis relasi. Relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan alam, dan relasi manusia dengan sesama.

Selama ini kita diajarkan bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama. Tapi dalam kenyataannya, beban paling berat selalu jatuh ke pundak perempuan.

Ketika sumur kering karena pertambangan, perempuan yang berjalan 3 km untuk menimba air.

Ketika banjir merendam rumah, perempuan yang menyelamatkan anak, dokumen, dan dapur.

Ketika hutan adat digusur untuk sawit, perempuan di desa yang kehilangan kebun obat, sumber pangan, dan ruang aman.

Artinya, kerusakan lingkungan tidak netral gender. Ia memukul paling keras pada kelompok yang paling rentan. Dan di Indonesia, kelompok itu seringnya adalah perempuan.

Dari sinilah lahir dua pisau analisis penting: Ekoteologi dan Ekofeminisme.

Ekoteologi mengajak kita kembali ke makna awal: bahwa alam adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup. Bumi, air, hutan, laut bukan “sumber daya” yang boleh dihabisi. Ia adalah amanah.

Merusak alam sama dengan mengkhianati amanah sang Pencipta.

Dalam Islam kita diajarkan manusia adalah khalifah fil ardh. Khalifah bukan penakluk. Khalifah adalah pemakmur, penjaga, dan pelayan.

Ekofeminisme melengkapi dengan kritik sosial. Ekofeminisme mengatakan: logika yang menindas perempuan adalah logika yang sama yang menindas alam.

Sama-sama dianggap “lemah” lalu dikuasai.

Sama-sama dianggap “objek” lalu dieksploitasi.

Sama-sama disuruh diam ketika haknya dirampas.

Dulu tubuh perempuan dikontrol atas nama budaya. Hari ini tubuh bumi dikeruk atas nama pembangunan.

Dulu suara perempuan dibungkam atas nama “kodrat”. Hari ini suara sungai, gunung, dan hutan juga dibungkam atas nama “investasi”.

Karena itu jelas: tidak akan ada keadilan ekologis tanpa keadilan gender. Dan tidak akan ada keadilan gender tanpa keadilan ekologis. Keduanya satu paket.

MENGAPA HARUS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN?

Kepemimpinan di sini bukan sekadar soal “ada perempuan di kursi pimpinan”. Tapi soal cara memimpin dan nilai apa yang dibawa.

1. Karena Perempuan Memiliki Pengetahuan Hidup yang Berakar di Tanah

Perempuan desa tahu kapan musim tanam bergeser karena iklim. Perempuan pesisir tahu kapan ikan mulai langka karena abrasi. Perempuan kota tahu bagaimana sampah rumah tangga menumpuk.

Pengetahuan ini tidak diajarkan di kelas, tapi diwariskan dari dapur ke dapur, dari kebun ke kebun. Inilah “ilmu lokal” yang sangat dibutuhkan untuk membuat kebijakan lingkungan yang tidak gagal di lapangan.

2. Karena Perempuan Membawa Etika Merawat, Bukan Mengeksploitasi

Model kepemimpinan lama sering diukur dari seberapa besar bisa menaklukkan. Menaklukkan pasar, menaklukkan sumber daya, menaklukkan alam.

Kepemimpinan ekoteologi yang dibawa perempuan justru bertanya: apakah keputusan ini membuat bumi dan anak cucu kita lebih baik 20 tahun ke depan?

Ini etika merawat. Etika keberlanjutan. Etika yang kita butuhkan untuk keluar dari krisis iklim.

3. Karena Iman Menuntut Tanggung Jawab, Bukan Pembenaran

Ekoteologi mengingatkan kita: setiap botol plastik yang kita buang, setiap pohon yang kita tebang, setiap sungai yang kita cemari akan dimintai pertanggungjawaban.

Perempuan yang memimpin dengan kesadaran spiritual ini tidak akan memimpin untuk mengejar keuntungan sesaat. Ia akan memimpin untuk menjaga titipan.

4. Karena Tanpa Perempuan, Kebijakan Lingkungan Akan Timpang

Selama ini meja perumusan kebijakan iklim, tata ruang, dan energi masih didominasi satu suara. Hasilnya, kebijakan sering tidak menyentuh persoalan paling dasar: air bersih, sanitasi, kesehatan reproduksi saat bencana, dan keamanan perempuan di kamp pengungsian.

Kehadiran perempuan di ruang keputusan memastikan bahwa kebijakan tidak hanya “hijau”, tapi juga “adil”.

TANTANGAN YANG HARUS DILAWAN

1. Stereotip Gender: “Lingkungan itu urusan teknis, biar laki-laki”. “Perempuan cukup di rumah”. Padahal keduanya harus jalan bareng.

2. Akses Terbatas: Perempuan minim akses modal, lahan, dan pendidikan lingkungan. Padahal mereka yang paling tahu masalahnya.

3. Kekerasan Struktural: Aktivis perempuan lingkungan sering dikriminalisasi saat menolak tambang atau pabrik. Suaranya dianggap “mengganggu pembangunan”.

Selama 3 hal ini tidak dibongkar, maka slogan “pembangunan berkelanjutan” hanya akan jadi slogan.

ARAH GERAK: DARI WACANA KE TINDAKAN

Membangun kepemimpinan perempuan untuk keadilan ekologis berarti 3 hal:

1. Menyekolahkan: Memberi ruang perempuan belajar ekologi, hukum lingkungan, dan kepemimpinan.

2. Menyuarakan: Membuka panggung agar perempuan bisa menyampaikan data, pengalaman, dan solusi.

3. Memutuskan: Menempatkan perempuan di posisi yang benar-benar bisa membuat kebijakan.

PENEGASAN AKHIR

Keadilan ekologis tidak akan lahir dari tangan yang serakah. Ia akan lahir dari tangan yang merawat.

Dan sejarah panjang sudah membuktikan, tangan yang paling sabar merawat adalah tangan perempuan.

Membangun kepemimpinan perempuan bukan agenda “perempuan saja”.

Ini adalah agenda kemanusiaan. Agenda keimanan. Agenda keberlangsungan bumi.

Karena menyelamatkan bumi tanpa melibatkan perempuan, sama seperti menanam pohon tapi menolak menyiramnya. Pohon itu akan mati.

Penulis: Nama : Nurul Fakhira

Komisariat : Al-Gazali Bulukumba

Cabang : Bulukumba

Peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *