Meneladani Nabi Muhammad SAW Dalam Membangun Jiwa Islam yang Toleran, Amanah dan Antikorupsi

0
1001461509

BERITAHMI.COM – Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat manusia. Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, di wilayah Jazirah Arab, pada Tahun Gajah, yang secara umum diperkirakan sekitar 570–571 Masehi. Dalam tradisi umat Islam, kelahiran beliau banyak diperingati pada 12 Rabiul Awal, meskipun para ahli sejarah memiliki beberapa pendapat mengenai tanggal persis kelahirannya.

Nabi Muhammad SAW lahir dari keluarga Quraisy, salah satu kabilah terpandang di Makkah. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum Nabi Muhammad lahir. Ibunya, Aminah binti Wahab, kemudian wafat ketika Muhammad masih berusia sekitar enam tahun. Sejak kecil, beliau telah mengalami kehidupan yang tidak mudah sebagai seorang yatim piatu.

Kondisi Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi

Masyarakat Arab pada masa sebelum datangnya Islam sering disebut berada dalam masa Jahiliyyah. Istilah jahiliyyah tidak tepat apabila hanya diterjemahkan sebagai masyarakat yang “bodoh” dalam arti tidak memiliki kemampuan berpikir atau tidak memiliki kebudayaan.

Bangsa Arab ketika itu justru mempunyai kemampuan tinggi dalam perdagangan, sastra, syair, hafalan, dan hubungan antarkabilah. Makkah bahkan menjadi salah satu pusat perdagangan penting karena letaknya berada di jalur perdagang antara wilayah selatan dan utara Jazirah Arab. Namun, persoalan utamanya terletak pada kehidupan sosial, moral, hukum, dan keagamaan yang banyak mengalami penyimpangan.

Masyarakat hidup dalam struktur kesukuan yang sangat kuat. Kesetiaan terhadap kabilah sering ditempatkan di atas kebenaran dan keadilan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan antarsuku yang berlangsung bertahun-tahun. Hukum belum mampu memberikan perlindungan yang sama kepada semua orang. Mereka yang memiliki kekuatan, kekayaan, dan kedudukan sering lebih mudah memperoleh perlindungan dibandingkan kelompok lemah.

Perbudakan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Orang miskin dan budak mempunyai posisi sosial yang rendah. Perempuan juga belum mendapatkan kedudukan sebagaimana yang kemudian diperjuangkan Islam. Bahkan dalam sebagian kelompok masyarakat terdapat praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap membawa aib atau menjadi beban keluarga.

Dalam bidang keagamaan, masyarakat Arab sebenarnya mengenal Allah sebagai Tuhan, tetapi banyak di antara mereka telah melakukan penyembahan terhadap berhala. Di sekitar Ka’bah terdapat berbagai berhala yang dijadikan objek pemujaan oleh kelompok-kelompok masyarakat.

Selain itu, praktik ekonomi yang tidak adil, eksploitasi kelompok lemah, riba, perjudian, minuman keras, serta berbagai bentuk perilaku yang merusak kehidupan sosial juga berkembang.

Inilah sebabnya periode tersebut disebut masa jahiliyyah: *bukan semata-mata karena masyarakatnya tidak memiliki kecerdasan, melainkan karena nilai keadilan, kemanusiaan, moralitas, dan tanggung jawab sosial belum menjadi dasar utama kehidupan bersama.*

Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Membawa Perubahan Besar Peradaban

Kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Lebih dari itu, kelahiran beliau membawa pesan besar tentang perubahan manusia dan peradaban: dari ketidakadilan menuju keadilan, dari kebencian menuju persaudaraan, serta dari perilaku yang mengutamakan kepentingan pribadi menuju kehidupan yang menjunjung amanah dan tanggung jawab.

Salah satu keteladanan utama Nabi Muhammad SAW adalah sikap *toleran*. Nabi mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling membenci. Dalam masyarakat yang majemuk, beliau membangun kehidupan bersama dengan menghormati kelompok yang berbeda agama, suku, dan latar belakang. Prinsip ini sangat relevan dengan Indonesia yang berdiri di atas keberagaman dan dipersatukan oleh Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Menjadi Muslim yang baik karena itu tidak cukup hanya dengan rajin menjalankan ibadah ritual. Nilai Islam juga harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama. Seorang Muslim harus mampu menghormati perbedaan, menjaga kedamaian, menolak kekerasan, serta ikut memelihara persatuan bangsa. Keislaman dan keindonesiaan tidak perlu dipertentangkan. Nilai-nilai luhur Islam justru dapat menjadi kekuatan moral dalam menjaga Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Keteladanan lainnya adalah amanah. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Amanah berarti menjalankan tanggung jawab dengan jujur, tidak berkhianat, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Nilai amanah inilah yang harus menjadi dasar dalam melawan korupsi. Korupsi pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan. Uang negara adalah uang rakyat. Jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, ataupun kelompok. Karena itu, perilaku koruptif jelas bertentangan dengan nilai kejujuran, keadilan, dan amanah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Semangat memperingati kelahiran Nabi seharusnya tidak berhenti pada acara seremonial, lantunan selawat, atau ceramah. Peringatan itu harus melahirkan perubahan sikap.

Apakah kita semakin jujur? Apakah kita semakin dapat dipercaya? Apakah kita semakin menghargai perbedaan? Apakah kita berani menolak korupsi meskipun ada kesempatan untuk melakukannya?

Di tengah berbagai persoalan bangsa, Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang beragama sekaligus berintegritas. Kita membutuhkan pemimpin yang amanah, aparatur yang jujur, masyarakat yang toleran, serta generasi muda yang berani mengatakan bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah salah.

Inilah salah satu makna penting meneladani kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan berbangsa hari ini: membangun jiwa Islam yang damai, toleran, jujur, amanah, dan antikorupsi, sekaligus memperkokoh Indonesia sebagai negara Pancasila.

Mencintai Nabi bukan hanya dengan mengucapkan selawat, tetapi juga dengan menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan nyata. Jika kejujuran menjadi budaya, amanah menjadi karakter, toleransi menjadi sikap, dan korupsi menjadi sesuatu yang kita lawan bersama, maka nilai-nilai yang dibawa Rasulullah benar-benar hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Islam memberi kekuatan moral, Pancasila mempersatukan keberagaman, dan kejujuran menjadi fondasi untuk membangun Indonesia yang adil, bermartabat, dan sejahtera._

MARI KITA PERINGATI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW, SEBAGAI NABI TERAKHIR UMAT MANUSIA.

Cibubur, 24 Agustus 2026

Penulis Adalah :Chazali H. Situmorang  Dosen FISIP UNAS/Pemerhati Kebijakan Publik dan Alumni HMI Cabang Medan.

 

Silahkan di share jika berkenan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *