Pendidikan Dikejar Zaman, HMI Dorong Reformulasi Sistem agar Tak Tertinggal

0
Pendidikan

REFORMULASI PENDIDIKAN: Andi Buyung Saputra, S.STP., M.M., menyampaikan materi “Reformulasi Sistem Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Kemoderenan” dalam forum Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Bulukumba di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba, Senin (31/8/2026). Foto Ist

Beritahmi.com | Bulukumba—Sistem pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah perubahan teknologi dan transformasi sosial yang bergerak cepat.

Pendidikan dinilai tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang kritis, adaptif, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Bulukumba, Senin (31/8).

Forum yang mengangkat tema besar “Kepemimpinan Profetik HMI Pilar Indonesia Emas 2045” itu berlangsung di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba, Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 41.

Salah satu materi yang dibahas ialah “Reformulasi Sistem Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Kemoderenan” yang disampaikan Andi Buyung Saputra, S.STP., M.M. dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba.

Dalam forum yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WITA tersebut, peserta diajak melihat pendidikan sebagai sebuah sistem yang harus terus beradaptasi dengan perubahan.

Modernisasi, menurut perspektif yang dibahas dalam forum, bukan hanya mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, tetapi juga memengaruhi pola belajar, bekerja, berinteraksi, hingga kebutuhan kompetensi.

“Pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi pada pembentukan manusia. Reformulasi diperlukan agar sistem pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masyarakat,” ujar Andi Buyung Saputra.

Bukan Sekadar Ganti Kurikulum

Andi Buyung menilai reformulasi pendidikan tidak dapat dipersempit hanya pada perubahan kurikulum. Ada sejumlah aspek yang ikut menentukan kualitas sistem pendidikan, mulai dari kapasitas tenaga pendidik, metode pembelajaran, pemanfaatan teknologi, pemerataan akses, hingga kemampuan lembaga pendidikan membaca kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Perubahan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi berkembang pesat. Akses terhadap informasi kini semakin terbuka, tetapi kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

Karena itu, pendidikan dituntut melahirkan manusia yang tidak sekadar menjadi pengguna teknologi. Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, berinovasi, menciptakan solusi, serta membaca persoalan yang muncul di lingkungan sosialnya.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai kelompok intelektual yang dapat memberikan gagasan dan ikut mengawal arah kebijakan pendidikan.

“Mahasiswa harus menjadi bagian dari proses reformulasi pendidikan. Kader HMI tidak cukup hanya memahami persoalan pendidikan, tetapi harus mampu membaca perubahan, menawarkan gagasan, dan memastikan modernisasi pendidikan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat,” kata Andi Buyung.

HMI dan Tantangan Pendidikan

Pembahasan reformulasi pendidikan memiliki kaitan erat dengan proses perkaderan HMI. Pendidikan dalam konteks tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga menyentuh pembentukan kesadaran, karakter, kapasitas berpikir, dan tanggung jawab sosial.

Kader HMI didorong untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih kritis. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana sistem pendidikan dibuat lebih modern, tetapi juga untuk siapa modernisasi tersebut dijalankan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.

Modernisasi pendidikan juga menyimpan tantangan. Jika tidak diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia, perkembangan teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan akses dan kualitas pendidikan.

Karena itu, reformulasi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Teknologi perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai tujuan akhir pendidikan.

Bagi HMI Cabang Bulukumba, isu tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan kader menghadapi Indonesia menuju 2045.

Kaderisasi diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami perubahan, tetapi juga memiliki keberanian menawarkan gagasan dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Forum di SKB Bulukumba itu pada akhirnya membuka ruang refleksi mengenai arah pendidikan Indonesia di tengah arus kemodernan.

Tantangannya bukan sekadar membuat pendidikan semakin modern, melainkan memastikan modernisasi tetap menghasilkan manusia yang berpengetahuan, kritis, berkarakter, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *