UMKM Daerah dan MBG: Momentum Ekonomi Lokal dan Transisi Generasi
BERITAHMI.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semestinya hanya dipandang sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Jika dikelola dengan baik, MBG dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi daerah, memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, sekaligus mempercepat proses transisi generasi dalam dunia usaha.
Di berbagai daerah, pertumbuhan UMKM menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang ekonomi secara mandiri. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dihubungkan dengan program pemerintah sehingga manfaat pembangunan tidak berhenti pada penerima program, tetapi juga mengalir kepada petani, nelayan, peternak, pedagang, pengolah makanan, pelaku logistik, hingga usaha mikro di tingkat desa.
MBG dan Rantai Ekonomi Lokal
Kebutuhan bahan pangan dalam program MBG pada dasarnya menciptakan permintaan yang besar dan relatif berkelanjutan. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi UMKM lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok.
Sayuran dapat diperoleh dari petani setempat, telur dari peternak daerah, ikan dari nelayan, beras dari penggilingan lokal, sementara kebutuhan pengolahan dan distribusi dapat melibatkan pelaku usaha di sekitar wilayah pelaksanaan MBG.
Dengan pola seperti ini, uang yang berasal dari program pemerintah dapat berputar lebih lama di daerah. Inilah yang membuat MBG memiliki dimensi ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar penyediaan makanan.
Namun, peluang tersebut harus diikuti tata kelola yang transparan, standar kualitas yang jelas, harga yang wajar, serta mekanisme pengadaan yang memberikan ruang bagi UMKM lokal. Jangan sampai program besar justru hanya dinikmati oleh pelaku usaha berskala besar sementara UMKM daerah hanya menjadi penonton.
Momentum Transisi Generasi
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu transisi generasi UMKM.
Banyak usaha keluarga saat ini berada pada fase peralihan dari generasi pertama kepada generasi berikutnya. Generasi muda, termasuk Gen Z, memiliki karakter berbeda. Mereka lebih dekat dengan teknologi digital, media sosial, pemasaran berbasis konten, pembayaran digital, serta model bisnis yang lebih kreatif.
MBG dapat menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman generasi lama dengan inovasi generasi baru.
Generasi sebelumnya memiliki pengetahuan mengenai produksi, jaringan pemasok, dan karakter pasar lokal. Sementara generasi muda dapat membawa kemampuan digitalisasi, pencatatan keuangan, branding, pemasaran digital, dan inovasi produk.
Jika kedua kekuatan tersebut dipadukan, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi dapat naik kelas.
Pemerintah Daerah Harus Menjadi Penghubung
Pemerintah daerah memiliki posisi strategis untuk memastikan peluang tersebut benar-benar menjadi manfaat ekonomi masyarakat.
Pendataan UMKM, pelatihan standar keamanan pangan, fasilitasi sertifikasi, akses pembiayaan, digitalisasi usaha, hingga pendampingan manajemen harus dilakukan secara terintegrasi.
Perbankan dan lembaga keuangan daerah juga dapat mengambil peran melalui pembiayaan yang sehat dan pendampingan usaha. UMKM yang mendapatkan akses pasar tetapi tidak memiliki modal kerja akan kesulitan memenuhi permintaan. Sebaliknya, UMKM yang mendapatkan pembiayaan tanpa pasar juga menghadapi risiko.
Karena itu, pendekatannya harus pasar terlebih dahulu, kemudian pembiayaan dan penguatan kapasitas.
Jangan Sekadar Menjadi Vendor
Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan UMKM hanya sebagai vendor pelengkap.
UMKM seharusnya diposisikan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Artinya, mereka memiliki kesempatan untuk berkembang dari usaha mikro menjadi usaha kecil dan menengah, meningkatkan kualitas produksi, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja baru.
Keberhasilan MBG di daerah tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak porsi makanan yang tersalurkan. Keberhasilannya juga dapat dilihat dari berapa banyak petani yang mendapatkan pasar, berapa banyak UMKM yang tumbuh, berapa banyak tenaga kerja yang terserap, dan seberapa besar perputaran ekonomi yang terjadi di daerah.
Menuju Ekonomi Lokal yang Berkelanjutan
MBG seharusnya menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Pemerintah pusat menyediakan program, pemerintah daerah membangun ekosistem, dunia usaha menyediakan kapasitas, lembaga keuangan mendukung pembiayaan, dan generasi muda menghadirkan inovasi.
Jika seluruh unsur tersebut bergerak bersama, MBG dapat menjadi lebih dari sekadar program sosial. Ia dapat menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah, ketahanan pangan, pertumbuhan UMKM, dan regenerasi pelaku ekonomi daerah.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi daerah bukan hanya tentang mendatangkan investasi besar. Pembangunan juga tentang memastikan bahwa masyarakat lokal memiliki kesempatan untuk menjadi pelaku utama.
UMKM daerah harus tumbuh bersama MBG, bukan sekadar menjadi penonton. Dan generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya sebagai penerus usaha, tetapi sebagai pencipta ekonomi baru di daerahnya.
Penulis Adalah : Jagul Abadi Tanjung, Praktisi Hukum dan Mantum HMI Cabang Labuhanbatu Raya Periode 2017-2018
