Skip to content
-
Kirim Opini dan Berita ke : beritahmi1946@gmail.com
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

BERITA HMI BERITA HMI

Yakin Usaha Sampai

  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Peristiwa
  • Resensi Buku
Subscribe
Close

Search

Opini

Lamine Yamal dan Lionel Messi: Sang Bara Melawan Apinya

18 Juli 2026 3 Min Read
0

BERITAHMI.COM- Ada kalanya sejarah tidak ditulis oleh pena, melainkan oleh sebuah foto. Foto yang pada awalnya tampak biasa, bahkan terlupakan. Namun, ketika waktu menyelesaikan pekerjaannya, foto itu berubah menjadi metafora yang menggetarkan.

Tahun 2007. Seorang pemuda bernama Lionel Messi menggendong dan memandikan seorang bayi dalam sebuah sesi pemotretan amal. Tak seorang pun membayangkan bahwa bayi itu kelak bernama Lamine Yamal, anak yang akan tumbuh menjadi salah satu talenta paling cemerlang dalam sepak bola dunia. Saat itu, Messi bukan sekadar memandikan seorang bayi. Tanpa disadari, sejarah sedang memperlihatkan sebuah simbol: api yang menghangatkan bara sebelum bara itu menemukan nyalanya sendiri.

Api memang selalu melahirkan bara. Bara tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari panas yang lebih dahulu menyala. Begitulah Lionel Messi. Selama lebih dari dua dekade ia menjadi api yang menerangi dunia sepak bola. Kaki kirinya menghapus batas antara kenyataan dan keajaiban. Ia bukan sekadar pemain hebat, melainkan sebuah zaman yang membuat jutaan anak bermimpi mengenakan sepatu bola.

Lamine Yamal adalah salah satu anak zaman itu. Ia tumbuh ketika dunia memanggil Messi sebagai yang terbaik. Generasinya belajar mencintai sepak bola melalui permainan sang maestro. Maka, jika hari ini Yamal berdiri sebagai bintang baru, sesungguhnya ia tidak lahir untuk menjadi bayang-bayang Messi. Ia lahir sebagai bara yang telah cukup panas untuk mencari langitnya sendiri.

Betapa ironisnya perjalanan waktu. Dulu tangan Messi menopang tubuh Yamal agar tidak tenggelam di dalam bak mandi. Kini, mungkin di panggung final Piala Dunia, kaki Yamal justru akan menguji apakah Messi masih mampu berdiri sebagai raja. Dulu Messi menjaga seorang bayi agar tetap tersenyum. Kini bayi itu telah tumbuh menjadi pemuda yang bisa membuat sang legenda menangis atau tersenyum, tergantung ke mana arah sejarah berpihak.

Inilah cara waktu bekerja. Ia tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia mengubah bayi menjadi penantang, murid menjadi pesaing, dan pengagum menjadi lawan. Tidak ada penghinaan di dalamnya. Tidak ada pengkhianatan. Yang ada hanyalah estafet kehidupan yang terus bergerak dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Namun, pertandingan itu bukanlah tentang siapa yang lebih besar. Ia adalah dialog antara masa lalu dan masa depan. Messi adalah api yang telah membakar dunia dengan kejeniusannya. Yamal adalah bara yang mulai memancarkan cahaya. Api tidak perlu iri kepada bara, sebab ia tahu bahwa setiap bara adalah bukti bahwa nyalanya pernah memberi kehidupan. Sebaliknya, bara tidak boleh sombong kepada api, sebab tanpa api ia tak pernah mengenal panas.

Di situlah sepak bola berubah menjadi pelajaran kehidupan. Setiap manusia pernah digendong oleh generasi sebelumnya. Setiap pemimpin pernah dibimbing oleh orang yang lebih dahulu berjalan. Setiap guru akan menyaksikan muridnya melampaui dirinya. Itulah hukum kehidupan yang tidak pernah bisa dihentikan.

Apabila kelak Lionel Messi dan Lamine Yamal benar-benar berdiri berhadapan di final Piala Dunia, sesungguhnya yang sedang disaksikan dunia bukan sekadar Argentina melawan Spanyol. Dunia sedang menyaksikan sebuah lingkaran sejarah yang nyaris mustahil ditulis oleh imajinasi manusia. Seorang lelaki yang pernah menggendong dan memandikan seorang bayi kini harus mempertaruhkan mahkotanya di hadapan bayi yang sama, yang telah menjelma menjadi bintang.

Barangkali inilah pesan paling indah dari sepak bola: kejayaan bukanlah tentang mempertahankan cahaya untuk diri sendiri, melainkan tentang melahirkan cahaya berikutnya. Sebab setiap api pada akhirnya akan menjadi abu. Tetapi selama masih ada bara yang diwariskan, nyala itu tidak pernah benar-benar padam.

Dan mungkin, ketika peluit panjang nanti berbunyi, dunia akan mengingat satu hal yang melampaui skor dan trofi: bahwa sejarah pernah mempertemukan seorang legenda dengan bayi yang digendongnya sendiri, lalu waktu mengubah keduanya menjadi dua matahari yang saling menyinari langit sepak bola. Sang bara akhirnya berdiri tegak di hadapan apinya sendiri.

Penulis Adalah : Dr. Buhari Fakkah Dosen UMS Rappang, Instruktur NDPers Nasional

Tags:

Berita HMI Hari IniBerita KAHMI Hari iniHMIHMI Cabang MakassarOpini Alumni HMIPB HMI
Author

Reporter HMI

Beritanya Anak HMI

Follow Me
Other Articles
Previous

Tragedi KM Nurul Salsa Ungkap Lemahnya Kesiapsiagaan Maritim Selayar, HMI YPUP Desak Pemda Perkuat SAR di Wilayah Kepulauan

Next

Sidogiri: Membangun Koperasi Menjadi Korporasi

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — BERITA HMI. All rights reserved. Reporter HMI