Merenda Jalan Panjang Ke Washington-DC 2026
BERITAHMI.COM – Pada bulan Mei riset kami berdua bersama isteri Ninasapti Triaswati diterima oleh Panitia konferensi. Dengan diterima itu, maka ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Kami bergegas untuk menyelesaikan 2 pekerjaan baru, yaitu makalah full paper dan power points untuk presentasinya. Keduanya kami kirim segera ke panitia. Beberapa hari kemudian undangan yang ditunggu dari World Bank baru kami terima diawal Juli. Tentu saja di bulan Juli adalah hari-hari paling padat dengan macam-macam kesibukan. Plus tambahan kesibukan dengan persiapan teknis keberangkatan urusan tiket, penginapan, surat izin atasan, dan lainnya. Visa US alhamdulillah kami diberi visa panjang untuk 5 tahun ke depan oleh US Embassy di Jakarta sejak tahun 2025.
Pilihan tiket itu mau pilih lewat mana? Sudah biasa kami berdua suka pilih lewat Dubai atau Abu Dhabi. Selain karena tiket lebih murah, transit sekali, dan waktu tempuh lebih pendek. Juga karena pesawat Emirates yang ke Washington DC itu jenis Airbus 380 dengan 800 penumpang adalah jenis pesawat berbadan lebar paling besar di dunia. Pesawat ini jarang penuh, sehingga kami bisa tidur sepanjang perjalanan. Namun pilihan lewat Timur Tengah itu bermasalah dan berisiko di tengah deru perang. Tentu yang paling ditakutkan adalah rudal nyasar. Akhirnya pilihan jatuh lewat Hongkong atau Jepang. Maka kami putuskan lewat Jepang menggunakan All Nippon Airlines (ANA) via Tokyo, New York, dan tujuan akhir di Washington DC. Perjalanan panjang selama 28 jam dengan transit dua kali di Tokyo dan New York.
Pada malam pertama kami tiba Senin 13 Juli, jam 21.30. Kami dijemput di Bandara Dulles dan di antar sampai ke Wisma Indonesia, KBRI di kawasan Tilden Northwest, DC. Kami selama di Washington akan menginap s/d 18 Juli. Di Wisma ini isteri saya ketemu sahabat lamanya Ibu Dr. Nining Sri Astuti, sesama dosen FEB-UI. Ngobrol ngalor-ngidul sampai tengah malam jam 1.00 dini hari. Ibu Nining adalah isteri Bapak Dr. Endroyono Soesilo (Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat & Menko di era pertama Presiden Joko Widodo. Juga Ibu Nining adalah kakak (Mbak Yu) dari Ibu Sri Mulyani Indrawati (Mantan Menteri Keuangan). Salah satu dari 10 bersaudara pasangan keluarga Prof. Satmoko dengan Prof. Retro Sriningsih (Guru Besar UNNES Semarang).
Rencana perjalanan kami ke US ini dua belas hari. Selama 5 hari kami stay di Washington DC. Dengan acara konferensi internasional di World Bank Headquarter pada 15 dan 16 Juli. Pada 18 Juli kami berencana terbang ke Hartford, Connecticut dan jalan darat ke Cambridge, Massachusetts dengan bermalam 5 malam. Dari Hartford kami harus kembali dan menginap semalam di Washington dekat Bandara Dulles. Karena dari situ berangkat untuk penerbangan pulang ke Indonesia.
Setelah semua urusan teknis keberangkatan beres. Ternyata masih ada banyak hal kecil yang harus diurus dan selesai sebelum berangkat. Mulai dari tagihan makalah dari saya untuk bukunya Pak Hasto Kristiyanto; juga Rabu dan Kamis ada bimbingan; Jumat 10/7 dan Sabtu 11/7 nguji disertasi tertutup. Sehingga kami perlu menggeser semua urusan keberangkatan pada hari Minggu 12/7. Semua harus selesai di hari terakhir sebelum berangkat, mulai beli oleh-oleh ke Tanah Abang, urus roaming HP, dan packing barang. Ternyata masih ada juga yang sudah direncanakan, tetapi tidak sempat dikerjakan, karena sempitnya waktu, yaitu potong rambut dan pijet urut. Sebab potong rambut di US itu sekitar Rp. 1.5 juta.
Minggu 12/7 siang jam 13.00 saya masih harus hadir ke undangan para sahabat aktifis FORBES-NU 1926. Saya dipanel dengan Greg Fealy (Professor dari Australian National University (ANU), Canberra dan Dr. Robi Sugara (Ketua Prodi Hubungan Internasional UIN Jakarta). Diskusi panjang dan baru selesai pada jam 16.30. Diskusi menyambut Muktamar NU ke 35, para aktivis FORBES-NU telah 3 kali menyelenggarakan diskusi panel, yaitu di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo, Universitas Terbuka (UT) di Tangerang Selatan, dan kemarin itu adalah yang ketiga. Untuk diskusi panel yang ke-4, insyAllah akan diselenggarakan lagi di Jakarta.
Pada Senin 13/7 pagi jam 3.00 dini hari, kami berdua bergegas ke Bandara. Karena pesawat ANA yang akan kami tumpangi berangkat jam 7.00 pagi. Semoga perjalanan ini mudah, aman, lancar, sukses, dan selamat. Amin.
Washington DC 14 Juli 2026
HSG
Penulis Adalah : A. Hanief Saha Ghafur, Guru Besar pada Program Doktor Kajian Stratejik dan Global (S3 KSG), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Universitas Indonesia dan Juga Alumni.